Ada Hal Positif dari Kegagalan Della/Rizki di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019

Della dan Rizki

Jakarta.PRi.Com – Pelatih ganda putri PBSI, Eng Hian, mengaku puas melihat permainan Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta, di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 beberapa hari yang lalu.

“Walaupun pada kenyataannya Della/Rizki hanya mencapai babak ketiga saja, namun saya merasa ada kemajuan dari permainan pasangan ganda putri Indonesia tersebut,” ujar Eng Hian.

Kemajuan yang dirasakan Eng Hian terhadap Della/Rizki di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 itu adalah terkait motivasi mereka ketika berada di atas lapangan.

Eng Hian menilai Della/Rizki sudah semakin termotivasi untuk meraih kemenangan meskipun kondisinya sedang tertinggal. Hal tersebut pun diakui Eng Hian sebagai hal yang sangat positif.

Sebab motivasi adalah salah satu hal yang dirasa Eng Hian sangat kurang dimiliki oleh pasangan Della/Rizki.

Jadi ketika Eng Hian melihat Della/Rizki bermain jor-joran melawan Lee So Hee/Shin Sung Chan di babak ketiga Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 dan ternyata kalah 17-21 serta 18-21 dari pasangan ganda putri Korea Selatan itu, ia mengaku tidak terlalu kecewa.

Keinginan tidak mau kalah Della/Rizki serta mereka yang mau tampil habis-habisan sudah cukup membuat Eng Hian merasa puas dengan performa kedua anak didiknya tersebut di kompetisi itu.

Jadi, ia hanya bisa berharap kegagalan di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 bisa dijadikan pelajaran dan permainan yang memiliki motivasi tinggi yang sudah diperlihatkan Della/Rizki tersebut bisa terus berlanjut di kompetisi-kompetisi selanjutnya.

“Catatan untuk Della/Rizki, saya lihat dari Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 ini ada satu perubahan positif terutama di masalah kemauan dan motivasi mereka untuk tidak mau kalah. Kemarin mereka tunjukkan saat melawan Korea (Lee So Hee/Shin Sung Chan). Mereka memang kalah hasil, tapi tren positif ini, kemauan mereka untuk berjuang habis-habisan itu (sudah) terlihat,” ungkap Eng Hian, melansir dari PBSI, Kamis (29/8/2019).

“Cuma satu kelemahan mereka adalah mereka tidak tahan, tidak betah di lapangan pada saat pola permainan mereka sudah terbaca lawan, mereka seperti kaya frustasi. Nah itu saya lihat mereka di turnamen ini berbeda. Seperti ada sesuatu yang mereka perjuangkan,” tambahnya. (h/krj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: