Kebangkitan itu ditandai dengan kenaikan penjualan mencapai 10 persen, Suzuki yang berkantor pusat di Minami-ku, Hamamatsu, Jepang ini, kembali menunjukkan jati diri sebagai pemain penting di dunia sepeda motor, khususnya di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri, Suzuki adalah industri otomotif yang sudah punya rekam jejak kuat di Indonesia, termasuk ketika mereka dulu pernah berkibar lewat Shogun, yang penjualannya laris manis.

Suzuki pernah identik dengan citra sebagai pionir. Berbekal slogan “Inovasi Tiada Henti” pada dekade 1990-an, mereka memperkenalkan motor-motor ikonik, seperti Shogun dan Satria, yang memang penuh inovasi. Sayangnya, lewat Shogun pula, Suzuki “kena batunya”. Akibat inovasi kebablasan, ditambah keterlambatan masuk ke segmen skuter matik, mereka kehilangan relevansi.

Selama belasan tahun, praktis hanya Satria yang mampu menggendong reputasi maupun penjualan Suzuki. Padahal, Satria adalah sepeda motor underbone kopling yang semestinya sudah tidak lagi dilirik pada era serba-matik.

Namun, di sinilah poinnya. Kendati terus mengeluarkan produk yang mengecewakan dan gagal di pasaran, rasa percaya terhadap Suzuki senantiasa terpelihara, salah satunya berkat konsistensi Satria.

Suzuki Avenis 125

Suzuki Avenis 125. FOTO/sfi.co.id

Permasalahan utama Suzuki bukan terletak pada kualitas produk dalam artian mesin dan suku cadang, melainkan soal desain yang dinilai tidak cocok dengan selera pasar Indonesia. Suzuki Avenis 125 rilisan 2022, misalnya, mendapat kritikan pedas dari khalayak. Hal itu berlangsung terus-menerus, bahkan sampai-sampai Suzuki mendapat stigma sebagai “motor Vrindavan”.

Vrindavan merupakan sebutan peyoratif bagi negara India. Menyebut motor Suzuki sebagai “motor Vrindavan” tentu bukanlah pujian, meski sebenarnya produk Suzuki selalu laku keras di India dan tak pernah berhenti berinovasi di sana.

Celakanya, spirit itu tidak terlihat di Indonesia selama bertahun-tahun. Konsumen di sini menganggap Suzuki hanya membawa sesuatu yang sudah laku di India untuk dijual di Indonesia, meski anggapan tersebut akhirnya ditepis oleh pihak pabrikan.

Namun, keterpurukan tersebut perlahan sirna. Angin mulai berpihak pada Suzuki ketika Burgman Street 125EX, yang awalnya dirilis pada 2023, mendapat penyegaran pada pertengahan 2025. Dengan desain lebih sporty dan elegan, kehadiran skutik gambot ini menjadi titik balik peruntungan Suzuki.

Burgman Street 125 EX

Burgman Street 125EX sukses mencatatkan diri sebagai skutik Suzuki pertama yang mampu meruntuhkan dominasi Satria di klasemen internal. Berdasarkan data September 2025, kontribusinya terhadap total penjualan motor Suzuki di Indonesia mencapai 60 persen. Jelas, itu pertanda positif, menandai pertama kalinya Suzuki mampu memasarkan skutik yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia.

Tak puas sampai di situ, pada September 2025, Suzuki meluncurkan skutik model terbarunya. Tak seperti Burgman Street yang mengusung gaya sporty, skutik anyar ini menganut gaya retro.

Skuter yang dimaksud sebenarnya adalah versi pembaruan dari Avenis 125, yang sebelumnya dihujani hujatan. Ya, setelah Avenis 125 dikritik habis lantaran “desain Vrindavan”-nya, Suzuki serius berbenah.

Dari situlah lahir Access 125. Desainnya sangat mirip dengan Saluto, hasil karya desainer Italia, Alessandro Tartarini, yang dipasarkan Suzuki di Taiwan. Namun, Access 125 sebenarnya adalah motor yang diimpor dari Suzuki India.

Dengan dirilisnya Access 125, yang dalam sebulan saja sudah laku 350-400 unit, Suzuki memiliki tiga skutik andalan, yaitu Burgman Street, Access, serta NEX, yang punya dua sub-varian lagi (NEX II dan NEX Crossover). Menurut keterangan pihak Suzuki, skutik-skutik mereka itulah yang kini jadi andalan dengan porsi penjualan mencapai 90 persen. Khusus NEX, pangsa pasar utamanya adalah fleet alias motor dinas perusahaan.

NEX II

Seretnya penjualan sempat membuat banyak dealer dan bengkel Suzuki gulung tikar. Namun, hal itu tak membuat mereka kehilangan akal. Justru, dari situasi sulit itulah Suzuki mengembangkan ekosistemnya lagi dengan lebih matang.

Pertama, dengan meluncurkan aplikasi MySuzuki. Konsumen bisa langsung memesan suku cadang asli dari ponsel. Digitalisasi aftersales ini merupakan langkah krusial untuk menjaga kesetiaan konsumen.

Kedua, dengan merevitalisasi jaringan dealer fisik. Lewat PT Indo SunMotor Gemilang (ISG), Suzuki menyebar 11 outlet strategis untuk menjangkau kembali pelanggan yang sempat merasa ditinggalkan. Dealer-dealer baru ini tersebar di berbagai wilayah, dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Sumatra Utara.

Fasilitas yang ditawarkan dealer di bawah bendera ISG pun tidak main-main. Dengan standar layanan 3S (Sales, Service, Spare Parts), dealer-dealer itu didukung oleh teknisi bersertifikat global melalui Suzuki Service Qualification System (SSQS) dan dilengkapi peralatan diagnosis canggih, seperti Suzuki Diagnostic System II (SDS II). Teknologi tersebut memastikan perawatan unit tetap presisi, meski bengkel-bengkel umum mungkin belum familiar dengan jeroan mesin terbaru Suzuki.

Langkah revitalisasi seolah menjadi pesan kuat bahwa Suzuki tidak sedang main-main dengan napas keduanya. Upaya pembenahan menyeluruh, mulai dari perbaikan desain hingga penguatan infrastruktur, akhirnya berbuah manis pada catatan penjualan di penghujung tahun.

Acces

Suzuki sukses menutup 2025 dengan penjualan lebih dari 16 ribu unit, naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Tentu, angka tersebut masih sangat kecil, atau hanya 0,25 persen dari total market share sepeda motor di Indonesia. Namun, langkah-langkah tepat yang dilakukan Suzuki sejauh ini sudah membawa mereka sedikit lebih maju ketimbang sebelumnya. Maka, kepada Honda dan Yamaha, khususnya, waspadalah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *