Dr.Ir.Hamzah Lubis, SH. M.Si
Dosen ITM dan Ketua PW.LPBI NU-SU

Pada hari Isnin, 25 November 2019 lalu, saya tidak  ikut apel pagi di kantor.  Saya menghadiri Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2019 tingkat Kota Medan di SMP Negeri-11 Medan. Insipektur Upacara adalah  Walikota Medan. Upacara ini  dihadiri para petinggi Kota Medan, guru dan juga anak didik. 

Dr. Ir. Hamzah Lubis

Upacara berlangsung khitmad. Ketika pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan- RI  Nadiem Anwar Makarim dibacakan, beberapa kali peserta upacara bertepuk tangan. Pidatonya memberikan sinyal prubahan yang radikal.  Tanda tagarnya adalah #merdekabelajar dan #gurupenggerak. 

Pada upacara tersebut, saya terenyuh.  Bahkan hampir menitikkan air mata ketika “hymne  guru”, ciptaan Sartono dialunkan.  Saya memposisikan sebagai murid.  “Terpujilah.  Wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terimakasihku tuk pengabdianmu. Engkau bagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksanak embun penyejuk dalam kehausan.  Engkau  patriot pahlawan  bangsa tanpa tanda jasa”.

Pidato Kebudayaan       

Copi  pidato Mendikbud  sudah saya peroleh sehari sebelumnya.  Pidato itu, mendapat  sambutan banyak pihak.  Beberapa kali peserta upacara bertepuk tangan, ketika teks pidato dibacarakan inspektur upacara. 

Saya juga memuji  keberanian untuk berubah.    Tapi saya berharap perubahan itu berbudaya.  Saya juga berpendapat bahwa pidato Menteri itu, bukan saja menteri “pendidikan” tapi juga menteri “kebudayaan” dari negara yang bernama Indonesia.

Dalam budaya Indonesia, menyebut  seseorang  dengan penyebutan “nama” penghargaan. Tidak dengan menyebut nama “kecil”, kalaupun nama dengan “nama gelar”.  Untuk menyebut  “wanita”  akan lebih terhormat dan berbudaya dengan “per-empu-an”.  

Dalam tradisi berbudaya, untuk lelaki disebut dengan  “tuan”, “bapak” “ Ki”, untuk wanita dengan sebutan “puan”, “ibu”  “nyai” dan lainnya. Dalam dunia pendidikan ada sebutan penghargaan gelar semisal  “doktor”, “prof”, penghargaan profesi “bapak guru”, “ibu guru”, “bapak dosen” dan lainnya.

Saya, sejak kecil diajarkan dan terbiasa memanggil  seseorang dengan sebutan penghormatan.  Dengan sebutan: tuan,  bapak, Ibu, abang, kakak, adik, ananda, dan lainnya.

Sebutan nama, kalau sebaya.  Sebutan tergantung pada perkiraan usia.  Bahkan, kalaupun saya menganggap seusia,  atau bahkan usianya lebih muda, untuk penghormatan saya  sebut “abang”.

Budaya “anda”

Maaf, saya tidak terbiasa menyebut orang dengan sebutan “anda”.  Apalagi untuk orang yang telah mengajari baik-buruk, yang memperkenalkan  huruf dan angka, yang mengajari berhitung, mengajari adap dan sopan-santun, akhlak, yang lebih tua minimal telah dituakan,  yang disebut “guru”.  Saya, hanya akan menyebut  orang dengan kata “anda”, ketika saya sudah dongkol, sudah marah, ketika hormat saya hilang. 

Saya tidak tahu, apakah  pradigma budaya sekarang,  menyebut kata “anda” itu adalah sebuah penghormatan.  Penghormatan kepada  orang yang berjasa, peghormatan kepada orang yang lebih tua, penghormatan kepada guru yang pahlawan tanpa tanda jasa? 

Bagi saya, saya tetaplah murid di hadapan guru.  Oleh karena itu, saya tidak pernah menyebut “abang” kepada guru (dosen) yang usianya di bawah saya.  Bahkan dalam forum-pun, jika saya tahu ada guru saya di forum tersebut, saya sampaikan hormat saya kepadanya.  Ayah, alm.Tuan Guru Alamsyah Lubis, pentolan Surau Lubuk Anjalai, Kapar, selalu mengingatkan pentingnya  adab kepada guru. Upaya untuk mendapatkan ilmu yang berkah.

Dalam pidato  Menteri Pendidikan dan Kebusayaan RI, teks dalam dua halaman kuarto yang tidak penuh, diawali dengan  kalimat  penghormatan “Bapak dan Ibu guru yang saya hormati”.

Selanjutnya, kata “bapak” dan “ibu” guru diganti dengan sebutan “Anda”.  Sebutan “Anda ” sebanyak 13 kali. Kata anda tersebut  terdiri dari “tugas anda… 1x “, “anda ditugasi …1x”, “ anda ingin… 3x”,  “waktu anda… 1x”, “anda tahu… 3x”, “tetapi anda …1x”, “kepada anda… 1x”,  “anda berada… 1x”  dan “kelas anda… 1x”. 

Ada yang salah?  Tentu tidaklah. Pengganti kata orang lain dengan “anda” sudahlah tepat.  Hanya menurut saya, tidak “eloklah”  mengganti nama orang yang kita hormati, orang yang kita tuakan, orang yang mendidik, yang menjdikan kita seperti sekarang ini  dengan sebutan “anda”. 

Mudah-mudahan saya salah.  Mungkin karena saya sudah lama tidak main-main di Taman Budaya Medan. Mungkin saya ketinggalan budaya baru.  Tentu, sebutan menteri  yang mengurusi guru, perlulah digugu.  

Bila di kelas, tidak perlulah menyebut “bapak” atau “ibu” guru, sebutlah “Anda”.  Mungkin, anda  sependapangan atau tidak sependapat dengan budaya ini?  Oleh karena itu, maafkan saya…..

Dialog Guru

Usai upacara, saya dan yang lain,  memasuki ruangan kepala sekolah untuk sarapan pagi. Disamping kanan saya, Ketua Komite Sekolah SMP Neg.11 Medan, di sebelah kiri saya adalah Sekda Medan,  selanjutnya Walikota Medan dan Kapolrestabes  Medan, dan pejabat kota lainnya. Sambil sarapan, diskusi nasib guru bergulir. 

Kasi Intelijen Kejari Medan, Mhd. Yusuf, SH yang berada di hadapan saya “memancing” isu  kesejahteraan guru dengan dana sertifikasi.  Saya balas, bahwa untuk mendapatkan sertifikasi guru memerlukan waktu lama, bisa  5-7 tahun. 

Bahkan  untuk mendapatkan NUPTK memerlukan waktu bertahun-tahun.  Bagaimana nasib guru selang bertahun-tahun sebelum sertifikasi?

Ketika Sekda  diamini Walikota  menyebut adanya dana non-sertifikasi,  dan dalam waktu singkat akan cair, saya kembali menyerocos, apakah untuk ASN dan/atau non-ASN dan untuk semua guru? Bahkan yang sudah sertifikasi-pun, belum tentu dana sertifikasi  akan cair, terhalang  jam mengajar dan lainnya.

Bahkan kadang  guru harus  berakrobatik,  “nembak” mengajarpun di sekolah lain harus  “membayar” bukan “dibayar”.  Pada peringatan hari guru tahun 2019 ini, saya hanya ingin  menyatakan, bahwa nasib guru khususnya swasta masih tragis. Semoga  bapak Sekda, Bapak Walikota, Bapak Gubernur,  Bapak Mendibkut dan Bapak Presiden mendengarnya. Selamat hari guru….!

BACA ARTIKEL LAINNYA:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *