Ketua GBNN Sumut Trie Yanto Sitepu, SH berfoto bersama ibu Dahlia saat meninjau rumah ibu Dahlia di Asahan yang diduga telah dilelang Bank DSP dengan penuh kecurangan.


Kota Binjai, PrestasiReformasi.Com – Garda Bela Negara Nasional (GBNN) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) akan menindaklanjuti adanya keluhan dari Dahlia di Dusun I Sipaku, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan. Demikian dikatakan Ketua GBNN Sumut Trie Yanto Sitepu, SH pada PRi.Com saat berkunjung di Kota Binjai, Senin ( 24 – 5 – 2021 ) Dimana, keluhan wanita berusia 62 tahun ini adalah bertalian dengan patut diduga adanya fraud (kecurangan) atas lelang yang telah dilakukannya oleh pihak Danamon Simpan Pinjam melalui perantara Kantor Wilayah II Medan KPKNL KISARAN pada hari selasa tertanggal 31 Juli 2012 atas Objek Jaminan berupa sebidang tanah seluas ± 4,440 M2 (empat ribu empat ratus empat puluh meter persegi yang berada di Dusun I Sipaku, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan. Adapun objek perkara dimaksud atas nama Abdul Hamid BA.

Ketua GBNN Sumut, Trie Yanto Sitepu SH membenarkan adanya menerima keluhan dari Dahlia karena rumah dan tanahnya yang diagunkan ke Bank Danamon Simpan Pinjam di daerah setempat telah dilelang. “Bahwa awal permasalahan terjadi ketika Ibu Dahlia selaku Debitur di Danamon Simpan Pinjam mengalami keterlambatan pembayaran kewajiban kredit, akan tetapi Ibu Dahlia selaku Debitur tetap memiliki itikad baik dan berupaya untuk menyelesaikan kewajibannya kepada pihak Danamon Simpan Pinjam selaku Kreditur,” kata Trie Yanto. Kepada sejumlah awak media.

Adapun lronologis kejadiannya permasalahan itu yaitu pada tanggal 06 Agustus 2008, dahlia telah melakukan perikatan diri untuk melakukan perjanjian Kredit Nomor : 363/PK/2623/0808 di Danamon Simpan Pinjam (DSP) Tanjung Balai, Jalan Jalan Ahmad Yani Nomor 74 Tanjung Balai.

Wanita ini mendapatkan fasilitas pinjaman kredit sebesar Rp80 juta lama pinjaman 48 bulan/4 tahun, pembayaran angsuran setiap bulannya sebesar Rp.2,866,667,- (dua juta delapan ratus enam puluh enam ribu enam ratus enam puluh tujuh rupiah). Kemudian, pinjaman sebesar Rp 80 juta tersebut dipergunakan sebagai modal penambahan usaha serta perbaikan tempat usaha.

Bahwa kewajiban pembayaran angsuran ke-1 (pertama) dan angsuran ke-2 (dua) atas fasilitas kredit tersebut dibayar secara tepat waktu, hingga memasuki pembayaran angsuran ke-3 (tiga), terjadi kendala pembayaran kewajiban dikarenakan pendapatan usaha menurun, akan tetapi Dahlia selaku Debitur tetap melakukan upaya pembayaran kewajiban meskipun tidak dapat terpenuhi dari nilai kewajiban setiap bulannya sebesar Rp.2,866,667,- (dua juta delapan ratus enam puluh enam ribu enam ratus enam puluh tujuh rupiah) dan pihak Danamon Simpan Pinjam selaku Kreditur tetap menerima pembayaran dari Ibu Dahlia tersebut.

Selanjutnya, pada tanggal 2 maret 2009 pihak Danamon Simpan Pinjam selaku Kreditur telah melayangkan surat peringatan pertama kepada Ibu Dahlia selaku Debitur. Sesuai surat No.52/SP-1/927/0309. Kemudian, tertanggal 14 april 2009 Danamon Simpan Pinjam selaku Kreditur dan Ibu Dahlia selaku Debitur telah melakukan perubahan perjanjian kredit yang semula Nomor :363/PK/2623/0808 menjadi Perjanjian Perubahan Kredit Nomor :01/Add.PK/2623/0409. dimana terdapat perubahan tentang lama jangka waktu kredit dimana semula lama perjanjian kredit 48 bulan atau 4 (empat) tahun diperpanjang menjadi 84 bulan atau 7 (tujuh) tahun, dan kewajiban pembayaran kredit semula setiap bulannya sebesar Rp.2,866,667 (dua juta delapan ratus enam puluh enam ribu enam ratus enam puluh tujuh rupiah) berubah menjadi sebesar Rp.2,025,118 (dua juta dua puluh lima ribu seratus delapan belas rupiah).

Namun, meskipun telah dilakukan perubahan perjanjian kredit terkait lama waktu dan pengurangan kewajiban tetapi usaha yang dijalani dahlia selaku debitur tetap mengalami penurunan omzet baik dari penjualan maupun pendapatan, akan tetapi Dahlia selaku debitur tetap memenuhi kewajiban membayar angsuran kredit meskipun meskipun pembayaran kewajiban angsuran kredit tidak terpenuhi sesuai nilainya.

Tertanggal 09 November 2009 pihak danamon Simpan Pinjam telah melayangkan Surat peringatan sesuai SP I No. 225/SP-1/927/1109. Lalu, tanggal 23 Juli 2010 pihak Danamon Simpan Pinjam telah melayangkan surat peringatan II sesuai SP No. 226/SP-2/927/1109 tertanggal 23 November 2009. Tertanggal 13 Juli 2010 Danamon Simpan Pinjam telah melayangkan SP III sesuai SP No.010/DSP/SP-3/0710

“Menyikapi adanya SP-I, SP-II dan SP-III yang diberikan oleh pihak Danamon Simpan Pinjam kepada Ibu Dahlia, Ibu Dahlia telah melakukan inisiatif dan upaya untuk melakukan penjualan terhadap Aset berupa tanah dan bangunan yang mana Surat Kepemilikannya telah menjadi jaminan Kredit saya di Danamon Simpan Pinjam tersebut kepada pihak pihak yang bersedia untuk membeli.

Tanggal 10 Februari 2011 pihak Danamon Simpan Pinjam telah melayangkan surat perihal PEMBERITAHUAN PRA LELANG sesuai No.06/STPL/02/11. Lalu tanggal 28 Desember 2011 pihak Danamon Simpan Pinjam telah melayangkan surat pemberitahuan Lelang sesuai Surat No.B.2055A/ALU.Reg.MDN/1211,” kata Trie Yanto membacakan kronologi yang dibuat oleh Dahlia.

Selanjutnya, menyikapi adanya surat pemberitahuan lelang dari Danamon Simpan Pinjam tersebut, Dahlia telah mendatangi Kantor Danamon Simpan Pinjam di Medan dan didapat keterangan dari saudara Erwin Syahriza selalu pejabat sementara Aset Liquidation Regional Medan.

Dia ingin menyelesaikan kewajiban Kredit tersebut, tapi total keseluruhan kewajiban kredit Ibu dahlia menjadi sebesar Rp 140 juta, pihak Danamon Simpan Pinjam memberikan keringanan Penyelesaian kewajiban kredit dari total semula penyelesaian sebesar Rp 140 juta menjadi sebesar Rp 72 juta, dimana pembayaran dapat dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali pembayaran.

“Lalu, ibu Dahlia pada tanggal 09 Januari 2012 telah melakukan pembayaran sebesar Rp 21,320,000, sebagai bukti itikad baiknya untuk menyelesaikan kewajiban kredit di Danamon Simpan Pinjam untuk 3 (tiga) kali pembayaran pelunasan Kredit di Danamon Simpan Pinjam.

Akantetapi, dikarenakan kondisi keuangan dan usaha dalam keadaaan menururn, dimana seharusnya untuk termin ke dua pembayaran penyelesaian kewajiban kredit saya di Danamon Simpan Pinjam yang seyogyanya harus dibayarkan pada bulan Februari 2012 tetapi Ibu Dahlian tidak mampu memenuhinya pada tanggal 26 April 2012 ibu Dahlia kembali menghadap ke Pihak Danamon Simpan Pinjam di Medan guna memohon pertimbangan penyelesaian dengan menyetorkan uang sebesar Rp 14 juta.

Ditengah keinginan dan upaya Ibu Dahlia untuk melakukan penyelesaian atas kewajiban Kredit di Danamon Simpan Pinjam, akan tetapi dengan tanpa belas kasihan pihak Danamon Simpan Pinjam tetap dan terus melakukan upaya Lelang terhadap Jaminan Ibu Dahlia melalui perantara KPKNL. Ini ada dugaan pelanggaran dalam lelang,” tuturnya.

Atas peristiwa tersebut, Dahlia telah melaporkan dan mengadukan permaslahan tersebut kepada Kementrian Sekretariat Negara. Bapak Presiden Joko Widodo tertanggal 15 Januari 2016

dan mendapat jawaban pada tanggal 2 Februari sesuai Surat Nomor : B-18/Kemensetneg/D-1/Hkm/HK.04.02/02/2016.

“Jadi, dalam kasus ini. Kami akan tetap membela Ibu Dahlia untuk mendapatkan hak haknya. Kami meminta kepada Bapak Kapolda Sumut untuk memperhatikan kasus ini, karena patut diduga ada pelanggaran dalam lelang agunan milik Ibu Dahlia. Selain itu, kami akan menyurati Bapak Kapolda Sumut” kata Ketua GBNN Sumut Trie Yanto Sitepu, SH. ( M. Mendrofa )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *