Kasek : “Saya Sudah Kerjakan Sesuai Dengan RAB”

Pakpak Bharat, prestasireformasi.com –  Divisi Data, Riset dan Investigasi Perkumpulan Lembaga Penyelidikan Tindak Pidana Kaorupsi dan  Advokasi Hukum “ Investigation Corruption Watch“  (LI TIPIKOR AHICW) Kantor Cabang Dairi – Pakpak Bharat – Karo, menemukan adanya kejanggalan penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) rehabilitasi sejumlah ruangan di SMPN 2  Satu Atap Salak, kabupaten Pakpak Bharat.

Bahkan berdasarkan penelusuran langsung ke SMPN 2 Salak,   ada dugaan pengurangan volume dari bahan material cat yang digunakan pada pelaksanaan pekerjaan sejumlah ruangan yang terdiri dari: 

1. Rehabilitasi ruang laboratorium Ilmu pengetahuan alam (IPA) beserta perabotnya sebesar Rp 170.000.000,-

2. Rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat kerusakan minimal sedang beserta perabotnya sebesar Rp 300.000.000,-

3. Rehabilitasi ruang perpustakaan dengan tingkat kerusakan minimal sedang beserta perabotnya  sebesar Rp 130.000.000,-

4. Rehabilitasi ruang guru dengan tingkat kerusakan minimal sedang beserta perabotnya sebesar Rp 115.000.000,-

5. Rehabilitasi jamban siswa/guru dengan tingkat kerusakan minimal sedang beserta sanitasinya sebesar Rp 51.990.000, bersumber dari DAK Fisik Pendidikan  Tahun Anggaran dengan total dana sebesar Rp : 766.990.000,-

Ketua Tim Investigasi LI TIPIKOR AHICW Kantor Cabang Dairi –Pakpak Bhrat – Karo ,Ahmad Daud Nasution mengatakan bahwa  mereka menemukan kejanggalan pada item pekerjaan penge cetan terhadap dinding dan plafond bangunan gedung di sekolah ini .

Menurut dia Kejanggalan itu berpotensi merupakan hal ketidaksesuaian terhadap peraturan dan perundang undangan tentang pekerjaan penge cetan.

Kejanggalan tersebut seperti : performance cat pada dinding bangunan gedung sekolah ini terlihat berbayangan. Bayangan ini berasal dari warna cat pada lapisan  awal yang digunakan pada dinding bangunan gedung.

Berbayangnya Cat  tersebut karena tipis nya lapisan Cat berikut nya yang digunakan . Berdasarkan fakta tersebut maka diduga kuat bahwa  penge cetan pada dinding bangunan gedung ini  hanya dilakukan sebanyak 2 kali.

“ Menurut  Peraturan Mentri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pen gecetan dinding dan plafond harus dilakukan sebanyak 3 kali dan menggunakan cat yang setara Vinylex . Jadi bila dibandingkan peraturan itu denga fakta yang ada di lapangan, maka kami duga bahwa telah terjadi pengurangan volume pengecetan pada pelaksanaan DAK Fisik Pendidikan TA 2019 di Sekolah ini,”  ungkap Ahmad Daud.

Menurut LI TIPIKOR & AHICW dengan adanya dugaan pengurangan  volume cat pada pelaksanaan beberapa pekerjaan di SMPN2  Satu Atap Salak ini berpotensi akan dapat menimbulkan Kerugian Keuangan Daerah / Negara dengan estimasi sebagai berikut :

Besaran biaya yang dianggarkan untuk item pekerjaan pengecetan dinding dan Plafond pada sebuah bangunan gedung lebih kurang adalah sebesar 9 % dari total pagu biaya pekerjaan. Untuk  itu estimasi besarnya biaya yang dianggarkan pada RAB untuk keperluan pelaksanaan  item pengecetan dinding dan plafond bangunan gedung sekolah ini adalah sebesar :

9 % x Rp 766.990.000,- = Rp 69.029.100,-

Maka estimasi anggaran biaya cat  untuk 1 lapis adalah : Rp 23.009.700

Dugaan pengurangan volume lapisan pengecetan pada permukaan dinding dan plafond gedung bangunan ini ada sebanyak 1 Lapis maka patutlah diduga kuat ada dana yang sisa yang nantinya akan berpotensi dapat menjadi terjadinya Kerugian Keuangan Daerah/Negara pada pelaksanaan pekerjaan ini dengan uraian Estimasi Cat per lapis x jumlah lapis yang dikurangi.

= Rp  23.009.700,-  (Dua Puluh Tiga Juta Sembilan Ribu Tujuh Ratus Rupiah).

“Nilai nya memang tidak fantastis tapi dugaan pengurangan volume cat tersebut menurut kami adalah hal yang disengaja. Artinya Niat sudah ada tentu ini berpotensi memenuhi unsur melanggar Pidana dalan hal ini UU TIPIKOR “ Kata Ahmad.

Temuan kejanggalan ini diklaripikasi  kepada Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Satu Atap Salak Kabupaten Pakapak Bharat di ruang kerjanya pada Hari : Selasa Tgl 3 Maret 2020.

Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Satu Atap Salak Larpina Tumangger mengatakan bahwa Dia sebagai Kepala Sekolah yang merupakan Penanggung Jawab penggunaan DAK Fisik Pendidikan di sekolah ini untuk Tahun Anggaran 2019, mengatakan bahwa dia sudah melakukan atau melaksanakan penge cetan pada pelaksanaan pekerjaan ini sesuai dengan RAB.

“ Saya sudah laksanakan sesuai dengan RAB pak,“ ujarnya tanpa merinci berapa nolume pengecetan yang ada di dalam RAB.

“Bapak tentu sudah capek datang ke sekolah ini, ini sekedar uang minum,” ujarnya sambil hendak menyalamkan beberapa lembar uang kertas yang mirip pecahan uang seratus ribu rupiah. Namun awak media ini menolak dengan alasan bahwa kedatangan awak media ke sekolah ini bukan untuk meminta uang tapi mau meminta hak jawab dari Kepala Sekolah terkait temuan LI TIPIKOR AHICW Kantor Cabang Dairi– Pakpak Bharat—Karo pada penggunaan DAK TA 2019 di Sekolah ini.

“ Nggak apa-apa Pak ini bukan suap tapi sekedar beli Aqua saja,” kata Kepala Sekolah.

“ Trima kasih Ibu tidak usah, kami ada Aqua Koq di Mobil yang penting kami sarankan agar ibu dapat memperbaiki cat yang diduga kurang di sekolah ibu in,” Kata Jasnan mengakhiri pembicaraan sambil minta izin untuk pamit. (Nur/Tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *