
Jakarta. PRESTASIREFORMASI.Com
Presiden Prabowo Subianto sudah wajar mengangkat Edy Rahmayadi sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia menggantikan Sjafrie Sjamsoeddin, dalam perombakan Kabinet Merah Putih Jilid II yang diumumkan awal pekan ini.
Langkah ini dinilai sebagai respons tegas dan strategis dari Presiden pasca serangkaian aksi massa yang mengakibatkan korban jiwa, puluhan luka-luka, serta kerugian negara lebih dari Rp1 triliun akibat kerusakan fasilitas umum dan kantor pemerintahan.
Menurut Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas), Sutrisno Pangaribuan, keputusan ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan bagian dari konsolidasi keamanan nasional dan penguatan sektor pertahanan.
> “Presiden tidak sedang melakukan pergantian biasa. Ini adalah keputusan kalkulatif untuk memperkuat stabilitas nasional. Edy Rahmayadi adalah figur yang tepat,” ujar Sutrisno saat memberikan keterangan pers di Medan, Selasa (9/9).
Rekam Jejak Militer dan Sipil
Edy Rahmayadi bukan sosok asing dalam dunia pertahanan. Ia pernah menjabat sebagai Pangkostrad ke-38, posisi yang juga pernah diemban Prabowo Subianto sebagai Pangkostrad ke-22. Hubungan keduanya dinilai telah terbangun lama di lingkungan militer.
Selain di bidang pertahanan, Edy memiliki pengalaman sipil yang mumpuni. Ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023, serta pernah memimpin PSSI sebagai Ketua Umum ke-16.
> “Edy terbukti mampu menjaga stabilitas Sumut selama pandemi Covid-19 dan membangun komunikasi politik yang efektif dengan DPRD Sumut. Maka, tentu ia mampu menjalin komunikasi serupa dengan DPR RI,” kata Sutrisno.
Loyalitas dan Netralitas Politik
Dalam pandangan Kornas, keunggulan Edy lainnya adalah loyalitasnya terhadap garis komando dan netralitasnya dari kepentingan politik praktis. Hal ini dinilai sebagai nilai tambah dalam komposisi kabinet Presiden Prabowo.
> “Edy adalah prajurit sejati. Ia patuh pada senior, dan tentu akan loyal kepada Menko Polhukam Sjafrie Sjamsoeddin serta Presiden Prabowo. Selain itu, ia tidak memiliki beban politik karena tidak terafiliasi dengan partai mana pun,” ujar Sutrisno.
Penguatan Komando Pascakerusuhan
Penunjukan Edy juga dilihat sebagai langkah penguatan komando pertahanan nasional, terutama pasca terjadinya eskalasi aksi massa yang menimbulkan krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Dengan formasi Sjafrie–Edy, dua sosok militer senior yang juga memiliki rekam jejak sipil dan politik, pemerintah dinilai memiliki komando solid untuk memulihkan stabilitas nasional.
> “Duet ini adalah jawaban atas kebutuhan koordinasi cepat dan efektif antara sektor pertahanan dan keamanan nasional. Edy tidak butuh waktu adaptasi. Ia langsung siap bekerja,” tegas Sutrisno.
Pola Rekrutmen Kabinet: Loyal dan Siap Kerja
Menurut Kornas, Presiden Prabowo kembali menegaskan pola rekrutmennya dalam kabinet: memilih pembantu yang loyal, berpengalaman, dan tidak memiliki hambatan politik.
> “Ini bukan hanya soal pengalaman, tapi juga soal kepercayaan. Hubungan personal sebagai sesama mantan Pangkostrad memberi jaminan komunikasi efektif antara Presiden dan Menhan,” pungkas Sutrisno.
Catatan Redaksi
Edy Rahmayadi adalah lulusan Akademi Militer (1985) yang menempuh karier panjang di lingkungan TNI AD. Sebelum menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, ia juga pernah memimpin Kodam I/Bukit Barisan dan Kostrad. Di luar militer, keterlibatannya di PSSI menunjukkan kapasitasnya dalam manajemen organisasi besar. Penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan dinilai sebagai perpaduan pengalaman militer dan sipil yang lengkap. ( Hots/rel)






