Samosir, PRi.com

Pulau Samosir kembali bersiap menjadi magnet dunia olahraga dan pariwisata internasional. Melalui ajang Trail of The Kings (TOTK) by UTMB 2026, Kabupaten Samosir tidak hanya menghadirkan perlombaan lari lintas alam kelas dunia, tetapi juga membawa misi besar memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi sport tourism unggulan Indonesia di mata internasional.

Event bergengsi yang akan digelar pada 12–14 Juni 2026 itu dipastikan menghadirkan hampir seribu pelari dari 34 negara di Asia, Eropa hingga Amerika. Para peserta akan menaklukkan jalur ekstrem yang membelah kawasan pegunungan, hutan, desa adat, hingga kawasan sakral Gunung Pusuk Buhit di Pulau Samosir.

Persiapan pelaksanaan kegiatan dibahas dalam konferensi pers yang digelar Pemerintah Kabupaten Samosir bersama panitia penyelenggara pada Kamis (21/5/2026). Dalam forum tersebut, panitia memaparkan kesiapan teknis, jalur perlombaan, dampak ekonomi, hingga evaluasi penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Perwakilan panitia pelaksana, Rudi, menjelaskan bahwa antusiasme peserta terhadap Trail of The Kings by UTMB terus meningkat sejak pertama kali dilaksanakan di kawasan Danau Toba.

“Hingga saat ini jumlah peserta yang sudah mendaftar hampir mencapai seribu orang dan berasal dari 34 negara. Ini menjadi bukti bahwa Samosir mulai dikenal luas sebagai destinasi trail running internasional,” ujarnya.

Menurut Rudi, Trail of The Kings by UTMB merupakan bagian dari seri resmi lomba trail dunia yang berada di bawah jaringan UTMB World Series dan menjadi satu-satunya event UTMB resmi di Indonesia.

Karena itu, event tersebut memiliki nilai penting bagi komunitas pelari internasional. Para atlet yang ingin mengikuti ajang utama Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) di Prancis wajib mengumpulkan poin dari lomba resmi seperti TOTK di Samosir.

“Untuk bisa berlaga di Prancis, para pelari harus mengikuti event resmi seperti TOTK guna mendapatkan poin kualifikasi,” jelasnya.

Jalur Ekstrem dengan Panorama Kelas Dunia

Panitia juga memaparkan detail lintasan perlombaan yang disebut menjadi salah satu jalur trail paling eksotis sekaligus menantang di Asia Tenggara.

Untuk kategori 100 kilometer, peserta akan memulai perlombaan dari kawasan Waterfront City (WFC) Pangururan pada Sabtu dini hari pukul 03.00 WIB. Dari titik start tersebut, para pelari akan bergerak menuju Kecamatan Ronggur Nihuta, melintasi Danau Sidihoni, kembali menuju Tano Ponggol melalui jalur berbeda, lalu melanjutkan perjalanan ke kawasan Sianjur Mula-Mula.

Peserta akan melewati tiga kecamatan utama yakni Pangururan, Ronggur Nihuta, dan Sianjur Mula-Mula dengan suguhan panorama alam yang memadukan keindahan Danau Toba, kawasan hutan pinus, perkampungan adat Batak, hingga jalur pegunungan ekstrem.

“Di kawasan Sianjur Mula-Mula peserta akan melewati Puncak Gunung Pusuk Buhit, Desa Singkam hingga Bonan Dolok,” kata Rudi.

Sementara untuk kategori 160 kilometer, tantangan yang dihadapi peserta akan jauh lebih berat karena harus melintasi jalur menanjak menuju kawasan Air Terjun Aek Sogok.

Adapun peserta kategori 60 kilometer dijadwalkan memulai lomba pada pukul 06.00 WIB.

Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat

Selain menjadi ajang olahraga internasional, TOTK 2026 juga diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi masyarakat lokal. Kehadiran hampir seribu peserta dari berbagai negara diperkirakan berdampak langsung terhadap sektor UMKM, hotel, homestay, transportasi, kuliner hingga ekonomi kreatif masyarakat Samosir.

Panitia menyebut total anggaran penyelenggaraan event tahun ini diperkirakan mencapai Rp4,5 miliar yang bersumber dari dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sponsor serta biaya registrasi peserta.

Namun di balik besarnya event internasional tersebut, sejumlah wartawan lokal menyampaikan kritik terkait keterlibatan masyarakat dan media lokal dalam penyelenggaraan kegiatan.

Wartawan Petrus Tampubolon mempertanyakan sejauh mana ruang yang diberikan kepada media lokal dalam publikasi event berskala dunia tersebut.

“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Jangan sampai semua tim media berasal dari luar daerah seperti tahun lalu,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal, khususnya pelaku UMKM dan warga sekitar lokasi kegiatan.

Senada dengan itu, wartawan Pernando Sitanggang meminta panitia lebih terbuka terkait evaluasi penyelenggaraan TOTK tahun sebelumnya.

“Kami ingin mengetahui secara resmi apa keberhasilan dan kendala pada pelaksanaan 2025 agar tahun ini bisa lebih baik,” katanya.

Panitia Pastikan 90 Persen Warga Lokal Terlibat

Menanggapi kritik tersebut, panitia memastikan pelaksanaan TOTK tetap melibatkan masyarakat lokal secara dominan.

Rudi menyebut sekitar 90 persen panitia pelaksana berasal dari warga Kabupaten Samosir.

“Untuk kepanitiaan, mayoritas berasal dari masyarakat Samosir. Sementara untuk media massa, kami akan kembali melakukan koordinasi dan mengadakan pertemuan khusus dengan wartawan sebelum pelaksanaan kegiatan,” jelasnya.

Asisten Pemerintahan Kabupaten Samosir, Hotraja Sitanggang, menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan event akan menjadi bahan evaluasi demi meningkatkan kualitas kegiatan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Semua event yang dilaksanakan akan terus dievaluasi agar pelaksanaannya semakin baik dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Masuk Kalender Horas Samosir Fiesta

Sementara itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir menjelaskan bahwa Trail of The Kings by UTMB telah masuk dalam kalender tahunan Horas Samosir Fiesta yang sebelumnya diluncurkan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Samosir.

Selain TOTK, pemerintah daerah juga tengah mempersiapkan sejumlah event besar lainnya, termasuk Festival Danau Toba yang tetap direncanakan berlangsung tahun ini meskipun kemungkinan mengalami penyesuaian jadwal pelaksanaan.

“Festival Danau Toba tetap direncanakan berlangsung, walaupun kemungkinan waktunya sedikit mundur,” ujar perwakilan Dinas Pariwisata.

Penyelenggaraan TOTK sendiri telah dikontrak untuk jangka waktu tiga tahun dan setiap pelaksanaan akan dinilai oleh tim evaluator internasional guna memastikan standar event tetap terjaga.

“Tahun lalu nilai pelaksanaan kita berada di angka 84 dan diharapkan tahun 2026 ini bisa dipertahankan bahkan meningkat,” katanya.

Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, pelaku wisata, serta tingginya antusiasme pelari dunia, Trail of The Kings by UTMB 2026 diyakini bukan hanya menjadi ajang olahraga ekstrem, tetapi juga momentum besar yang membawa nama Samosir dan Danau Toba semakin bersinar di panggung internasional. ( hots/dns)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *