
Samosir, PRi. Com — Pada fase awal berdirinya Kabupaten Samosir sebagai daerah otonom, peran pers tidak diposisikan sekadar pelengkap informasi, melainkan sebagai mitra strategis pembangunan. Hal ini terlihat jelas dalam kepemimpinan Bupati Mangindar Simbolon yang sejak dini memberi perhatian serius terhadap penguatan kapasitas wartawan.
Langkah konkret itu diwujudkan melalui program pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) wartawan yang digelar pada 20–24 Agustus 2007 di Hotel Sanggam Ambarita. Kegiatan yang difasilitasi Bagian Humas dan Infokom Sekretariat Daerah tersebut menjadi tonggak penting dalam membangun profesionalisme jurnalis lokal.
Sejumlah wartawan dari berbagai media turut ambil bagian, termasuk Hotman Siagian dari harian Suara Massa. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis jurnalistik, tetapi juga memperkuat peran pers sebagai penggerak informasi pembangunan di daerah.
Pada masa itu, keterbatasan infrastruktur komunikasi menjadi tantangan nyata. Pengiriman berita ke redaksi masih mengandalkan akses email milik pengusaha hotel atau dititipkan melalui angkutan umum seperti bus Sampri. Kondisi tersebut menciptakan persaingan ketat di antara wartawan untuk menjadi yang tercepat dalam mengirimkan berita.

Tak jarang, para jurnalis harus antre panjang hanya untuk mengakses jaringan internet. Seusai peliputan, mereka berkumpul di kedai kopi, menyusun berita secara mandiri, bahkan memutar ulang rekaman wawancara demi menjaga akurasi. Keterlambatan pengiriman berarti kehilangan momentum publikasi.
Di sisi lain, belum tersedianya rilis resmi dari pemerintah daerah membuat wartawan dituntut bekerja lebih keras dan mandiri. Situasi ini justru membentuk karakter pers yang tangguh, adaptif, dan memiliki daya juang tinggi.
Di tengah segala keterbatasan tersebut, kedekatan Mangindar Simbolon dengan insan pers menjadi faktor penting. Ia secara terbuka menempatkan wartawan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan, bahkan menegaskan kepada jajarannya bahwa pers adalah mitra dalam mempercepat kemajuan daerah.
Dampaknya, media massa pada masa itu berperan aktif mengangkat potensi pariwisata dan pembangunan Samosir ke ruang publik yang lebih luas, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan minimnya teknologi komunikasi dibandingkan era digital saat ini.
Jejak tersebut menjadi bukti bahwa fondasi kemitraan antara pemerintah dan pers di Samosir telah dibangun sejak awal, dengan visi yang jelas: menciptakan jurnalisme yang kuat sebagai pilar pendukung pembangunan daerah. ( red)









