Dari bandara ini kampungku masih jauh.Seratusan kilometer dengan jalan berliku dengan tantangan ekstim,jurang kiri dan kanan.Perlu ekstra hati hati dari para supir untuk melintasinya.Harapanku semoga banyak perubahan juga.

Kulihat orang orang yang bersamaku turun dari pesawat.Dimataku mereka adalah orang orang sukses yang pulang ke Tapanuli Utara dan Humbang Hadundutan.Mereka dijemput oleh keluarga dekat,dengan wajah dan pakaian khas pedesaan warga tapanuli.Dengan suara lantang seperti berteriak dan marah tapi ada tawa lepas diujungnya.

Kebahagian menghiasi pertemuan mereka.Sapaan Tulang,Amangboru,Oppung bergantian terdengar rame.Tak ada batas,semua saling lepas dan terbuka.Sungguh menunjukkan keharmonisan keluarga yang menjunjung cinta dan adat istiadat.Semoga dikampungku hal seperti ini masih terpelihara dengan baik.

Terdengar sampai ketelingaku mereka adalah orang sukses sebagai pengusaha di Papua Barat dan anggota DPR RI daerah pemilihan Papua.Sungguh prestasi yang luar biasa.Sukses dirantau,kampungnya orang.Mereka pulang kampung dalam rangka merayakan hari natal dan tahun baru dan mengunjungi sanak saudara yang ditimpa musibah bencana alam.

Kesibukan di bandara Silangit lebih ramai,banyak pesawat yang mendarat.Posko BNPB yang dilokasi tersebut menambah kesibukan dan keramaian.Barangkali ini pengangkutan bahan bantuan untuk korban bencana.

Disebuah cafe disisi kiri bandara aku pesan secangkir kopi pahit.Kata pelayan “kopi sigarar utang”.Aku tertawa kecil mendengar istilah itu.Teringat aku dengan hutangku ketika meninggalkan kampung halaman.Utang ngopi dan sarapan katan di kode Etek Tumeang.Nanti aku akan bayar lebih jika sudah sampai,janjiku.

Kampungku…Tiga jam lagi perjalanan agar sampai disana.Sebuah desa dengan kehidupan warga yang sederhana,hidup sebagai petani penggarap.Aku dibesarkan dari hasil pertanian dan peternakan kecil kecilan.Aku begitu bangga dengan ayahku yang suka bercanda dengan banyak orang,akrab dan tidak sombong karena miskin.Dan ibuku yang pendiam dan amanah.Apakah ini pengaruh suasana desa yang sejuk dan dama atau karena kealiman,pemahaman agama yang baik.?

Ayah dan ibuku sangat berharap aku menjadi pegawai negeri,tapi aku tak pernah menunaikannya,karena tak.pernah melamar sekalipun.Sehingga aku nemilih meninggalkan kampung halaman menuju pulau jawa.Dan saat inilah aku baru bisa pulang.Terlalu.

Begitu sulitnya kehidupan saat itu dikampung.Pendidikan yang tidak sempat tamat esema barangkali membuat aku tidak begitu cerdas.Masa itu banyak teman teman yang selalu membantuku dalam setiap ada permasalahan.Masalah keuangan,masalah kriminal dan masalah perempuan.Jujur aku selalu ingat aka kebaikan itu.Hehe.

Setelah lima tahun di Jakarta,teman teman menyebutku disetiap obrolan mereka bahwa aku adalah orang yang lupa diri.Tidak ingat berlumpur lumpur,masa bersakit sakit di desa.Banyaknya musuh dan pembenciku waktu itu semua bisa tersingkirkan karena keakraban,dukungan dari teman teman.Nantilah setelah bertemu akan kubiarkan mereka melepaskan amarah mereka lewat caci maki atau pukulan sekalipun.

Memang.Amarah mereka sudah dipuncaknya.
Tinggal melepaskan,bagai menggelontornya banjir bandang.Kesombonganku diera digital ini sangat tidak bisa diterima.Jika tidak bisa pulang,paling tidak setelah sepuluh tahun berpisah,tentulah bisa telponan .Sekedar memastikan cerita dari sumber aslinya bahwa certa sukses tentang diriku dan harta yang berlimpah benar adanya.

Kehadiranku tersebar luas dikampungku dan tetangga.Sepertinya nama harum dan kesuksesan sudah menjadi buah bibir diwarung kopi dan pakter tuak.Sebagai seorang lelaki paro bayo yang masih melajang tentu menjadi daya tarik untuk digosipkan.Perubahan apa yang bakal ditunjukkan oleh anak desa yang terpaksa meningalkan kampungnya,dulu?

SIMPATI
Cerita pendek Nahar Frusta.

Turun dari pesawat di Bandara Internasional Silangit dengan senyum dan rasa bangga.Silangit sebuah desa kecil di Tapanuli Utara..Perubahan yang sungguh mengagumkan dari uoaya putra daerahnya Salut.

Dari bandara ini kampungku masih jauh.Seratusan kilometer dengan jalan berliku dengan tantangan ekstim,jurang kiri dan kanan.Perlu ekstra hati hati dari para supir untuk melintasinya.Harapanku semoga banyak perubahan juga.

Kulihat orang orang yang bersamaku turun dari pesawat.Dimataku mereka adalah orang orang sukses yang pulang ke Tapanuli Utara dan Humbang Hadundutan.Mereka dijemput oleh keluarga dekat,dengan wajah dan pakaian khas pedesaan warga tapanuli.Dengan suara lantang seperti berteriak dan marah tapi ada tawa lepas diujungnya.

Kebahagian menghiasi pertemuan mereka.Sapaan Tulang,Amangboru,Oppung bergantian terdengar rame.Tak ada batas,semua saling lepas dan terbuka.Sungguh menunjukkan keharmonisan keluarga yang menjunjung cinta dan adat istiadat.Semoga dikampungku hal seperti ini masih terpelihara dengan baik.

Terdengar sampai ketelingaku mereka adalah orang sukses sebagai pengusaha di Papua Barat dan anggota DPR RI daerah pemilihan Papua.Sungguh prestasi yang luar biasa.Sukses dirantau,kampungnya orang.Mereka pulang kampung dalam rangka merayakan hari natal dan tahun baru dan mengunjungi sanak saudara yang ditimpa musibah bencana alam.

Kesibukan di bandara Silangit lebih ramai,banyak pesawat yang mendarat.Posko BNPB yang dilokasi tersebut menambah kesibukan dan keramaian.Barangkali ini pengangkutan bahan bantuan untuk korban bencana.

Disebuah cafe disisi kiri bandara aku pesan secangkir kopi pahit.Kata pelayan “kopi sigarar utang”.Aku tertawa kecil mendengar istilah itu.Teringat aku dengan hutangku ketika meninggalkan kampung halaman.Utang ngopi dan sarapan katan di kode Etek Tumeang.Nanti aku akan bayar lebih jika sudah sampai,janjiku.

Kampungku…Tiga jam lagi perjalanan agar sampai disana.Sebuah desa dengan kehidupan warga yang sederhana,hidup sebagai petani penggarap.Aku dibesarkan dari hasil pertanian dan peternakan kecil kecilan.Aku begitu bangga dengan ayahku yang suka bercanda dengan banyak orang,akrab dan tidak sombong karena miskin.Dan ibuku yang pendiam dan amanah.Apakah ini pengaruh suasana desa yang sejuk dan dama atau karena kealiman,pemahaman agama yang baik.?

Ayah dan ibuku sangat berharap aku menjadi pegawai negeri,tapi aku tak pernah menunaikannya,karena tak.pernah melamar sekalipun.Sehingga aku nemilih meninggalkan kampung halaman menuju pulau jawa.Dan saat inilah aku baru bisa pulang.Terlalu.

Begitu sulitnya kehidupan saat itu dikampung.Pendidikan yang tidak sempat tamat esema barangkali membuat aku tidak begitu cerdas.Masa itu banyak teman teman yang selalu membantuku dalam setiap ada permasalahan.Masalah keuangan,masalah kriminal dan masalah perempuan.Jujur aku selalu ingat aka kebaikan itu.Hehe.

Setelah lima tahun di Jakarta,teman teman menyebutku disetiap obrolan mereka bahwa aku adalah orang yang lupa diri.Tidak ingat berlumpur lumpur,masa bersakit sakit di desa.Banyaknya musuh dan pembenciku waktu itu semua bisa tersingkirkan karena keakraban,dukungan dari teman teman.Nantilah setelah bertemu akan kubiarkan mereka melepaskan amarah mereka lewat caci maki atau pukulan sekalipun.

Memang.Amarah mereka sudah dipuncaknya.
Tinggal melepaskan,bagai menggelontornya banjir bandang.Kesombonganku diera digital ini sangat tidak bisa diterima.Jika tidak bisa pulang,paling tidak setelah sepuluh tahun berpisah,tentulah bisa telponan .Sekedar memastikan cerita dari sumber aslinya bahwa certa sukses tentang diriku dan harta yang berlimpah benar adanya.

Kehadiranku tersebar luas dikampungku dan tetangga.Sepertinya nama harum dan kesuksesan sudah menjadi buah bibir diwarung kopi dan pakter tuak.Sebagai seorang lelaki paro bayo yang masih melajang tentu menjadi daya tarik untuk digosipkan.Perubahan apa yang bakal ditunjukkan oleh anak desa yang terpaksa meningalkan kampungnya,dulu?

Tiba tiba handpone bergetar.Satu pesan WA masuk dari Tulsng Simanungkalit.
“Togar…jika sudah di kampung, tetaplah menyatu dengan gaya hidup di kampung. Jangan paksakan mereka simpati kepadamu. Simpatilah kepada mereks karena mereka adalah orang yang hidup dalam kepatuhan terhadap agama,adat istiadat dan kearipan lokal.Jangan rebut simpati mereka hanya untuk kesuksesanmu nantinya dikota. Itu saja bere!”.

Baru saja selesai membaca suara ribut ribut terjadi.”Lari…Ada razia!”.Dua orang satpol pp sudah menangkap dan membuyarkan lamunanku. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *