
Samosir, PRi.com
Pagi baru saja merekah di tepian Danau Toba ketika perjalanan panjang itu dimulai dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, Minggu (17/5/2026).
Langit masih diselimuti hawa sejuk pegunungan. Cahaya mentari pagi perlahan jatuh di atas permukaan danau yang membiru tenang, menghadirkan panorama alam yang memukau mata sekaligus menenangkan hati.
Di tengah suasana pagi yang damai itu, Staf Redaksi Prestasi Reformasi bersama Pemimpin Redaksi Sinar24jam.com memulai perjalanan menuju Kota Pematangsiantar guna menghadiri acara adat penghiburan keluarga di Jalan Asahan.
Perjalanan dilakukan menggunakan kapal kayu menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun.
Sepanjang perjalanan menyeberangi Danau Toba, suasana terasa begitu syahdu. Riak air bergerak perlahan diterpa angin pagi, sementara perbukitan hijau yang mengelilingi danau berdiri megah seolah mengiringi perjalanan dengan ketenangan alam yang khas.
Sesampainya di Dermaga Tigaras, suasana pelabuhan masih tampak lengang. Aktivitas masyarakat belum begitu ramai. Beberapa kapal terlihat bersandar tenang di tepian dermaga, sementara udara pagi yang dingin masih terasa menyelimuti kawasan pelabuhan.
Keheningan pagi di Tigaras menghadirkan suasana yang menenangkan sebelum rombongan melanjutkan perjalanan darat menggunakan kendaraan roda dua menuju Pematangsiantar.
Meski menempuh perjalanan cukup jauh dari Pulau Samosir, rombongan akhirnya tiba tepat waktu untuk menghadiri prosesi adat terakhir pemberangkatan keluarga dari Pemimpin Redaksi Sinar24jam.com.
Dalam prosesi adat yang berlangsung penuh haru dan penghormatan, dilaksanakan pemberian ulos tudung sebagai simbol kasih, penghormatan, serta penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kehadiran rombongan dari Samosir menjadi penguat tersendiri bagi pihak keluarga. Suasana kekeluargaan begitu terasa ketika kerabat dan sahabat berkumpul memberi dukungan di tengah suasana duka.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang menempuh jarak dari Samosir ke Pematangsiantar, tetapi juga tentang menjaga persaudaraan, adat, dan rasa hormat kepada keluarga,” ujar salah seorang keluarga di lokasi acara.
Perjalanan pagi itu menjadi gambaran bahwa di balik indahnya panorama Danau Toba, masyarakat Batak masih memegang teguh nilai kebersamaan dan adat istiadat yang diwariskan leluhur.
Sebab dalam budaya Batak, hadir di tengah keluarga yang berduka bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk penghormatan terakhir yang lahir dari ikatan persaudaraan yang tulus dan tidak lekang oleh waktu. ( Hots)





