Aksi jalan kaki 170 petani dari Desa Simalingkar A dan Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru,  Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara ke Istana Negara, Jakarta memasuki hari ke-11 pada Minggu (5/7/2020). Pada Minggu sore, petani melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Labuhanbatu Selatan. (istimewa)

Labusel, PPRESTASIREFORMASI.COM – Berjalan kaki menuju istana Presiden di Jakarta sejak lima hari yang lalu, 170 orang petani asal Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (4/7/2020) sore tiba di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu (berkisar 288 kilometer dari Kota Medan) provinsi Sumatera Utara.

Para petani ini, menggelar aksi jalan menuju Istana Negara, Jakarta dan sudah melewati tujuh kabupaten, tiba di kota Rantauprapat ini. Sebagai ganti meminta izin hukum dari Presiden Joko Widodo, atas sengketa tanah dengan PT Perekonomian Nusantara II Simalingkar A dan Sei Mencirim, Deli Serdang. Mereka ingin bertemu Jokowi untuk menyampaikan aspirasi, terkait dengan menyetujui sengketa.

Petani asal Medan, Sumatera Utara yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB), melakukan aksi jalan kaki dengan tujuan mencari kesejahteraan. Dimana tanah yang mereka tempati sejak 1951 digusur dipaksa oleh PT Perkebunan Nusantara II.

Pada tahun itu pula setelah kemerdekaan Indonesia, tanah diberikan kepada masyarakat dan para petani mengelola lahan. Kemudian di pemerintahan orde baru, tanah yang dikelola petani dan bekas dikuasai Belanda, diambil alih untuk perusahaan BUMN.

Mereka melakukan aksi jalan kaki menuju Istana Negara Jakarta, sejak Kamis (25/6), mulai dari Jalan Jamin Ginting, Medan mulai pukul 14.50 WIB.

“Aksi jalan kaki menuju Istana Negara ini sudah 8 hari dan menempuh jarak 300 kilometer. Alhamdulilah, hingga saat ini, semua peserta masih sehat, ”sebut koordinator aksi, Aris Wiyono yang ditemui di Gedung Olahraga (GOR) Rantauprapat, Sabtu (4/7/2020) sore.

Menurut Aris, peserta aksi meminta izin presiden memberikan legalitas tanah mereka. Agar Petani punya kepastian hukum dan tidak selalu tergusur. Sebanyak 170 orang petani terdiri dari pria dan wanita, usia 21 tahun hingga 70 tahun.

Aris memperkirakan mereka akan tiba di Istana Negara 17 Agustus 2020. Selama perjalanan belum ada tantangan. Mereka sangat serius mempercayai keputusannya, sebab petani juga ingin menikmati kemerdekaan.

Disebutkan Aris, sebenarnya konflik ini sudah terjadi sejak tahun 70-an. Penggusuran terakhir terjadi pada Maret tahun 2020. Semua diusir, yang sudah punya sertifikat hak milik (SHM) pun ikut digusur.

Jika disetujui, penggusuran ini merupakan tindakan semena-mena yang berdampak luas pada populasi 2 desa tersebut.

“Itulah makanya kami rela berjalan kaki untuk mengabungkan nasib kami ke Presiden Jokowi,” ungkapnya.

Sementara itu, setiba di Rantauprapat, Jumat (3/7), mereka yang melawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Labuhanbatu, pihak kepolisian dan tenaga medis dari Puskesmas Janji, Kecamatan Bilah Barat, untuk melakukan tes cepat, melakukan kontak pembelian Covid-19.

Setelah semua dinyatakan negatif, mereka sepakatakan istirahat di Gedung Olahraga tersebut. Dari pantauan, mereka memasak ubi jalar di situ. Setelah istirahat 2 hari, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta Senin (6/7) pagi.

Perwakilan dari LBH Agraria Labuhanbatu, Yanto Ziliwu, memberikan bantuan makanan kepada peserta aksi.

“Kami menyediakan makan malam dan sarapan untuk mereka,” katanya.

Bantuan juga datang dari warga Rantauprapat, terdiri dari susu beruang 180 kaleng. Hendra Kobain Harahap mengaku tersentuh mendengar aksi jalan menuntut keadilan yang dilakukan petani Deliserdang.

Yanto berujar, walau berasal dari daerah lain, mereka ini kan juga saudara kita sebangsa yang sedang memperjuangkan haknya. Jadi, sepantasnya ditolong. (h/Hasrum S.)

BACA JUGA:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *