Nisel, PRi.Com — Hampir 80 persen Pejabat sementara (Pjs) kepala Desa di Nias Selatan terlibat korupsi. Seperti halnya Pjs Kades Sifahuru Asi-Tanah Masa, Sad Lase di Kepulauan Batu Kabupaten Nisel, Provinsi Sumatera Utara, telah dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Nisel November 2019 lalu, karena ditengarai terlibat kasus korupsi pemanfaatan dana desa.

Ironisnya, pihak aparat desa setempat diduga keras terlibat bersama-sama menyelewengkan dana desa.

Berdasarkan data dari sumber yang diperoleh wartawan PRi.Com surat kabar PRESTASI REFORMASI, menyebut Sad. Lase selaku Pjs telah menandatangani surat perjanjian dengan Bendaharanya Julianus Laowo dengan redaksionalnya bahwa pencairan dana Desa TA-2019 tahap pertama sebesar Rp 234.000,000 (dua ratus tiga puluh empat juta) dan tahap kedua Rp357.000.000,- (tiga ratus lima puluh tujuh juta rupiah).

Tujuan surat tersebut yang telah dimeteraikan dan tanda tangan berstempel kepala desa, Sad Lase agar mudah mencairkan dana, dan pernyataan bersedia bertanggung jawab atas sasaran dana tersebut.

Menurut hasil konfirmasi wartawan PRi.Com kepada Julianus Laowo di rumahnya di jalan Raja Sitepu Kelurahan Pulau Tello, mengatakan bahwa dia sekarang kewalahan dan setiap saya pertanyakan soal pertanggung jawaban dana itu kepada Sadoki, ia hanya mengatakan kepada saya, “Tenang saja!”.

Hingga berita ini diturunkan dan pergantian kepala desa definitif, penggunaan dana mencapai Rp. 500 juta tidak jelas, namun diduga untuk pencairan dana itu kelengkapan SPJ telah dipalsukan oleh Kades.

Kasus Ijazah
Selain itu, Sad Lase diduga juga bukan hanya tersangkut kasus masalah Dana Desa Sifahuru Asi tetapi juga sebagai kepala SDN Labuan Rima kecamatan Pulau Pulau Batu Timur, di sana juga dinilai telah menghancurkan masa depan 6 orang generasi bangsa dalam bentuk kasus izajah tamatan SD.

Pasalnya saat Sad Lase menggantikan kepala SDN Labuan Rima, Juni 2016 dengan Asmiring Jambak yang sudah menyelesaiakan proses ujian terakhir bagi kelas 6. Namun setelah Sadoki menjabat kepala sekolah, beraninya melakukan kebijakan untuk mengisi izajah tersebut lalu Asmiring Jambak tidak mau menanda tangani izajah tersebut karena sebagian besar rekayasa Sadoki Lase.

Nasib serupa juga dialami enam siswa antara lain: Senti Media Maduwu, Arliman Laowo, Yanu Fita Duha, Anu Lesatari Gaho, Adrianus Hia, Ariansyah Duha, Muslimat Molo, Wiranda Sofian Lubis, Irwan wijaya Lase juga mengalami nasib yang sama.

Untuk itu, orang tua siswa sangat mengharapkan kejaksaan mengusut Sadoki Lase untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Persoalan ini akan dilaporkan ke Menteri Pendidikan RI karena dinilai sengaja menggagalkan pendi-dikan generasi bangsa. (Yas.Mdw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *