
Samosir, PRi.com
Harapan warga Dusun III Siborong-borong, Desa Onanrunggu, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir untuk menikmati aliran air bersih ke rumah-rumah mereka harus kandas di tengah jalan. Jaringan pipa air sepanjang kurang lebih 140 meter yang dipasang secara swadaya oleh masyarakat sejak awal April 2026 hingga kini belum mampu mengalirkan air ke permukiman warga.
Kondisi tersebut memunculkan kekecewaan masyarakat terhadap hasil survei lapangan yang sebelumnya dilakukan pihak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Tata Ruang (Tarukim) Kabupaten Samosir bersama seorang konsultan lapangan.
Warga menilai, sebelum pekerjaan dilakukan, mereka telah memperoleh keyakinan dari hasil survei bahwa air dari bak penampungan terakhir atau reservoir masih memungkinkan untuk dialirkan menuju rumah warga yang berada di dataran lebih tinggi menggunakan pipa ukuran 2 inci.
Salah seorang warga, Jefri Butarbutar bersama sejumlah warga lainnya, kepada wartawan menjelaskan bahwa kebutuhan pemasangan jaringan pipa itu berangkat dari kesulitan masyarakat memperoleh air bersih selama ini.
Menurutnya, posisi rumah warga yang berada di kawasan lebih tinggi membuat distribusi air menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan.
“Orang dinas bermarga Pandiangan bersama yang katanya konsultan dari Dinas Tarukim Samosir datang langsung melakukan pengecekan ke lokasi. Waktu itu mereka menyampaikan air masih bisa naik ke atas menuju rumah warga,” ujar Jefri.
Berangkat dari hasil survei tersebut, masyarakat kemudian bergerak secara swadaya. Karena keterbatasan dana, warga meminta bantuan kepada anak-anak rantau asal kampung untuk mendukung pengadaan material pipa paralon.
Permintaan itu mendapat respons positif dari seorang perantau yang akhirnya membantu biaya pembelian pipa demi mendukung kebutuhan air bersih masyarakat.
“Karena percaya dengan hasil survei itu, kami berani meminta bantuan kepada anak rantau. Kami yakin pekerjaan ini bisa berhasil,” kata Jefri.
Namun setelah seluruh jaringan pipa selesai dipasang, air yang diharapkan mengalir ke rumah-rumah warga ternyata tidak mampu naik ke titik permukiman.
Warga yang tidak ingin menyerah kemudian kembali mengumpulkan biaya tambahan untuk membeli satu unit mesin pompa air. Harapannya, pompa tersebut dapat membantu mendorong tekanan air menuju rumah warga.
Sayangnya, upaya tambahan itu pun tidak membuahkan hasil. Meski mesin pompa telah dipasang, air tetap tidak mampu mengalir secara maksimal.
“Sudah kami tambah pompa pun tetap tidak sampai ke rumah warga. Kami sangat kecewa karena sebelumnya sudah diyakinkan bisa,” ucapnya.
Akibat kegagalan tersebut, Jefri mengaku ikut menanggung kekecewaan dari pihak perantau yang telah membantu pembelian pipa.
“Anak rantau yang membantu akhirnya kecewa kepada saya karena proyek ini gagal. Padahal kami bergerak karena percaya dengan hasil survei dari pihak dinas dan konsultan,” ungkapnya.
Warga menilai persoalan ini seharusnya dapat diantisipasi sejak awal apabila dilakukan kajian teknis secara matang terkait elevasi, tekanan air, jarak tempuh aliran, hingga kapasitas debit air dari reservoir.
Masyarakat juga mempertanyakan profesionalitas survei lapangan yang dilakukan, terlebih karena proses tersebut disebut melibatkan pihak konsultan teknis.
“Kalau memang secara teknis tidak memungkinkan, seharusnya dari awal disampaikan dengan jujur kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat sudah keluar biaya, tenaga, dan harapan besar, tetapi akhirnya gagal,” ujar Jefri.
Meski demikian, pihak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Tata Ruang Kabupaten Samosir akhirnya memberikan tanggapan atas keluhan warga tersebut.
Saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp, Pandiangan dari pihak dinas menyampaikan bahwa pekerjaan telah dilaksanakan sesuai kondisi lapangan, namun hasilnya memang belum berhasil.
“Kami sudah melaksanakan sesuai keadaan lapangan, tetapi gagal,” jelasnya singkat.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah melaporkan persoalan tersebut kepada pimpinan dinas sebagai bahan tindak lanjut.
“Rencana tindak lanjut, saya sudah menghadap pimpinan dinas untuk dimasukkan ke P-APBD 2026 nanti,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sedikit memberi harapan baru bagi warga yang selama ini masih kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Namun masyarakat berharap rencana tindak lanjut itu benar-benar direalisasikan dan bukan sekadar janji tanpa kepastian.
Bagi warga Dusun III Siborong-borong, kebutuhan air bersih bukan sekadar persoalan pembangunan biasa, melainkan kebutuhan dasar yang menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah perbukitan tersebut. ( Hot)






