PRi.Com – Kematian aktor sekaligus pebisnis Ashraf Sinclair, pada Selasa (18/2) kemarin, mengejutkan banyak pihak. Ashraf dikabarkan terkena serangan jantung dan meninggal di usianya yang ke-40 tahun.

Padahal, suami dari penyanyi terkenal Bunga Citra Lestari (BCL) itu dikenal sebagai sosok yang rajin berolahraga. Terlebih, ia juga tidak memiliki riwayat penyakit jantung, sebagaimana dikatakan oleh manajer BCL, Doddy.

SQR - Ashraf Sinclair
Suami Bunga Citra Lestari, Ashraf Sinclair. Foto: Instagram / @ashrafsinclair

Kegemarannya dalam berolahraga ia tunjukkan dengan menjadi bagianb dari salah satu pendiri klub olahraga CrossFit bernama CrossFit Equator. CrossFit memang menjadi salah satu olahraga yang ditekuni Ashraf.B

erbicara soal CrossFit, dijelaskan dalam situs Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), CrossFit adalah program latihan yang menggabungkan dua unsur sistem aerobik dan anaerobik yang menekankan perpaduan latihan interval intensitas tinggi, angkat beban, senam, dan disiplin lainnya dalam satu format latihan sirkuit.

Gerakan-gerakan dalam CrossFit meliputi beberapa kegiatan yang sering dilakukan sehari-hari, seperti jongkok, menarik, mendorong, dan lain-lain. Latihan biasanya menampilkan beberapa variasi gerakan, seperti squat, push-up, pull-ups, dan angkat beban.

CrossFit terkenal dengan pola latihan yang keras dan ketat. Semisal, dalam satu sesi latihan, seseorang akan diminta untuk melakukan 100 kali push-up, 100 pull-up, 100 sit-up, dan 100 squats.

Suami Bunga Citra Lestari, Ashraf Sinclair. Foto: Instagram / @ashrafsinclair

CrossFit juga sering melibatkan peralatan olahraga, mulai dari peralatan gym hingga menggunakan beban berat tubuh sendiri, tali tambang, dan mobil. Setiap orang diberikan beban yang sama saat menjalankan latihan CrossFit, sistem ini lebih-lebih tv dikenal dengan “one size fit all”.

Sehingga tidak ada perbedaan atau porsi latihan khusus bagi siapapun yang menjalankannya, baik pemula maupun orang yang sudah berpengalaman.Itu semua dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot, ketahanan jantung, dan fleksibilitas tubuh.

Oleh karena intensitasnya yang tinggi dan ketat, olahraga CrossFit sering dianggap sebagai metode latihan paling berhasil. Meski begitu, metode CrossFit juga diketahui memiliki risiko cedera yang cukup tinggi.

Studi yang diterbitkan dalam Orthopaedic Journal of Sports Medicine (OJSM) menyebut, 20 persen peserta CrossFit cenderung melukai dirinya sendiri atau dengan kata lain mereka sering mengalami cedera.

“Tingkat cedera CrossFit adalah sekitar 20 persen, yang berarti 20 persen orang yang melakukan latihan CrossFit secara teratur akan terluka di beberapa titik,” ujar Cuyler Hudson, seorang ahli terapi fisik di Finish Line.

Cedera yang biasanya dialami para peserta berupa gangguan muskuloskeletal dan rhabdomyolysis. Gangguan muskuloskeletal adalah suatu kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang. Sedangkan rhabdomyolysis adalah suatu kondisi ketika seseorang mengalami kerusakan otot.

Dalam jurnal lain yang diterbitkan National Strength and Conditioning Association disebutkan, 73,5 persen peserta CrossFit mengalami cedera saat melakukan latihan. Kebanyakan dari mereka mengalami gangguan muskuloskeletal pada bagian bahu dan tulang belakang.

Ahli menyarankan, para pegiat olahraga kebugaran yang memiliki pola latihan seperti CrossFit untuk senantiasa memerhatikan kondisi tubuh mereka agar terhindar dari cedera. Mereka juga disarankan agar memahami gerakan-gerakan yang diberikan instruktur olahraga. Saat tubuh merasa lelah, ada baiknya untuk tidak memaksakan diri dan berhenti melanjutkan latihan. (h/sumber: kparan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *