Labura, PRESTASIREFORMASI.COM – Masyarakat di kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) tidak terlalu terperanjat mengetahui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beraksi di kantor Bupati Labura Khairuddin Syah Sitorus, Selasa (14/7/2020).

Laporan wartawan PRESTASIREFORMASI.COM dari Labura menyebut, karena sebelumnya juga Bupati Khairuddin Syah Sitoru tersebut sudah gencar diberitakan atas dugaan tindak pidana korupsi, bahkan Polda Sumatera Utara sudah menetapkannya menjadi tersangka.

Bedanya, hanya saja pada hari Selasa tersebut KPK turun langsung ke kantor Bupati dan mengamankan sejumlah dokumen yang berhubungan dengan tindak pidana korupsi serta beberapa barang bukti elektronik. Penggeledahan itu terkait pengembangan kasus mafia anggaran yang menjerat Yaya Purnomo.

Bahkan turunnya KPK serta menggeledah kantor Bupati Labura, videonya juga sudah tayang di sejumlah media sosial, seperti facebook misalnya. Berikut linknya: https://www.facebook.com/112298993616983/posts/176802020500013/?sfnsn=wiwspwa&extid=znol3nN6O3qQNOI9&d=w&vh=e

“Tim penyidik KPK sedang melakukan tahap pengumpulan alat bukti terkait penyidikan yang dilakukan KPK atas pengembangan perkara atas nama terpidana Yaya Purnomo,” kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Selain kantor Bupati Labuhanbatu Utara, KPK juga menggeledah sebuah rumah milik pihak swasta berinisial MI di Kisaran, Kabupaten Asahan. Ali mengatakan dalam penggeledahan itu, KPK mengamankan sejumlah dokumen terkait perkara tersebut.

“Dari kegiatan ini diamankan sejumlah dokumen yang berhubungan dengan tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan penyidikan saat ini dan sejumlah barang bukti elektronik. Berikutnya penyidik KPK akan segera melakukan penyitaan setelah mendapatkan izin sita kepada Dewas KPK,” tuturnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (14/7/2020) menggeledah dan mengamankan sejumlah dokumen dari kantor Bupati Labuhanbatu Utara. (kolase: hps)

Namun, Ali belum menjelaskan lebih jauh apakah ada pihak-pihak yang ditetapkan sebagai tersangka dalam pengembangan perkara Yaya Purnomo ini.

Ia mengaku belum bicara banyak karena adanya kebijakan baru Pimpinan KPK saat ini. Menurutnya, penetapan tersangka akan dilakukan bersamaan dengan penangkapan dan penahanan.

Seperti diketahui, nama Bupati Labuhanbatu Utara, Khairuddin Syah Sitorus disebut dalam dakwaan Yaya Purnomo. Dalam dakwaan itu, Kharuddin disebut memberikan gratifikasi senilai Rp 400 juta dan SGD 290 ribu kepada Yaya Purnomo terkait DAK Labuhanbatu Utara 2018.

Yaya Purnomo yang merupakan pejabat di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) divonis 6,5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 1 bulan kurungan.

Yaya terbukti bersalah berkongkalikong dengan mantan anggota DPR Amin Santono agar Kabupaten Lampung Tengah mendapatkan alokasi tambahan anggaran dari APBN tahun 2018.

Selain itu, Yaya terbukti menerima gratifikasi berupa uang seluruhnya Rp 6,5 miliar, USD 53 ribu, dan SGD 325 ribu, yang tidak berhubungan dengan jabatan dan yang berlawanan dengan kewajibannya atau tugasnya. Penerimaan itu berkaitan dengan jasa Yaya yang menjanjikan delapan daerah mendapatkan alokasi anggaran di DAK dan DID APBN tahun 2018.

Delapan daerah itu adalah Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Kampar, Kota Dumai, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kota Balikpapan, Kabupaten Karimun, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Tabanan.

KPK terus mengembangkan kasus tersebut. Hingga kini sudah ada sejumlah pihak yang dijerat sebagai tersangka dan bahkan juga sudah divonis bersalah, salah satunya eks Anggota DPR Sukiman. (h/saipul)

BACA JUGA:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *