
Koyo Koso, Papua,PRESTASIREFORMASI.Com Hal yang cukup memalukan terjadi di tanah Papua yang selalu menjunjung tinggi adat istiadat, pada pergelaran Pekan Olah Raga (PON) dari cabang olah raga tinju. Petinju di kelas putera 52-56 kg ini mempertemukan antara, Jil Mandagi dari DKI Jakarta bertanding melawan atlet Nusa Tenggara Timur (NTT) Luki Mira Agusto Hari.
Usai laga pertandingan, Jil Mandagi dikejar kejar dan dibogem dengan cukup keras dari pihak sporter sekaligus relawan yang tergabung dalam panitia pelaksana menjaga jalannya pertandingan. Tak hanya Jil, asisten pelatih tinju DKI Jakarta Fadli, juga terkena aksi brutal dan tak bertanggung jawab tersebut.
Parahnya lagi, panitia tak mampu mengantisipasi kebrutalan yang terjadi dengan spontan tersebut dengan baik. Terdengar dari sudut sisi pertandingan dengan kalimat, jaga ke hormatan Papua, jaga ke hormatan Papua,” terdengar dengan jelas. Namun massa yang sudah kerasukan itu, tidak memperdulikan aba aba yang di sampaikan panitia tersebut.
Ini jelas jelas mencerminkan sikap oknum yang dengan mudah terpancing dengan suasana dilapangan.Yang seharusnya setiap atlet terlindungi, bahkan sebaliknya bisa terkena pukulan dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ada pun kronologi kejadian berawal dari keputusan dewan juri yang memenangkan Luki.Keputusan itu memicu ketidak puasan Jil Mandagi yang melakukan protes keras. Sang petinju usai bertanding turun dari ring lalu membanting pintu dan memukulkan spanduk pembatas.
Aksi yang di lakukan Jil ini mematik kemarahan relawan yang tergabung dalam ke panitiaan pertandingan. Upaya yang di lakukan untuk menenangkan atlet itu berimbas dengan adanya pemukulan di luar ring. Yang dengan cepat massa relawan terpancing emosi dengan aksi yang di lakukan Jil.
Video kericuhan ini itu pun dengan cepat beredar di sejumlah aplikasi dunia maya. Tampak dari video yang beredar, rombongan panitia mengejar Jil Mandagi dan berusaha menyerang dengan mengarahkan pukulan ke tubuh Jil. Beberapa relawan yang lolos dari penjagaan tampak melontarkan bogem mentah ke wajah petinju.
Tak terima di bogem oleh oknum yang tidak berkepentingan, pihak tinju DKI Jakarta pun melaporkan yang bersangkutan ke Polda. Namun laporan tersebut akhirnya berujung dengan mediasi perdamaian.” Ujungnya mediasi, demi tinju DKI Jakarta. Masih ada petinju kami yang akan bertanding besok ,” ujar Fadli yang mendampingi Jil di Polda.
Hendaknya dengan kejadian ini bisa sebagai pelajaran bagi petinju petinju tanah air. Jangan mengandal kan emosi sesaat yang meriugikan diri sendiri. Tampilan dengan maksimal dan skil yang cukup mahir menghadapi lawan. Sudah barang tentu dengan stamina yang kuat dan prima serta energik .( Saiful AP/ WK).






