Samosir. PRI. Com — Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Simanindo, dua anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar mencoba kembali tersenyum. Luka yang mereka alami bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada perasaan yang masih rapuh.

Peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa ES (10) dan adiknya MS (9) terjadi pada Selasa (7/4/2026) sore. Saat itu, ayah mereka diketahui tidak berada di rumah.

Kabar tentang kondisi kedua anak tersebut akhirnya sampai kepada guru mereka di sekolah. Kepedulian seorang wali kelas berinisial DR menjadi titik awal terbukanya kasus tersebut kepada pihak berwenang.

Dari ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bermain, cerita tentang luka itu akhirnya sampai ke telinga pemerintah daerah.

Pemerintah Datang Membawa Dukungan

Kamis (9/4/2026), Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk datang langsung ke rumah keluarga korban. Kunjungan itu bukan sekadar agenda resmi, melainkan bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang sedang menghadapi masa sulit dalam hidup mereka.

Saat rombongan tiba, kedua anak itu terlihat mulai berani tersenyum. Kehadiran banyak orang yang memberi perhatian perlahan mengubah suasana yang sebelumnya dipenuhi kesedihan.

Ariston mengatakan bahwa kekerasan terhadap anak adalah tindakan yang tidak dapat ditoleransi.

“Anak-anak adalah masa depan kita. Kekerasan terhadap mereka bukan hanya melukai tubuh, tetapi juga bisa meninggalkan luka dalam hati mereka,” kata Ariston.

Menurutnya, kejadian ini harus menjadi pengingat bagi semua keluarga agar menjaga anak-anak dengan penuh kasih sayang.

Guru yang Berani Bersikap

Di tengah peristiwa ini, peran seorang guru menjadi sangat penting. Wali kelas berinisial DR adalah orang pertama yang merespons kondisi korban dan melaporkan dugaan kekerasan tersebut.

Wakil Bupati menyampaikan apresiasi atas keberanian tersebut.

“Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga melindungi. Kepedulian seperti ini sangat berarti bagi masa depan anak-anak,” ujarnya.

Bagi pemerintah daerah, tindakan tersebut menjadi contoh bahwa perlindungan anak membutuhkan keberanian dan kepedulian dari banyak pihak.

Pemulihan Anak Jadi Prioritas

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Samosir Priska Situmorang menjelaskan bahwa pihaknya telah memberikan pendampingan kepada korban.

Pendampingan tersebut meliputi penanganan medis, pemeriksaan visum, serta dukungan psikologis untuk membantu anak-anak pulih dari trauma.

“Fokus kami saat ini adalah pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis anak-anak. Mereka harus tetap bisa menjalani kehidupan dan pendidikan dengan baik,” ujar Priska.

Pemerintah daerah juga memastikan bahwa kedua anak tersebut tetap mendapatkan hak pendidikan selama masa pemulihan.

Anak Butuh Rumah yang Aman

Ketua PKK Kabupaten Samosir Kennauli Ariston Tua Sidauruk mengatakan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak.

“Anak adalah titipan Tuhan. Mereka harus dibesarkan dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan,” katanya.

Ia berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa anak-anak membutuhkan perlindungan dari orang-orang terdekat mereka.

Harapan Agar Luka Tidak Terulang

Kasus yang menimpa ES dan MS menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak masih dapat terjadi di lingkungan yang seharusnya paling aman: rumah.

Bagi banyak orang, cerita ini bukan sekadar berita. Ini adalah pengingat bahwa di balik dinding rumah, ada anak-anak yang membutuhkan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang.

Pemerintah Kabupaten Samosir menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi korban serta memastikan setiap kasus kekerasan terhadap anak ditangani secara serius hingga tuntas.

Di rumah kecil itu, dua anak perempuan perlahan belajar kembali tentang satu hal yang paling mereka butuhkan:

bahwa dunia masih memiliki orang-orang yang peduli. ( tim red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *