(Catatan : Zuardi Simanullang Wartawan PRi. Com)
Di penghujung Desember tahun 2019, memasuki awal tahun baru 2020, Bakhtiar Ahmad Sibarani Bupati Tapanuli Tengah kembali menorehkan sejarah untuk “Barus kota Bertuah ” dengan meresmikan jembatan penghubung Kampung Mudik ke desa Bungo Tanjung dan sekitarnya jembatan itu panjangnya 100 meter, lebar 10 meter dengan konstruksi rangka baja, berbiaya Rp 52 milyar. jembatan itu diberi nama ” Hamzah Al -Fansyuri “.

Ditabalkannya nama itu tentunya untuk mengingatkan kembali masyarakat Barus, baik yang tinggal dikampung halaman maupun yang berada di perantauan akan sejarah kota Barus yang di dalamnya ada seorang tokoh yang nyaris terlupakan yaitu Hamzah Fansyuri.
Tahun 1581 M atau sekitar tahun 989-995.H. Hamzah Fansyuri adalah seorang filosofi dan penyair mistik yang terkenal dengan doktrinnya faham “Wujudiah ” (bahwa wujud atau Zat Tuhan ada pada diri Manusia).
Guru dari Hamzah Fansyuri adalah Syech Abdul Qodir Said Zailani seorang ulama besar di Baghdad Irak fahamnya disebut ” Tarikat Zadariah “.
Untuk menggambarkan tempat di mana ia tinggal di negeri jauh Hamzah Fansyuri membuat syair ” Hamzah Fansyuri di negeri Melayu, Tempatnya Kafur di dalam kayu.
Salah satu syair Hamzah Fansyuri yang terkenal berjudul ‘Perahu” dimana dalam syair -syair beliau jika kita renungi secara mendalam, tidak terasa telah membawa kita hanyut menyelami filsafah “Perahu “.

Selama hidup di dunia yang fana ini, dimana berbagai gelombang, badai serta pasang surut selalu mengharungi kita, maka dengan Perahu hajat tadi selamatlah kita di tengah perjalanan.
berikut penggalangan dari syairnya :
Inilah gerangan suatu madah
Mengarang syair terlalu Indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Disana I’tikad jangan berobah
Wahai Muda kenal dirimu
Ialah Perahu Tamsil tubuhmu
Tiada berapa lama hidupmu
Ke akhirat juga kekal diammu.
Hamzah Al Fansyuri juga seorang pengembara dan berkelana ke berbagai benua, menjelang akhir hayatnya ia kembali ke Barus dan menetap d isana.
Diceritakan, sebelum meninggalkan dunia fana ini Hamzah Fansyuri berpesan : andai ia meninggal dunia kembali memenuhi panggilan Allah, kiranya ia dimakamkan di Tepi pantai, di mana Perahu dan suara ombak selalu didengar.
Biarlah katanya deburan ombak tersebut menjadi tangisan atas kepergiannya, Karena sebagian besar dari umurnya, banyak dihabiskan berkelana mengharungi lautan. Itulah sekilas tentang ‘”Hamzah Al -Fansyuri “.
Kini nama itu sudah ditabalkan yang mengingatkan kita bahwa Barus adalah kota Peradaban Islam di Nusantara yang perlu kita jaga, pelihara dan melestarikannya sebagai Ikon kebanggaan masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah. Semoga!






