ARTIKEL LAINNYA:




Ada ‘Maut’ Depan Pintu Madrasah di Tapanuli Utara

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Peanornor kebanggaan masyarakat Muslim Taput yang masih tetap bertahan hingga kini, meskipun di tengah-tengah keterbatasan. (Foto: Istimewa)
Oleh: Syaiful Rahmat Panggabean

Kaum muslimin sebagai penduduk minoritas di Tapanuli Utara, tentu berusaha secara maksimal untuk menjaga dan mempertahankan eksistensinya di Bona Pasogit. Hal ini bukan saja pada tataran kuantitas namun juga harus menyentuh kualitas kepribadian kaum muslimin.

Oleh karena itu, maka tidak mengherankan jika para pendahulu di Bona Pasogit berusaha mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal yang mengajarkan ilmu-ilmu dasar keislaman sebagai dasar untuk menjalankan syariat agama.

Usaha mendirikan lembaga pendidikan Islam telah dilaksanakan namun upaya mempertahankannya belum maksimal.

Sangatlah wajar, jika madrasah dan berbagai pengajian nonformal di Tapanuli Utara mulai berguguran satu per satu. Contohnya pada tahun 90-an sebuah madrasah aliyah yang berkedudukan di ibu kota kabupaten harus ikhlas tutup setelah beberapa kali meluluskan siswa dan bahkan tahun 2000-an madrasah pada jenjang yang sama di lokasi yang sama tetap harus rela untuk gulung tikar meskipun belum sempat menelurkan alumni.

Lembaga yang ditutup di atas merupakan contoh lembaga formal dan berbadan hukum, apalagi lembaga-lembaga nonformal seperti pengajian iqra, mungkin tak terhitung lagi berapa banyak yang sudah gulung tikar.

Namun pada akhir-akhir ini berbagai pengajian nonformal sudah mulai marak lagi dengan keberadaan para penyuluh agama yang ditugaskan oleh Kementerian Agama. Tidak dapat diyakini lembaga ini akan bertahan jika penunjang tugas para penyuluh ditiadakan oleh pemerintah. Bubar lagi.


Selanjutnya klik Laman 2 bawah

BERITA TAPUT LAINNYA:


Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *