Catatan Kecil: Tamparan Jenderal

Adalah sunnatullah, seorang guru (dosen) mendidik anak, menamatkan anak dan mewisuda anak. Sudah kebiasaan pula, dalam prosesi pelepasan anak-anak ini, diundang tokoh dan pejabat memberikan tausiyah. Yang jadi masalah, tausiyahnya ini, kadang mengenakkan hati membuat tertawa, kadang menyesakkan hati membuat hati galau, risau dan sedih. Yang lebih parah lagi, bila tausiyahnya “menampar” para dosen, yang sangat amat terdidik.

Ini kisah nyata. Yang sangat amat terdidik mendapat “tamparan” tausiyahnya jenderal. Tempus delicti-nya, Sabtu, 19 Oktober 2019, tepatnya sekira antara Pk.9 wib sampai Pk.10.30 Wib. Locus delicti-nya, di Tiara Convention Hall, Hotel Tiara, Jl. Imam Bonjol, Medan. Yang menampar Letjen TNI (Purn.) Edy Ramayadi, Gubernur Sumatera Utara.

Saya lihat, mereka yang ditampar tertawa kecicikan, seperti tidak ada kejadian, bahkan ada yang tidak mendengarkannya. Tapi bagi saya tamparan itu sangat menyakitkan, membekas, membiru-haru, menyesakkan dada, menelanjangi diri secara vurgal.

Saya yang katanya mendekati status “yang sangat amat terdidik”, yang beragama (Islam), yang bertatus pendidik, anti-korupsi, “pensiunan” penatar P-4, yang bermoral Panca Sila, ummat yang mengaku taat beragama; tidak dapat menjamin anak didiknya tidak masuk penjara, dan bahkan tidak menjamin dirinya untuk tidak menjadi penghuni penjara (baca: LP).

Tanggungjawab saya digugat, mengapa penghuni penjara semakin bertambah. Siapa yang salah? Apa yang salah? Bila tidak ada yang bertanggung-jawab, saya nyatakan: “Saya gagal menjadi pemimpin (sekelas apapun), menjadikan generasi yang baik”.

Akibatnya, menurut jenderal, LP telah sesak, over kapasitas. Untuk mengatasi “peminat” kamar LP yang tinggi ini, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly akan menambar kamar LP. Mentri meminta tanah untuk perluasan LP kepada Gubernur Sumatera Utara. Permintaan itu, menurut saya wajar saja, karena juara-1 jumlah nara pidana tahun 2019, adalah di Provinsi Sumatera Utara 23.584 narapidana dengan jura pencorot di Sulawesi Barat 646 orang.

Penghuni Lapas, terus bertambah. Sepanjang tahun 2018 bertambah 24.197 orang sehingga jumlah penguni menjadi 256.273 orang. Padahal, kapasitas hunian hanya bisa memuat 126.164 orang. Bayangkan bagaimana padatnya LP. Dampak turunannya, salahsatunya kenaikan biaya makan narapidana. Biaya makan tahun 2017 sebesar Rp 1,088 triliun, pada 2018 naik menjadi Rp 1,391 triliun dan tahun 2019 melonjak menjadi 1,79 triliun. Dampak lainnya, kerusuhan, pembakaran penjara, dan keluarnya nara-pidana.

Menkumham Yasonna Laoly berbincang dengan narapidana ketika mengunjungi Lapas Klas IIA Banceuy, Bandung beberapa waktu lalu. (sumber foto: Antara)

Yang lebih menampar saya, yang ngakunya pengurus ormas Islam terbesar, yang ngakunya “tokoh Islam”, yang bicaranya ke-ummat-an, moralisnya Panca Sila, ternyata yang menjadi ladang dakwahnya terus menambahi penguni LP.

Padahal, menurut Jenderal, di Fillandia yang agama mayoritasnya non-Islam, yang ideologinya non-Panca Sila, penghuni penjara bukan bertambah tapi makin berkurang. Penguni LP semakin sepi, akhirnya beberapa penjara harus ditutup karena sepi peminat.

Bayangan kita, tentang penjara adalah bangunan besar yang dikelilingi tembak tebal, kuat, kokoh, di atasnya terdapat berlapis-lapis kawat berduri, bila perlu dialiri listrik dan menara pengawas. Ketika Ramadhan lalu, saya memasuki LP Wanita di Medan, saya harus melewati pintu yang berlapis untuk bertemu dengan “siswa” binaan.

Orang-orangnya juga “jarang senyum”, pernuh keseriusan karena takut bila nara pidana akan lari. Terdengar juga kisah-kisah pilu para penghuni penjara yang belum bermasyarakat.

Di negara-negara Skandinavia, penjara yang seram telah berubah. Negara Skandinavia telah menerapkan penjara terbuka sejak tahun 1930-an, yang ditujukan untuk memperkenalkan kembali kehidupan normal kepada para tahanan.

Semisal negara Fillandia, sekitar sepertiga napi berada di penjara terbuka. Hasilnya, tahanan yang sudah keluar dari penjara terbuka jarang ditangkap kembali sehingga jumlah orang yang masuk penjara berkurang hampir 20 persen. Lama-kelamaan penghuni berkurang, penjara ditutup.

Penjara terbuka di Fillandia, penjara tanpa pagar, tanpa kunci dan tanpa seragam nara pidana. Napi atau keluarganya tidak mengeluarkan uang, tapi malah digaji melebihi UMR, sebesar Rp 103 ribu per hari. Para nara pidana memiliki telepon genggam dan bebas berbelanja ke kota. Hasilnya, Finlandia menjadi negara yang paling sedikit jumlah napinya di Eropa.

Dengan penjara terbuka ini, menurut Esa Vesterbacka, kepala Criminal Sanctions Agency , maka penjara tidak memerlukan sistem keamanan dan personil tambahan. Biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan napi juga berkurang sepertiganya.

Tamparan itu, membuat saya malu. Saya tidak tahu, apakah 1.600-an yang hadir juga merasa tertampar. Namun tamparan itu, membuat saya menjadi semakin sadar. Saya tidak ada apa-apanya. Saya ingin belajar dari negara Fillandia dengan penjara humanisnya. Penjara dengan faasilitas sekelas hotel berbintang.

Saya ingin belajar dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang hanya berkuasa 29 bulan, pada kekhalifahan Bani Ummayah seluas setara degan 39 negara, ternyata mampu bisa menciptakan NOL orang miskin (penerima zakat). Saya ingin belajar….

  • Dr.Ir.Hamzah Lubis, SH.M.Siwater eco-tourism resort gunungtua, west pasaman, west sumatera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: