Catatan Nahar Frusta.

Menjadi miskin, menjadi orang tak mampu bukanlah menjadi pilihan. Keadaan ini hadir dan harus diterima dan dijalani walau itu tanpa rasa syukur. Syukurnya hanyalah masih tetap diberi kesempatan hidup dengan penuh perjuangan. Mengikuti proses dari segala bentuk ujian dengan harapan bisa mendapatkan hasil terbaik, setidaknya untuk ukuran sebagai orang miskin.
Menjadi seorang yatim itu kehendaknya sang pencipta. Ditinggal oleh ayah tercinta disaat masih sekolah menengah pertama, memberi kesedihan yang dalam terhadap dirinya. Kehilangan ayah sendiri sebagai orang yang paling bertanggungjawab untuk membiayai hidup dan pendidikannya telah pergi. Tinggal bersama ibu, yang hanya sebagai buruh cuci, membuat luka dan rasa putus asa baginya. Cita-cita untuk menjadi orang yang berpendidikan dan mendapat pekerjaan baik untuk membantu dan mengangkat derajat kehidupan keluarga menjadi hilang.
Kurniawan lanjut study sampai menyelesaikan pendidikan di sekolah lanjutan atas. Tepatnya di SMA Negeri 1 Barus. Salah satu sekolah favorit yang telah banyak melepas alumninya ke berbagai perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah, di sekolah ini bisa mendapatkan Kartu Indonesia Pintar. Artinya pembiayaan sekolah beserta perlengkapannya dapat teratasi dengan baik, sehingga fokus dalam belajar hingga mendapatkan hasil maksimal bisa lolos ke Universitas Sumatera Utara (USU).
Rasa syukur dan kebanggaan hadir ditengah keluarga karena akan menjadi mahasiswa dijurusan Manejemen Sumber Daya Perairan. Kesabaran dan kerja keras dalam menjalani sekolah terbayarkan sudah. Tinggal selanjutnya melakukan pendaftaran ulang yang dibantu oleh para pendidik di SMA Negeri 1 Barus. Kebutuhan administrasi bisa terjamin dari sekolah. Kendala baru muncul ketika memasuki tahap pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Kenyataan pahit muncul karena tidak mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah. Bagaimana mendpatkan dana untuk pembayaran UKT dan biasa hidup tinggal dikota Medsn untuk mengikuti perkuliahan nantinya. Rasa cemas dan keputusasaan untuk bisa berkuliah muncul lagi. Akankah kesempatan ini sirna begitu saja. Adakah cara lain untuk bisa mendapatkan KIP ini atau bantuan lainnya untuk bisa tetap mendaftat dan kuliah di USU?
Akankah ini hanya menjadi catatan perjalanan hidup yang hanya tercatat srbagai siswa berperestasi yang lulus SNBP ke Universitas favorit Universitas Sumatera Utara?. Atau ada pertimbangan baru dari USU sendiri untuk bisa menanpung siswa yang tidak mampu ini tetap bisa kuliah? Ini hanyalah sebuah harapan baru dan yang ujudnya bisa dibuktikan oleh sekolah asal, SMA N 1 Barus dan universitas yang dituju, Universitas Sumatera Utara.