Bom Bunuh di Mapolresta Medan, Guncang Ketenteraman Masyarakat

Pelaku dari Jual Bakso hingga Ojek Online
Foto Urutan kronologis dugaan bunuh diri di Markas Polresta Medan, Rabu (13/11/2019) pukul 08.45.

Medan, PRi.Com – Tepat pukul 09.00 WIB pagi, publik Kota Medan dan masyarakat se-Indonesia, spontan merasa terguncang dan heboh dengan tersiarnya berita tentang ledakan bom bunuh diri di di Markas Polisi Resort Kota Medan, Kampung Durian, Rabu (13/11/2019) pada jam 08.45 pagi.

Ketika suasana agak mulai kondusif, usai Pilpres 17 April 2019 yang lalu, namun kejadian ledakan bom yang diduga bunuh diri di markas kepolisian, sontak menghentak dan mengusik ketenteraman masyarakat.

Karena bom terjadi di Markas kepolisian, para korban berjumlah enam orang segera ditangani dan identitas terduga pelaku bom bunuh diri pun tak berapa lama sudah terungkap. Terduga pelaku yang diduga bom bunuh diri bernama Rabbial Muslim Nasution (RMN).

Informasi yang diterima, Rabu (13/11/2019), Rabbial merupakan pria kelahiran 11 Agustus 1995. Berdasarkan data yang diungkap oleh aparat, pelaku berstatus sebagai pelajar/mahasiswa.

Rabbial tewas dalam ledakan tersebut. Belum diketahui jenis bom dan motif Rabbial meledakkan diri di Polrestabes Medan.

Namun yang membuat masyarakat kota Medan terkejut, pelaku mengenakan atribut ojek online. Polrestabes Medan masih dijaga ketat usai ledakan.

Pelaku memasuki Polres Kota Medan dengan berpakaian ojek online. (Dok)

Korban Ledakan 6 Orang

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Wakapolda Sumut) Brigjen Pol Mardiaz Kusin mengatakan, korban ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Jalan HM Said, ada enam orang.

“Ada enam orang, terdiri dari empat orang polisi, satu pekerja harian lepas di Polrestabes Medan dan satu lagi warga. Namun, mereka semua hanya mengalami luka-luka ringan,” kata Mardiaz kepada awak media, Rabu (13/11).

Mardiaz melanjutkan, setelah dilakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terdapat bahan-bahan peledak, seperti penampang, paku, dan yang lainnya.

Terkait dengan pelaku, Mardiaz tidak bisa memastikan, apakah pelaku merupakan pekerja ojek online (ojol), Mardiaz menyampaikan, pihaknya masih terus melakukan pendalaman.

Suasana Markas Polresta Medan sesaat setelah ledakan yang diduga bom bunuh diri. (Dok)

“Ia menggunakan jaket ojek online, tapi kita belum bisa memastikan,” sambungnya.

Enam korban tersebut, di antaranya Kompol Abdul Mutolip, Kasi Propam Polrestabes Medan mengalami luka tangan kanan robek, Kompol Sarponi KasubBag Bin Ops Polrestabes Medan mengalami luka robek bokong sebelah kanan.

Aipda Deni Hamdani Brigadir Si Propam Polrestabes Medan mengalami luka-luka terkena serpihan, Bripka Juli Chandra Brigadir Si Propam Polrestabes Medan mengalami telinga sebelah kanan tidak bisa mendengar.

Ricard Purba merupakan pekerja harian lepas Bag Ops mengalami luka memar di wajah dan lengan, dan warga bernama Ihsan Mulyadi Siregar, Mahasiswa, tampat tinggal Jalan Bakti, Suka Dono, Dusun IV, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, mengalami luka di pinggul sebelah kiri terkena serpihan.

Tubuh pelaku yang diduga bom bunuh diri hancur (dok)

Gojek Kutuk Keras Pelaku Gunakan Seragam Ojol

Pelaku diduga bom bunuh diri yang terjadi di  Mapolrestabes Medan, Jalan HM Said, dilakukan seorang pria mengenkan seragam ojek online (ojol).

Terkait hal tersebut, pihak Gojek angkat bicara. Vice President of Corporate Communications Gojek, Kristy Nelwan mengatakan, mereka mengutuk keras aksi teror yang terjadi di Polrestabes Medan, dan berduka cita atas jatuhnya korban.

“Kami tidak dapat berkomentar mengenai atribut terduga pelaku. Kami telah menghubungi dan berkoordinasi dengan pihak berwajib, serta siap memberikan seluruh bantuan dan dukungan yang diperlukan untuk proses investigasi,” kata Kristy dalam keterangan resmi seperti dilansir Analisadaily.com, Rabu (13/11).

Kristy juga mengatakan, pihaknya menentang keras segala tindakan anarkis dan akan memberikan dukungan penuh upaya pihak berwajib dalam menjaga keamanan masyarakat.

“Kami mengutuk aksi teror yang terjadi di Polrestabes Medan, dan berduka cita atas jatuhnya korban,” ucapnya.

Identitas pelaku yang diduga bom bunuh diri. (dok)

Kejadian diduga bom bunuh diri tersebut terjadi sekitar pukul 08.45 WIB. Peristiwa tersebut terjadi setelah personel usai melaksanakan apel pagi.

Informasi diperoleh, pelaku dinyatakan meninggal dunia dengan tubuh hancur. Saat ini sedang dilaksanakan pengamanan dan penyelidikan.

Pelaku Bekerja dari Jual bakso hingga Ojek Online

Pasca-ledakan bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Sumatera Utara, polisi melakukan penggeledahan di sebuah rumah di Gang Tentram, Lingkungan III, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Sumatera Utara.

Rumah tersebut merupakan rumah orangtua RMN alias D, seorang pria yang tewas mengenaskan dengan luka parah di bagian perutnya seusai ledakan keras di depan kantin Mapolrestabes Medan.

Selama penggeledahan, warga sekitar turut berkerumun. Sebagian besar warga yang mengenal sosok RMN mengaku terkejut dan tidak menyangka. Sebab, yang bersangkutan dikenal sebagai orang yang baik.

“Orangnya baik. Sejak kecil saya tahu dia baik. Tidak pernah ada hal-hal yang negatiflah,” ujar Wandah kepada wartawan, Rabu (13/11/2019). 

Kepala Lingkungan (Kepling) III, Poetra, mengatakan, dirinya tidak begitu mengenal RMN. Menurut dia, RMN sudah tidak menjadi warganya lagi setelah menikah dan pindah ke Marelan pada tahun 2018. Dia tidak mengetahui alamat detail di Marelan.

“Terakhir ketemu sebelum dia menikah tahun 2018. Biasalah, dia seperti anak lainnya. Gabung dengan sebaya,” sambung Poetra.

Sepengetahuannya, RMN bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Saat di dalam rumah tersebut, dirinya ditanyai informasi hubungan antara RMN dengan ibunya. Kemudian soal sudah berapa lama RMN tinggal dan alamatnya di mana.

“Dia kalau enggak salah ada empat bersaudara. Dia dulu sempat di Aceh. Waktu kecil dia Aceh dan sudah besar pindah balik lagi ke sini setelah tsunami,” tutur dia.

RMN, lanjut dia, setelah menikah pindah ke Marelan. Dia sempat mengurus surat perpindahan dan istrinya dulu juga orang sekitar.

“Mungkin setahun lebih dia sudah pindah. Karena 2018 dia sudah tidak di sini. Jujur saya kaget melihatnya seperti ini. Karena dia aktif dulu di kegiatan masjid. Dia juga bersosialisasi sama teman-temannya,” ujar Poetra.

Sementara itu, Kepling IV, Nardi (59), yang mengaku pernah mengenal RMN juga membenarkan bahwa pelaku bom bunuh diri itu lahir di daerah tersebut.

“Dia lahir di sini dan pernah menetap di Kuala Simpang. Baru pas sudah besar dia balik lagi ke sini,” kata Nardi.

Dalam kesehariannya, RMN bekerja sebagai pengemudi ojek online dan sambil berjualan bakso bakar. Orangtua perempuannya sudah meninggal.

Penggeledahan itu dilakukan sekitar satu jam. Polisi membawa serta tiga orang keluarga RMN, yakni paman, bibi, dan sepupunya. (Catatan:hps/kcm/anl/beragam sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: