Catatan akhir ramadhan : Nahar Frusta.

Satu dari banyak hikmah ramadhan itu adalah menumbuhkan empati sosial dengan rasa lapar. Empati sosial ini ditujukan kepada fakir miskin yang dalam kesehariaannya menahan rasa lapar, amarah dan nafsu. Sesungguhnyalah fakir miskin selalu melaksanakan ibadah puasa–tidak marah, tidak benci, tidak sombong dan sabar direndahkan atas empati dari orang yang mempertonton kemiskinan mereka.

Hebatnya fakir miskin menjadi ladang bagi banyak orang membanggakan kesolehannya, membesarkan diri dengan menikmati duka nestapa menjadi kesombongan dan mengumbar pahala(?)

Sesungguhnya mereka haruslah dilepas dari kemiskinan itu dan menjadi tanggungjawab bersama. Setidaknya kita tidak membiarkan kemiskinan berkelanjutan dan menjadi ladang pahala untuk kita. Atau biarkan saja mereka nikmati sebagai kepatuhan terhadap Allah dengan rajin beribadah, ikhlas dan sabar atas kehendakNya.

Sebagai fakir miskin, mereka adalah penerima zakat infak dan sedekah tak pernah menggugat untuk mendapatkan “keistimewaan” tersebut, karena hak tersebut adalah keadilan dariNya. Apalagi kefakiran dan kemiskinan menjadikan diri lebih bersyukur dan bersabar, berserah diri atas nikmat dariNya.

Ini hari terakhir puasa ramadhan. Akankah hari terakhir bagi fakir miskin berpuasa?Untuk puasa ramadhan, pastilah. Akankah empati sosial akan selalu hadir kepada mereka sebagai buah yang kita dapat setelah berpuasa ramadhan? Adakah satu hikmah puasa ramadhan itu telah kita dapatkan, sehingga merobah cara pandang dalam menilai fakir miskin? Dengan melaksanakan empati sosial berkelanjutan dalam senyap, tanpa tepuk tangan.Itu juga hikmah dari puasa ramadhan.(Bg NF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *