
Samosir, PRi. Com – Pemerintah Kabupaten Samosir memperingati Hari Jadi ke-22 dengan mengangkat tema “Samosir Rumah Kita” dan subtema “Hidup Selaras Alam, Tingkatkan Hidup Rukun Menuju Indonesia Emas 2045”. Perayaan syukur dipusatkan di Segmen 5 Waterfront Pangururan dan diawali dengan ibadah oikumenis yang dipimpin Pastor Ivo Sinaga.
Kabupaten Samosir secara administratif berdiri pada 7 Januari 2004. Namun, setiap 27 Februari ditetapkan sebagai momentum perayaan hari jadi daerah. Puncak acara ditandai dengan pemotongan kue ulang tahun oleh Bupati Samosir Vandiko T. Gultom bersama Wakil Bupati Ariston Tua Sidauruk, yang kemudian dibagikan secara simbolis kepada perwakilan sembilan kecamatan.
Acara tersebut dihadiri unsur Forkopimda, pimpinan dan anggota DPRD lintas periode, tokoh adat dan agama, organisasi kemasyarakatan, serta sejumlah kepala daerah dan pejabat dari kabupaten/kota lain di Sumatera Utara.
Refleksi Dua Dekade Otonomi
Dalam sambutannya, Vandiko menekankan bahwa tema “Samosir Rumah Kita” memiliki makna filosofis dan strategis. Rumah, menurutnya, bukan sekadar bangunan fisik atau batas administratif, melainkan ruang kebersamaan yang menyatukan identitas, nilai budaya, dan relasi spiritual masyarakat Batak.
“Rumah adalah tempat kita bertumbuh, saling menguatkan, dan membangun masa depan. Karena itu, Samosir harus dijaga bersama tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, indikator pembangunan menunjukkan tren positif, antara lain peningkatan kunjungan wisatawan, penguatan sektor UMKM melalui program permodalan tanpa bunga, pengembangan pertanian, serta perbaikan layanan publik berbasis teknologi.
Namun demikian, Vandiko mengakui bahwa tantangan tetap ada, terutama dalam peningkatan profesionalisme aparatur dan kualitas pelayanan publik. Ia membuka ruang bagi kritik dan masukan konstruktif sebagai bagian dari proses penyempurnaan tata kelola pemerintahan.
Dukungan Provinsi dan Penguatan Identitas
Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Asisten Administrasi Umum H. Muhammad Suib Sitorus menegaskan bahwa peringatan hari jadi tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan menjadi titik evaluasi perjalanan sejarah dan arah pembangunan ke depan.
Ia mengingatkan kembali semangat perjuangan Raja Sisingamangaraja XII sebagai simbol keberanian dan identitas Batak. Menurutnya, nilai persatuan dan gotong royong harus menjadi fondasi dalam membangun daerah.
Sebagai bagian dari kawasan strategis Danau Toba, Kabupaten Samosir memiliki peluang besar untuk tumbuh melalui penguatan infrastruktur, promosi pariwisata berkelas internasional, serta pemberdayaan ekonomi berbasis lokal.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kata dia, berkomitmen mendukung pembangunan melalui konektivitas kawasan, peningkatan kualitas pelayanan publik, dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Isu Lingkungan dan Tanggung Jawab Geopark
Dalam forum tersebut, sejumlah tokoh turut menyoroti pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Status kawasan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark dinilai sebagai kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Pengelolaan hutan, pengendalian eceng gondok, pengelolaan sampah, dan reboisasi menjadi isu yang terus disuarakan agar pembangunan tidak mengorbankan ekosistem.
Pemrakarsa pembentukan Kabupaten Samosir juga mengingatkan agar dinamika kritik publik tidak berkembang menjadi narasi yang memecah belah. Kritik, menurutnya, perlu diarahkan sebagai energi pembenahan, bukan konflik berkepanjangan.
Kemandirian Fiskal dan Harapan ke Depan
Ketua DPRD Samosir menyebut peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai indikator kemandirian fiskal yang mulai menguat. Geliat ekonomi masyarakat, terutama di sektor pariwisata dan pertanian, dinilai memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi lokal.
Di usia ke-22, Kabupaten Samosir dinilai telah melewati fase konsolidasi awal sebagai daerah otonom dan memasuki tahap penguatan tata kelola serta daya saing.
Peringatan tahun ini menegaskan satu pesan utama: Samosir sebagai “rumah bersama” hanya akan kokoh jika seluruh elemen—pemerintah, legislatif, tokoh adat, dan masyarakat—menjaga persatuan, merawat alam, serta membangun dengan visi jangka panjang.
Di tengah peluang besar sebagai destinasi unggulan nasional, Samosir kini diuji untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan lingkungan—agar rumah yang dibanggakan hari ini tetap layak diwariskan kepada generasi mendatang. ( Hots/dns)