Samosir. PRi.com — Di perbukitan Huta Parik Sabungan, Desa Sarimarrihit, Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, sebuah tugu raksasa menjulang dan kini memasuki tahap akhir penyelesaian. Tugu tersebut adalah Salib Kehidupan atau Silang Hangoluan, yang dibangun di kawasan yang dikenal sebagai titik nol budaya Batak (Habatahon).

Berdasarkan pantauan jurnalis, Minggu (26/1/2026), pembangunan Salib Kehidupan telah memasuki fase finishing. Sejumlah terlihat menyelesaikan detail konstruksi, pengecatan, serta penataan kawasan sekitar tugu. Pembangunan ini telah berlangsung sejak Maret 2025.

Dimulai dengan Ritual Adat

Pembangunan Salib Kehidupan tidak dilepaskan dari nilai budaya Batak. Menurut tokoh masyarakat Kenegerian Limbong, Saut Limbong, peletakan awal pembangunan diawali dengan ritual adat yang dipimpin para tetua adat, termasuk Ketua Lembaga Adat dan Budaya, Raja Bius Sipitu Tali, serta Bius Sagala Raja.

“Ritual adat ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan budaya Batak. Pembangunan tidak sekadar fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual dan kultural,” kata Saut.

Lokasi tugu Salib Kehidupan berada tidak jauh dari Tugu Limbong Mulana, yang selama ini dikenal sebagai salah satu simbol asal-usul marga Limbong. Kedekatan lokasi tersebut semakin menguatkan makna historis pembangunan Salib Kehidupan di kawasan tersebut.

Inisiatif Marga Tertua

Saut menjelaskan bahwa pembangunan Salib Kehidupan merupakan inisiatif Parsadaan Pomparan Limbong Mulana Indonesia (PPLMI), salah satu marga tertua di Kabupaten Samosir. Salib dirancang memiliki tinggi 45 meter dan diharapkan menjadi salib tertinggi di dunia.

Ia menuturkan bahwa falsafah budaya Batak, Dalihan Na Tolu—somba marhulahula, manat mardongan tubu, elek marboru—pada hakikatnya mengajarkan nilai kasih. Karena itu, kehadiran Salib Kehidupan di titik nol Habatahon dinilai sejalan dengan nilai-nilai budaya Batak yang telah hidup sejak lama.

“Sejak dahulu, budaya Batak sudah mengenal dan menerapkan nilai kasih. Salib Kehidupan hadir sebagai simbol tertinggi kasih dan keadilan Tuhan,” ujarnya.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Selain sebagai simbol keagamaan, Salib Kehidupan diharapkan menjadi pemicu penguatan persaudaraan antar warga serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Saut menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi.

Menurutnya, kehadiran Salib Kehidupan akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, mulai dari sektor jasa, kuliner, hingga usaha kecil lainnya. “Ini akan menjadi ikon baru yang membanggakan bagi masyarakat Samosir,” katanya.

Pembiayaan dan Infrastruktur Pendukung

Dari sisi pembiayaan, Saut menyebutkan bahwa hingga tahap saat ini, pembangunan Salib Kehidupan telah menelan biaya sekitar Rp30 miliar. Seluruh biaya tersebut ditanggung oleh Ketua PPLMI, Bernhard Limbong, sebagai inisiator pembangunan.

Anggaran tersebut mencakup perencanaan, konstruksi tugu, hingga pembangunan infrastruktur pendukung. Salah satu infrastruktur yang telah dibangun adalah pengaspalan jalan desa menuju lokasi tugu sepanjang kurang lebih 500 meter.

Visi Pembangunan Bona Pasogit

Kutipan sewaktu peletakan batu pundasi pembangunan, Ketua PPLMI Bernhard Limbong mengatakan, gagasan pembangunan Salib Kehidupan berangkat dari refleksi pribadinya setelah banyak terlibat dalam pembangunan di berbagai daerah lain. Menurutnya, sudah saatnya ia memberikan perhatian lebih kepada Bona Pasogit, tanah kelahirannya.

“Saya merasa terpanggil untuk membangun Bona Pasogit. Berkat yang Tuhan berikan harus dikembalikan dalam bentuk karya,” ujar Bernhard.

Ia sampaikan bahwa Salib Hangoluan dibangun dengan tinggi salib 45 meter dan total ketinggian bangunan mencapai 52 meter dari lantai dasar. Total anggaran pembangunan diperkirakan mencapai Rp50 miliar dan seluruhnya berasal dari dana pribadi. Selain salib, kawasan tersebut juga akan dilengkapi dengan rumah doa.

Bernhard menegaskan komitmennya untuk menuntaskan pembangunan tersebut. “Ini bukan mimpi atau janji. Selama Tuhan memberi saya kesempatan hidup, saya akan menyelesaikan pembangunan ini,” katanya.

Menuju Ikon Wisata Religi

Bernhard berharap Salib Kehidupan dapat menjadi ikon wisata religi bertaraf internasional sekaligus simbol pertemuan nilai agama dan budaya Batak. Ia meyakini kehadiran tugu tersebut akan membawa dampak positif bagi kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Kabupaten Samosir.

Dengan hampir rampungnya pembangunan Salib Kehidupan, masyarakat kini menantikan peresmian tugu tersebut sebagai penanda babak baru pengembangan wisata religi dan pelestarian budaya di tanah Batak. ( Hots/dns)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *