Cerpen Nahar Frusta

Alaram berdering dengan nyaringnya disuasana sepi pada sepertiga malam. Naimah bangun dari tidurnya sendiri saja, bersiap untuk sholat tahajud dan selanjutnya untuk memasak persiapan sahur.

Naimah mempersiapkan sahur untuk dirinya sendiri. Suami yang menikahinya delapan tahun lalu, Togar, masih saja tidur dengan pulas. Naimah membiarkan saja, dia pasti bangun sendiri jika adzan subuh dimesjid berkumandang.

Sholat tarawih semalam Naimah juga berangkat sendiri ke masjid yang jaraknya satu kilometer dari rumah. Sementara masjid terdekat belum melaksanakan tarawih karena 1 ramadan untuk jamaahnya adalah besok harinya. Suaminya mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal ramadhan.

Ini bukan kejadian terbaru untuk umat islam di indonesia. Bagi Naimah dan Togar ini bukan pertama dalam pelaksanaan 1 ramadhan yang berbeda. Sehingga hal ini bukan sesuatu yang membuat keluarga ini berselisih, saling marah atau saling menyalahkan pilihan. Walaupun pada waktu perjodohan pernikahan hal ini menjadi satu pertimbangan kecil bahwa Naimah dan Togar berbeda ormas islam di kampungnya.

Diawal pernikahan mereka dan pertama berbeda mengawali puasa ramadhan, perdebatan itu pernah terjadi. Naimah sebagai puteri minang yang dari kecil dibesarkan disekolah muhammadyah dan berorganisasi muhammadyah selalu mengikuti keputusan organisasinya. Demikian juga Togar yang menimba ilmu di Madrasah Nahdlatul Ulama selalu beribadah dan mengikuti petunjuk dari organisasinya.

Dalam debat didalam rumah tangga yang saling cinta itu, menghasilkan satu keputusan bahwa masing masing melaksana ibadah sesuai dengan apa yang diterima dan dipelajari di perguruan masing masing dan menerima perbedaan itu sebagai rahmat dari Allah subhana wataala.

Setelah makan sahur sendiri dengan gule daging dari mamogang. Randang buatan sendiri dan dimakan sendiri pastilah terasa enak karena sesuatu yang dihasilkan dari jalan halal sebagai seorang P3K dan P3K Paroh waktu, hasil keringat sendiri. Ada rasa ingin untuk mengajak suami tercinta untuk ikut bersahur tapi Naimah tak sanggup mengganggu tidur Yayangnya.

Tiba waktu subuh barulah Naimah dan suaminya berangkat bersama kemasjid terdekat untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Walaupun berbeda mazhab dengan mesjid yang terdekat tapi Naimah tetap ikut sholat berjamaah dimesjid tersebut.

Ketika berangkat bersama ke masjid, sering Naimah memaksa Togar untuk berwuduk kembali karena menyalami suaminya.

“Ini rasa hormat atau bikin aku wudhuk lagi…?”, kesal Togar, tapi Naimah senyum saja menuju tempat sholat perempuan.

Sebagai alumni Universitas Islam Negeri, Naimah paham betul dengan perbedaan mazhab yang empat di Indonesia. Naimah tahu juga bagaimana Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan pernah bergantian saling mengimami dalam sholat berjamaah. Dan menurut Naimah hal ini sangat menyejukkan dalam beribadah di dalam perbedaan mazhab dan organisasi. Ketika menyentuh kulit suaminya, Naimah sadar betul bahwa wudhuk suaminya telah batal.

Setelah tiba melaksanakan puasa bersama, kebahagiaan pasangan muda ini selalu menghiasi kebersamaan mereka. Belum diberikannya momongan oleh Allah kepada mereka dijadikan sebagai pendorong, semangat untuk terus beribadah dan berharap Allah subhana wata’ala memberikan kepercayaan untuk memberikan amanah dengan memberikan seorang anak menemani mereka. Dan berharap bahwa 1 syawal dapat melaksanakan dihari yang sama.

Harapan Naimah dan Togar dibulan ramadhan ini bisa bertemu dengan malam “lailatul qadar” Semoga ibadah dan doa mereka dapat diijabah Allah. “Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin!”(18 Februari 2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *