Barus,PRi.Com – Salah satu bukti sejarah Bangunan tua peninggalan bangsa Portugis dan Belanda terdapat di kota Barus, Tapanuli Tengah. Pantai Barat pesisir Sumatera Utara, yang disebut oleh Masyarakat setempat dengan sebutan ” Benteng Portugis “.menurut tokoh masyarakat H.Rusdin Tanjung dibangun tahun 1857.

Bukti sejarah tersebut adalah Benteng Pertahanan Portugis persis berada di tepi pantai Barus adalah bagunan tua peninggalan bangsa Portugis yang pernah singgah di Barus Tapanuli Tengah. 

Benteng yang luasnya lebih kurang setengah dari lapangan sepak bola ini terlihat kurang mendapat perawatan . Bangunan yang terbuat dari cor semen dan batu kerikil ini sebagian sudah terkikis dan keropos bahkan ada yang sudah roboh. 

” Seandainya situs bersejarah benteng peninggalan orang asing yang pernah berlabuh di pantai Barus ini lebih ditata rapi dan dirawat akan tidak mungkin tempat seperti ini akan menjadi tujuan wisatawan yang hendak berlibur menikmati indahnya pantai Barus sekaligus mendapat pelajaran tentang sejarah ratusan tahun lalu.”

Amatan PRi,Com dilapangan terlihat Benteng pertahanan peninggalan Portugis dan Belanda dengan luas lebih kurang 2.675 m2 ini terletak di Kelurahan Padang Masiang, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Kawasan di sekitar benteng ini relatif padat dan ramai, karena berada di ibukota kecamatan Barus yakni Kelurahan Padang Masiang. 

Benteng ini berbentuk persegi dengan bastion di sudut Utara dan Selatan. Kedua bastion itu berbentuk setengah lingkaran  Benteng ini juga dilengkapi dengan jalan patroli yang berada di atas dinding benteng yang lebarnya lebih kurang 120 cm.

Tebal dinding benteng lebih kurang 40 cm, yang bagian atasnya melandai ke arah luar. Sepanjang dinding benteng dilengkapi dengan beberapa lubang bidik. 

Sementara bagian dinding baratdaya (dekat gerbang terdapat bekas tangga). Di dalam halaman benteng terdapat 3 sumur, letak bangunan benteng persis berhadapan dengan Lapangan Sepak bola (lapangan Merdeka Barus.) dan terdapat pula beberapa bangunan kantor disekitarnya. 

Di sisi luar benteng bagian baratdaya, atau di sebelah tenggara gerbang terdapat pilboks yang menempel pada dinding. Pilboks ini berukuran 3 x 3 m dengan pintu disisi timur laut. Pilboks ini tidak memiliki lubang bidik, hanya ada satu lubang di bagian atasnya.

Beberapa bagian dinding benteng tampak sudah retak. Bahkan di beberapa bagian ada material benteng lepas. 

Pada 24 Juni  2025 lalu sudah dilaksanakan diskusi kelompok Terpumpun di Kecamatan Barus membahas pelestarian BCB Benteng Peninggalan kolonial di Barus, diskusi ini dimotori oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara .

Diskusi terpumpun tentang cagar budaya Benteng Kolonial di Barus terlaksana dengan baik yang menghasilkan kesepakatan dan harapan masyarakat Barus agar cagar budaya di Barus mendapat status sebagai Cagar Budaya tingkat Nasional.

Fazri Efendi Pasaribu SH MH,Tokoh masyarakat Barus sangat peduli dengan peningkatan status cagar budaya ini sekaligus pelurusan sejarah Barus kepada kebenaran sesungguhnya.Menyatukan persepsi yang berbeda dari sudut pandang berbeda melepaskan kepentingan pribadi dan golongan dalam satu cita cita untuk kemajuan Barus,tentunya untuk kesejahteraan masyarakat

Agar situs -situs peninggalan sejarah ini dapat dikelola dan dipelihara dengan baik yang berguna bagi perkembangan sejarah khususnya bagi generasi muda, diharapkan perhatian pemerintah dalam hal ini dinas kebudayaan Provinsi maupun Kabupaten Tapanuli Tengah atau Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk membenahinya.(dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *