EDITORIAL

Oleh: Hotman Siagian
PrestasiReformasi.com

Ada satu nilai besar yang perlahan memudar di tengah hiruk-pikuk zaman hari ini: keteguhan prinsip. Nilai ini justru dahulu lahir dan ditempa pada masa-masa sulit, terutama hingga era 1970-an, ketika hidup tidak memberi banyak pilihan, selain bertahan dengan kehormatan atau tumbang dengan harga diri.

Pada masa itu, banyak anak bangsa meninggalkan bona pasogit menuju perantauan dengan satu tekad: tidak akan pulang sebelum berhasil. Tidak ada rencana cadangan, tidak ada ruang untuk cengeng, apalagi berkhianat pada prinsip. Tekad itu bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan warisan mental para opung pejuang kemerdekaan—generasi yang lebih dulu menghadapi penjajahan, kekurangan, dan tekanan nyata.

Mental baja itulah yang membentuk karakter: tidak mudah goyah oleh jumlah, tidak condong hanya karena keramaian, dan tidak berubah arah hanya karena iklim lingkungan. Bahkan, pada titik tertentu, kehadiran merekalah yang justru mengubah iklim lingkungan itu sendiri.

Nilai adat Batak sejak lama mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya suara, melainkan oleh kelurusan sikap. Prinsip lebih utama daripada kenyamanan, dan pendirian lebih bernilai daripada sekadar diterima. Dalam filosofi Dalihan Na Tolu, keseimbangan antara hormat, rukun, dan tanggung jawab bukanlah simbol, melainkan pedoman hidup yang menuntut konsistensi.

Sayangnya, dalam realitas hari ini, kita menyaksikan gejala yang patut dikritisi bersama. Ruang bicara semakin luas, tetapi pendirian justru semakin mudah berubah. Banyak yang lantang di depan, namun lunak di belakang. Banyak yang berbicara tentang nilai, tetapi gamang ketika nilai itu menuntut pengorbanan.

Editorial ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun, melainkan sebagai cermin bersama. Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kemajuan teknologi, tetapi oleh karakter manusia yang mengisinya. Sejarah membuktikan, peradaban runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang yang memilih aman daripada benar.

Generasi terdahulu memberi teladan yang sederhana namun keras: lebih baik hancur lebur karena mempertahankan prinsip, dari pada hidup bengkok mengikuti irama. Sikap ini mungkin terasa mahal di zaman pragmatis, tetapi justru itulah fondasi yang membuat manusia tetap bermartabat.

PrestasiReformasi.com meyakini bahwa reformasi sejati tidak hanya soal sistem dan kebijakan, tetapi juga soal keberanian moral. Keberanian untuk berkata jujur, berdiri lurus, dan tidak menjual prinsip demi kepentingan sesaat.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan mereka yang paling ramai bersuara, melainkan mereka yang tetap tegak ketika suara itu menuntut keberanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *