Samosir, PRi. Com — Sudah sembilan hari, sejak 27 Februari hingga Sabtu (7/3/2026), air dari sumber Simarsasar tidak mengalir ke rumah-rumah pelanggan. Ratusan warga yang selama ini bergantung pada layanan PAM Samosir terpaksa mencari air secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah warga mengaku belum mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai penyebab utama terhentinya distribusi air maupun langkah darurat yang dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Keluhan warga disebut telah disampaikan berulang kali kepada pihak penyedia layanan air daerah tersebut. Namun hingga kini, belum ada informasi terbuka yang menjelaskan secara rinci kapan distribusi air akan kembali normal.

“Sudah sembilan hari air tidak mengalir. Kami harus mencari air sendiri untuk kebutuhan rumah tangga. Sampai sekarang belum ada kepastian,” ungkap salah seorang pelanggan, Tetty Naibaho.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan sistem pengelolaan distribusi air di wilayah tersebut. Dalam situasi pelayanan publik yang terganggu hingga berhari-hari, masyarakat biasanya berharap adanya langkah mitigasi seperti suplai air darurat, penjelasan resmi, maupun komunikasi terbuka kepada pelanggan.

Beberapa informasi yang berkembang di lapangan juga menyebutkan bahwa air dari mata air Simarsasar selama ini dialirkan langsung ke pelanggan tanpa melalui sistem penampungan yang memadai. Jika hal tersebut benar, maka kondisi tersebut berpotensi membuat distribusi air menjadi rentan ketika terjadi penurunan debit sumber.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Cabang PAM Samosir, Suhendra, melalui pesan WhatsApp menjelaskan bahwa debit air dari sumber Simarsasar mengalami penurunan.

Menurutnya, sebelumnya debit air mencapai sekitar 5 liter per detik, namun saat ini tersisa sekitar 2 liter per detik.

“Akibat dari sumber mata air Simarsasar diambil oleh Desa Boho,” jelasnya.

Suhendra juga menyebutkan bahwa solusi atas persoalan ini memerlukan pembahasan bersama antara pemerintah daerah dan pihak desa terkait.

“Harus duduk bersama Pemkab dengan Desa Tanjung Bunga dan Desa Boho. Perlu dibangun perpipaan oleh Pemkab ke Desa Boho. Saat ini Desa Boho mengambil air Simarsasar secara bypass tanpa meteran sehingga banyak air terbuang dan berdampak pada pelanggan di Tanjung Bunga,” ujarnya.

Namun ketika ditanya lebih lanjut mengenai beberapa hal penting—seperti sampai kapan air tidak mengalir, apakah ada rencana suplai air darurat bagi pelanggan, serta bagaimana langkah koordinasi dengan pemerintah daerah—pertanyaan tersebut belum mendapat jawaban lanjutan dari pihak PAM hingga berita ini disusun.

Situasi ini memunculkan perhatian publik mengenai pengelolaan sumber air dan sistem distribusi layanan air bersih di wilayah tersebut. Mengingat air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat, transparansi informasi serta langkah penanganan yang cepat menjadi hal yang sangat diharapkan oleh pelanggan.

Jika kondisi ini terus berlarut tanpa solusi yang jelas, persoalan tersebut berpotensi menjadi perhatian lebih luas dalam pengawasan pelayanan publik oleh berbagai pihak terkait. ( hots/dns)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *