Tak ada yang mengkhawatirkan bagi warga Barus saat itu tentang adanya banjir bandang. Bisa jadi sudah terbiasa dengan dilanda banjir yang membasahi pemukiman penduduk dan persawahan di Kelurahan Padang Masiang, Desa Pasar Terandam, Kinali dan sebahagiaan kelurahan Pasar Batu Gerigis lingkungan Kampung Kedondong.

Mengapa tidak khawatir lagi? Mungkin karena tidak adanya upaya signifikan untuk antisipasi datangnya air dari hulu.

Perambahan hutan masih saja berlangsung, entah siapapun pelakunya yang pasti empat jam saja hujan dihulu dipastikan Sungai Sirahar meluap dan membanjiri Barus.

Upaya pembangunan tanggul dan pelurusan Sungai Sirahar sepanjang 3 kilometer dari Husor Desa Parik Sinomva sampai Pasar Teramdam hanyalah cerita lama tahun delapan puluh, yang terjadi adalah membangun tanggul bronjong dibeberapa titik rusak yang menelan dana miliyaran.

Adakah ini keputusasaan atau sebuah kepasrahan akan perjalanan nasib dikehidupan maju ini. Tentulah tidak. Kesadaran warga tidak membangun rumah di daerah aliran sungai adalah upaya penyelamatan diri dari terjangan Aek Sirahar. Membangun rumah dengan pondasi yang tinggi sehingga luapan sungai tidak membasahi rumah sudah dilakukan.

Senja, jelang maghrib. Gelap mulai datang, tak ada penerangan listrik, Sungai Sirahar meluap membawa kayu gelondongan besar dan kecil, menerjang apa saja yang menghalangi dengan derasnya mencari tempat terendah, memasuki rumah warga membawa lumpur kuning tebal.

Pohon bertumbangan, tiang listrik juga. Jalan terputus di desa Kampung Mudik, tepatnya didepan masjid dan merobohkan gerbang masjid tersebut.

Jeritan dan minta pertolongan termakan suara derasnya air sungai Sirahar. Masing-masing warga selamatkan diri dan barang berharga dari rumahnya.

Tak terduga air sederas dan setinggi itu. Untuk kelurahan Padang Masiang dan Pasar Batu Gerigis tinggi air sepinggang orang dewasa. Warga mengungsi ke gedung sekolah dan rumah warga yang berlantai dua, ada yang mengungsi ke daerah yang lebih tinggi seperti ke desa Gabungan Hasang dan Kedai Gedang dan banyak yang bertahan berjaga disekitar rumah rumah mencari tampat tinggi, berdiri atau jonggok diatas meja, berharap air surut.

Malam semakin mencekam akibat tanpa penerangan dan jaringan telekomunikasi yang terputus dan hilang. Hilangnya jaringan membuat informasi antar warga satu desa dan desa lainnya untuk koordinasi tak terkaksana.

Malam merangkak perlahan, seakan pagi sangat jauh. Dingin malam dan dinginnya tubuh karena berpakaian basah meningkatkan rasa cemas dan harapan bantuan segera datang.

Pagi datang juga. Warga dapat melihat jelas kondisi yang sebenarnya. Jalanan hancur, tebing sungai hancur, rumah penduduk hancur. Seperti hati warga yang terkena banjir hancur sekali. Desa Bunga Tanjung dan Ujung Batu yang selama ini tak kena banjir, sekarang juga porak poranda.

Ada pemerintah yang akan menyelesaikan permasalah akibat banjir yang terus berulang ini. Bantuan sembako, bantuan perbaikan rumah dan bantuan lainnya yang diakibatkan oleh banjir segera teratasi dengan baik.

Rasa percaya warga terhadap pemerintahnya harus segera dibuktikan dengan menyelesaikan permasalah ini dengan baik. Dan rasa percaya warga untuk tetap sehat, aman tinggal dikampungnya tetap terjamin.Yang terpenting ini tidak terjadi lagi. “Bagaimanakah Caranya??(Penulis tinggal di Barus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *