Lima Problema Krisis AS-Iran belum Berakhir

Warga Iran membakar bendera AS dan Israel selama protes anti-AS atas pembunuhan Qasem Soleimani di Teheran, 4 Januari 2020

Patut disyukuri, krisis yang dipicu aksi pembunuhan komandan tertinggi Iran, Qasem Soleimani, oleh Amerika Serikat tidak meningkat menjadi perang dalam skala penuh.

Yang terjadi sekarang justru penurunan eskalasi.

Namun demikian, tidak ada faktor mendasar yang dapat mengubah status kedua negara yang berada di ambang perang. Inilah mengapa krisis ini masih jauh dari selesai.

1) Penurunan eskalasi hanya bersifat sementara

Apa yang dilihat sejumlah analis sebagai penurunan eskalasi bukanlah hal yang baik.

Para pemimpin Iran – yang sangat terkejut dengan pembunuhan Qasem Soleimani – melakukan berbagai upaya untuk menyerang balik.

Iran ingin merespons dengan memukul target AS dan ingin sasarannya jelas. Karena itulah, mereka menggunakan rudal yang diluncurkan dari wilayahnya sendiri.

Tetapi ada kendala praktis dan politis dalam tindakannya. Iran ingin melakukannya dengan cepat, namun faktanya kekuatan mereka tidak seimbang. Dan itulah sebabnya mereka tidak mau memulai perang secara habis-habisan.

Perhitungan seperti ini, sebagaimana dijelaskan berulang kali oleh juru bicara pemerintah Iran, bukanlah opsi yang tertutup sama-sekali.

Juga ketika ada tuntutan agar Iran bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat penumpang Ukraina adalah upaya lain untuk mengurangi ketegangan. Ini salah.

Respons alami Iran adalah menolak tuduhan bahwa pesawat itu jatuh akibat rudalnya.

Tetapi ketika AS memiliki data intelijen yang membuktikan sebaliknya, dan ketika penyelidik Ukraina menemukan bukti-bukti adanya serangan rudal, dan penyelidik independen membuktikan kebenaran video yang menunjukkan pesawat ditembak jatuh, Iran tidak punya banyak pilihan selain mengubah taktik.

Rescue teams are pictured amid the wreckage after a Ukrainian plane carrying 176 passengers crashed near Imam Khomeini airport in the Iranian capital Tehran early in the morning on January 8, 2020
Missil yang menghantam pesawat Ukrainia yang membunuh 176 penumpang dan awak pesawat

Memang, tidak lama setelah alat-alat berat mulai membersihkan puing-puing dari lokasi kecelakaan, Iran jelas tahu persis apa yang telah terjadi.

Jika ada dugaan kecelakaan, maka ada alasan bagi pihak berwenang untuk membiarkan puing-puing itu tak tersentuh.

Ketika negara mengakui pesawat itu jatuh akibat rudal mereka sendiri, ini lebih terkait masalah dalam negeri. Hanya beberapa bulan yang lalu, ada gelombang unjuk rasa di Iran terhadap praktik korupsi dan masalah ekonomi.

Lihatlah betapa cepatnya aksi protes muncul kembali. Jadi ini lebih menyangkut masalah di dalam negeri yang eskalasinya tidak menurun jika dibanding dengan perseteruannya dengan AS.

2) Kebijakan AS tidak berubah

Mengapa AS membunuh Soleimani dan berusaha menyerang seorang pejabat senior Iran di Yaman?

AS mengklaim – barangkali karena alasan hukum – bahwa tindakan itu dilakukan untuk mencegah serangan serius dalam waktu dekat terhadap kepentingan AS.

Argumen ini belum meyakinkan banyak para analis atau para pengkritik Presiden Trump di Washington.

Kemungkinan besar serangan itu merupakan upaya membangun kembali garis pencegahan yang jelas. Dalam jangka pendek langkah ini kemungkinan berhasil. Iran harus menyesuaikan segala langkahnya di masa depan dengan sangat hati-hati.

Tetapi, pada saat yang sama ketika Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran, dia juga mengisyaratkan bahwa dia masih ingin keluar dari Timur Tengah. Dia melihat persoalan di wilayah itu sebagai masalah orang lain. Sikap seperti ini jelas akan merusak kekuatan pesan pencegah yang sudah dikirimkan.

AS akan terus melumpuhkan ekonomi Iran. Tapi itu belum membawa Teheran untuk maju ke meja perundingan sekaligus membuatnya menyerahh. Alih-alih, sanksi ekonomi membuat Iran memberanikan diri untuk menyerang balik.

AS ingin melipatgandakan pukulan terhadap Teheran dan secara signifikan mengurangi sumber-sumbernya yang disebarkannya ke wilayah tersebut. Barangkali AS tidak bisa memiliki keduanya.

3) Tujuan strategis Iran tetap sama

Ekonomi Iran kemungkinan sedikit terguncang dan banyak warganya barangkali semakin tidak bahagia, tetapi ini adalah “rezim revolusioner”.

Situasi seperti itu tidak akan secara tiba-tiba membuat kekuasaan akan berakhir. Kelompok-kelompok seperti Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terlalu kuat.

Mereka merespons masalah dalam negeri dengan melakukan pengawasan secara ketat dan mendorong kembali untuk melawan tekanan AS. Inilah yang akan terus berlanjut.

Tujuan strategis Iran adalah mendorong AS keluar dari Timur Tengah, setidaknya di Irak, dan ini kemungkinan lebih masuk akal untuk direalisasikan ketimbang sebelum pembunuhan Soleimani.

Dari sudut pandang otoritas Iran, kebijakan Teheran yang diterapkan selama ini banyak menyumbang keberhasilan.

Misalnya saja, mereka berhasil menyelamatkan rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah dan memungkinkannya untuk membuka front baru melawan Israel. Kebijakan seperti itu juga berpengaruh secara signifikan di Irak.

Karena kontradiksi dalam kebijakan Presiden Trump, sekutu AS di kawasan ini merasa semakin mandiri.

Arab Saudi telah mengeksplorasi dialog tingkat rendah dengan Teheran; Turki akan menempuh jalannya sendiri dan menjalin hubungan baru dengan Rusia. Hanya pemerintah Israel yang tampaknya berpikir bahwa pembunuhan Soleimani menandakan keterlibatan baru dari Trump di wilayah tersebut.

Mereka mungkin kecewa.

Perbedaan pendapat di dalam negeri Iran dan ekonomi yang hancur dapat mendorong Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran untuk meningkatkan tekanan pada AS dari waktu ke waktu.

Iran baru saja mengalami dua serangan dahsyat dan situasi ini akan melelahkan mereka untuk membalas dendam.

4) Ada kontradiksi dalam posisi Irak

Ada tanda-tanda penarikan pasukan AS di Irak yang tampaknya kini lebih terang daripada masa-masa sebelumnya.

Pemerintah sementara Irak berada dalam krisis setelah mengalami gelombang protes rakyatnya sendiri. Banyak orang yang tidak senang dengan kehadiran pasukan AS dan pengaruh Iran di negara itu.

Pemungutan suara parlemen yang tidak mengikat telah menempatkan persoalan penarikan pasukan AS menjadi agenda penting. Ini tidak berarti bahwa pasukan AS akan ditarik besok, tetapi akan membutuhkan beberapa upaya diplomasi yang sedemikian rupa agar mereka tetap di sana.

US Army paratroopers from the 82nd Airborne Division arrive at Ali Al Salem Air Base, Kuwait, January 2, 2020
AS baru-baru ini meningkatkan jumlah pasukan di wilayah tersebut

Sebaliknya, Presiden Trump telah mengancam akan membekukan dana pemerintah Irak di bank-bank AS jika mereka memaksa pasukannya ditarik.

Keterlibatan AS di Irak itu masalahnya. Ketika pasukan mereka dan sekutunya menghadapi kelompok militan ISIS di Irak, hal itu selalu dipandang sebagai penempatan pasukan AS dalam jangka panjang. Setelah kekhalifahan ISIS berhasil dihancurkan, pasukan AS diharapkan tetap berada di Irak selama bertahun-tahun.

Jika pasukan AS ditarik, hal itu akan mempersulit untuk mencegah kebangkitan ISIS.

Tetapi hal ini juga akan membuat kehadiran pasukan AS yang tersisa di wilayah timur Suriah tidak dapat dipertahankan, karena keberadaan mereka sebagian besar didukung dari pangkalan AS di Irak.

Perdebatan tentang kehadiran pasukan AS di Irak baru saja dimulai – dan apabila AS kalah, maka Iran kemungkinan menjadi pemenangnya.

5) Kesepakatan nuklir merupakan masalah terbesar

Akar dari krisis terakhir ini adalah ketika pemerintahan Trump mundur dari kesepatan nuklir Iran pada Mei 2018.

Semenjak saat itulah, AS memberikan tekanan secara maksimal kepada ekonomi Iran dan Iran melawannya dengan menggelar kampanye di kawasan regional dengan secara berturut-turut melepaskan berbagai batasan yang diberlakukan oleh perjanjian tersebut.

Jika kesepakatan itu belum sepenuhnya sirna, maka satu-satunya alasan agar perjanjian itu tetap hidup dalah bahwa tidak ada orang lain selain Presiden Trump yang mau melihatnya runtuh. Kecuali jika semuanya berubah, maka itu adalah awal dari perjalanan akhir.

Kesepakatan itu penting. Sebelum perjanjian, ada risiko perang yang sangat nyata – di mana Israel (atau kemungkinan AS dan Israel bersama-sama) kemungkinan akan menyerang infrastruktur nuklir Iran.

Iran akan berusaha menjaga agar negara-negara lain yang menandatangi perjanjian itu berada di pihaknya. Tapi ini krisis ini memburuk.

Agaknya tidak ada cara lain, terlepas dari upaya negara-negara Eropa, untuk meringankan tekanan ekonomi pada Teheran. Akhirnya perjanjian itu mungkin akan runtuh dan, sementara itu, Iran mungkin saja semakin dekat dengan program bom nuklirnya.

Tetapi apa pun yang terjadi dengan perjanjian itu sendiri, kebijakan Presiden Trump jelas akan menarik AS kembali ke Timur Tengah, di saat kebijakan keamanan nasional AS berusaha untuk menariknya. (h/sumber:bbcindonesia))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: