
Samosir, PRi.Com – Proyek pembangunan jalan dan jembatan di Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, kini memasuki fase yang tidak lagi bisa ditoleransi kesalahannya. Setelah hampir dua tahun akses terputus akibat longsor, pekerjaan dimulai di bawah sorotan tajam publik dan pengawasan berlapis.
Tim jurnalis bersama warga, termasuk Boris Situmorang, turun langsung ke lokasi. Pesannya tegas: proyek ini bukan sekadar dimulai—harus diselesaikan dengan benar, sabtu 18 april 2026.
Ruas jalan nasional ini adalah urat nadi penghubung Simanindo–Onanrunggu dan bagian dari jalur lingkar Samosir. Selama ini, warga dipaksa bertahan dengan jembatan darurat berdaya dukung terbatas—situasi yang tidak layak dipertahankan.
Balai Jalan Turun, Uji Keseriusan Kontraktor
Kehadiran langsung tim Balai Jalan Nasional di lokasi menjadi penanda bahwa proyek ini diawasi serius, bukan sekadar administratif. Verifikasi dilakukan terhadap kesiapan kontraktor, metode kerja, hingga kelengkapan alat berat.
Ini bukan kunjungan seremonial—ini uji lapangan atas keseriusan.
Alat Bor Masuk, Material Inti Sudah Siap
Pengawas lapangan dari kontraktor, Panggabean, memastikan pekerjaan bergerak dari fase persiapan ke arah teknis.
“Alat bor untuk bored pile sudah di lokasi. Besi tulangan berulir diameter 19 mm dan 13 mm sudah tersedia, termasuk pipa baja berdiameter besar untuk pondasi dalam,” ujarnya.
Dengan kondisi tanah labil, metode pondasi dalam menjadi kunci. Pengeboran direncanakan hingga ±40 meter untuk mencapai tanah keras, menopang jembatan dengan bentang sekitar 80 meter.
Fondasi Menentukan Segalanya
Di proyek ini, kegagalan tidak terjadi di akhir—tetapi bisa bermula dari fondasi.
Kesalahan pada tahap bored pile, kualitas baja tulangan, atau penyimpangan dari spesifikasi teknis akan berujung pada risiko struktural yang mahal dan berbahaya. Karena itu, disiplin terhadap RAB dan standar teknis bukan pilihan—melainkan kewajiban.
“Tidak ada ruang untuk coba-coba. Semua harus presisi,” tegas Panggabean.
Akses Alternatif: Syarat Mutlak, Bukan Pelengkap
Pekerjaan utama belum bisa dimulai penuh karena menunggu jalan alternatif rampung. Jalur ini hanya untuk roda dua, mengingat jembatan darurat berbahan kayu dan kondisi tanah yang tidak stabil.
Begitu pekerjaan inti dimulai, jalur utama akan ditutup total. Artinya, keterlambatan akses alternatif akan langsung menghambat progres proyek.
Warga Mengawasi, Bukan Menonton
Boris Situmorang menegaskan, masyarakat tidak akan lagi menjadi penonton pasif.
“Masuknya alat bukan jaminan. Kami menagih hasil: tepat mutu, tepat waktu. Jangan ada kegagalan untuk ketiga kalinya,” ujarnya.
Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Samosir di bawah Vandiko Gultom dan Balai Jalan Nasional memastikan pengawasan berjalan nyata di lapangan—bukan sekadar laporan di atas kertas.
Target Jelas, Toleransi Nol
Proyek ditargetkan selesai Desember 2026. Opsi pembukaan terbatas lebih awal dimungkinkan jika struktur utama—abutment dan rangka baja—telah terpasang dan dinyatakan aman.
Namun pesan publik kini jelas:
tidak ada lagi ruang untuk keterlambatan tanpa alasan,
tidak ada kompromi pada kualitas,
dan tidak ada kegagalan yang bisa diterima.
Huta Ginjang kini menjadi lebih dari sekadar proyek—
ini adalah ujian integritas. ( red)