Medan, PRi.Com – Hujan deras yang turun Rabu (29/1/2020) dini hari , sejak pukul 02.00 – hingga pagi hari ini pukul 06.52 WIB, menyebabkan banjir besar melanda Blok 8 Griya Martubung, kelurahan Besar, kecamatan Medan Labuhan, kota Medan.

Ketinggian air di dalam rumah warga, misalnya di Jalan Jala Permai (JP) 9 minimal 30 cm, bahkan di sejumlah kawasan lainnya seperti JP 1,2,3,4,5,6,7,8, 10 dan 11 dapat mencapai 40 – 50 cm.

Salah seorang warga mendorong motornya yang mogok saat melintas dari JP 9.

Sebagian warga yang kondisi rumahnya cukup parah terendam air, telah mengungsi ke Masjid Al Faisal Blok 8 Griya Martubung.

Selain itu, ada sebagian warga tidak berangkat kerja karena membenahi rumah maupun mengungsi atau terkepung air yang cukup dalam. Banyak Anak sekolah pun terpaksa bolos karena sulitnya melintasi banjir.

Sampai berita ini ditayangkan, belum ada reaksi cepat dari Pemerintah Kota (Pemko), aparat Camat, maupun Kelurahan yang turun ke lokasi banjir untuk membantu kesulitan warga.

Salah seorang pemuka masyarakat Agus Salim Siregar, mengungkapkan banjir kali ini tergolong kondisinya parah, setelah banjir serupa pernah melanda Blok 8 Griya Martubung pada tahun 2014.

Di jalan jala Permai 9 yang relatif lebih tinggi dari JP lainnya, ketinggian air sudah mencapai 35 cm.

“Banjir pada tahun 2014 lalu juga cukup parah, sebagian besar warga sempat mengungsi baik ke mesjid maupun ke rumah saudaranya,” ujar Agus Salim.

Berdasarkan pengalaman warga di Blok 8, biasanya jika banjir setinggi ini, air baru surat dan kering jika sudah 2-3 hari. Itupun jika hujan tidak turun deras lagi.

Berbagai faktor penyebab banjir, selain karena debit air hujan akibat turun deras, juga kolam penampung air yang kurang berfungsi karena telah ditumbuhi eceng gondok.

Beko yang terpajang di kolam penampungan Griya Martubung kurang efektif melakukan pengerukan, sehingga saat hujan deras, blok 8 banjir besar.

Memang saat ini, Pemerintah Kota Medan sedang melakukan pembersihan eceng gondok dan pengerukan lumpur, namun dengan hanya mengerahkan 2 beko, dan jam kerja yang kurang terkontrol sehingga terkesan lamban, sehingga diperkirakan baru selesai dua bulan ke depan.
Sementara, perkiraan BMG puncak musim hujan justeru terjadi pada akhir bulan Februari 2020. (hps)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *