(Catatan Seorang Pengangguran)

By Nahar Frusta.
Seperti angin telah berlalu. Ada yang merasa segar dengan hembusannya. Ada yang berguguran seperti daun daun. Ada yang tidak bergetar sedikitpun seperti gedung gedung.
Apapun rasa dan akibatnya, kehidupan masih tetep berjalan sesuai kehendakNya.
Seperti bencana banjir bandang. Membawa rasa takut dan menguras airmata rakyat. Menangis karena harta benda dan rumah hanyut terbawa arus. Mata pencaharian hilang, tak bisa bergerak karena kehilangsn bahan bakar minyak, tidak adanya listrik dan signalpun tak bisa dijaring handphone.
Derita itu nyata. Tergambar dan tercatat. Akanlah dipandangi saja atau membacanya ketika mata belum juga ngantuk. Bukankah dijadikan sebagai dasar dan alasan untuk memberi rasa nyaman, dengan menunjukkan sikap peduli lewat perhatian, lewat bahasa yang santun, lewat bantuan ala kadarnyai dalam melanjutkan hidup dan kepercayaan kepada pemerintah, kepada orang orang yang bisa membantu, tanpa menghinakan yang menerima.
Kadang harga diri ingin tampil kepermukaan. Bahwa keadaan ini bisa diatasi sendiri dengan rasa pasrah dan sabar bahwa ini adalah kehendak tuhan. Bahwa bisa mengatasi masalah sesulit apapun menjadi rasa bangga dan pertanggungjawaban atas diri sendiri dan kepada Allah sebagai ibadah. Sehingga keadaan ini dirasakan sebagai bagian nikmatNya walau ujudnya penderitaan sekalipun.
Seperti air mata yang telah mengering, seperti itulah menghilangkan harapan dari orang lain. Disinilah ditumbuhkan kebersamaan dengan menyusun derita yang sama menjadi tumpukan pijakan melangkah bergandengtangan, bahu membahu menyelesaikan persoalan akibat bencana banjir bandang. Mari selamatkan diri, keluarga dan tetangga bahwa hari yang akan dilalalui adalah hari yang telah kita lewati bersama sejak dulunya.
Angin perpecahan diantara kita pasti akan datang dan didatangkan. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menyadari bahwa kita akan dijadikan sebagai mainan, dengan meminjam tangan saudara kita menjadi “remote control” dengan janji manis akan mendapatkan kesuksesan dari hasil jualan “pecah belah”.
Jangan lupakan kita pernah mandi di Sungai Sirahar yang satu. Persawahan kita diairi daerah irigasi sitangkurak yang sama. Jangalah karena telah mempunyai sumur bor dan mandi dikamar mandi sendiri kita bukan saudara lagi. Atau punya mesin pompa air sendiri mengairii sawahmu,s sisa airmu tak bisa mengalir kesawahku. Kita harus lebih akrab dan saling menyanyangi disaat kemarau tiba, bahwa kita sama sama butuh air dan saling membutuhkan.
Jika pagi ini akan datang, kita ada didapur rumah kita sendiri Mereguk secangkir teh atau kopi dengan “diganjal ” oleh ubi kayu rebus, sepiring nasi dingin atau gorengan untuk persiapan kerja ke ladang dan ke sawah. Sesungguhnya kitalah yang menjalani, menikmati hidup kita yang ukuran bahagia dan suksesnya dihati dan perasaan kita sendiri.(Penulis adalah Wartawan Pri.Com. tinggal di Barus)