Kerugian Bisnis di Jakarta Capai Triliunan Rupiah

Cukup Sekali Ini saja Terjadi Pemadaman Listrik di Jakarta-Banten

Suasana Kota jakarta saat listrik mati. (Foto:breakingnews)

Jakarta, PRI.Com – Asosiasi pengusaha mengestimasi kerugian hingga triliunan rupiah akibat mati listrik yang terjadi di Jabodetabek dan sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah selama dua hari belakangan.

Direktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Research Institute, Agung Pambudi, mengungkapkan meski belum ada kalkulasi nilai kerugian yang dialami para pebisnis, ia mengestimasi kerugian bisa mencapai ratusan miliar hingga triliunan Rupiah.

Baca juga: Kelistrikan DKI, Banten dan Jawa Bagian Barat Normal, Kompensasi Diberikan

“Kerugian dari sisi materil, ini menyebabnya menurunnya output produksi barang atau jasa dan hilangnya jam kerja karyawan,” ujar Agung.

Walaupun terjadi pada hari Minggu, sejumlah aktivitas bisnis masih beroperasi, seperti hotel, pasar swalayan, dan sejumlah pabrik.

Akibatnya, kata Agung, para pengusaha juga harus mengeluarkan dana lebih untuk mengoperasikan genset selama berjam-jam untuk tetap beroperasi.

Peristiwa mati listrik (04/08) terjadi selama lima jam hingga lebih dari sembilan jam. Peristiwa mati listrik berulang di sejumlah wilayah sejak Senin pagi hingga sore (05/08).

PLN mengklaim menderita kerugian sekitar Rp90 miliar akibat kejadian ini.

mati lampu

Rambu lalu lintas tidak berfungsi saat mati listrik terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah lain di Pulau Jawa

Jaringan retail waralaba Alfamart dan Indomaret mengaku sangat terdampak dengan peristiwa mati listrik.

Regional Corporate Communication Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), Budi Santoso, menyayangkan peristiwa mati listrik yang mendadak.

“Seyogyanya PLN memberi peringatan atau pengumuman terlebih dahulu agar kami bisa mengupayakan cara tetap memberi pelayanan maksimal kepada konsumen. Beberapa toko akhirnya menggunakan genset, namun beberapa juga ada yang belum dilengkapi dengan fasilitas tersebut, sehingga terpaksa tutup,” ujar Budi.

Hal yang sama diungkapkan Marketing Director PT Indomarco Prismatama (Indomaret), Wiwiek Yusuf, yang mengatakan sejumlah gerai Indomart telah mengalami kerugian, meski genset dengan kapasitas 5 kVA disediakan untuk gerai-gerai yang ada.

“(Genset) sifatnya sementara, beberapa jam saja, karena kapasitas jam kerja mesin dan ketersediaan bahan bakar. Setelah tidak dapat back up daya listrik, toko tidak dapat beroperasi lagi (tutup),” kata Wiwiek.

Dari 6.935 gerai Indomaret di Jabodetabek, hingga Senin (05/08) sore, lebih dari 800 toko belum beroperasi.

Rugikan usaha kecil dan menengah

Arief Budiman, seorang pengusaha sablon yang biasanya mencetak barang pesanan di Cibubur, Jakarta Timur, mengatakan peristiwa mati lampu membuatnya tidak dapat memenuhi pesanan klien tepat waktu.

Orderan tertunda satu sampai dua hari. Akibat penundaan ini ada kompensasi yang harus kami berikan ke pelanggan berupa diskon barang atau ongkos kirim gratis,” ujar Arief.

listrik

Pemadaman listrik masih terjadi di sejumlah tempat hingga Senin (05/08)

Sementara itu, pemilik kedai makan di Cipadu Jaya, Tangerang, Nur Azizah, harus menutup tokonya gara-gara mati listik. Bahan makanannya ikut rusak.

“Ruginya itu karena semua bahan baku kayak es krim meleleh. Ada tiga kotak ukuran delapan liter. Susu fresh milk jadi basi juga,” ujarnya.

Direktur Apindo Research Institute, Agung Pambudi, mengatakan peristiwa ini mencerminkan rentannya cadangan pasokan listrik jika terjadi gangguan teknis.

listrik

Sejumlah pekerja beraktivitas di proyek pembangunan PLTU Suralaya Unit X di Suralaya, Cilegon, Banten (05/08)

Peristiwa ini, yang disebutnya paling masif selama beberapa tahun belakangan, dapat berakibat pada kepastian bisnis.

“Penting (bagi pemerintah) menjamin pasokan listrik karena kalau tidak bisa dipenuhi, maka ada ketidakpastian usaha yang bisa berakibat pada kerugian yang jauh lebih besar, kalau sampai terjadi lagi,” kata Agung.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, mengatakan hal senada.

“Kejadian ini juga akan berdampak pada ketidakpercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia jika kondisi pelayanan energi listrik seperti ini,” kata Sarman.

YLKI minta PLN beri kompensasi proporsional

Wakil Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, meminta PLN memberi kompensasi yang adil bagi seluruh konsumen.

listrik

YLKI mengusulkan pemberian memberi kompensasi yang lebih proporsional sesuai kerugian yang diderita konsumen

Pada tahun 2005, saat mati listrik massal terjadi di sejumlah wilayah di Jawa, konsumen hanya mendapat kompensasi sebesar 10 persen dari biaya beban pasca bayar. Menurutnya, kompensasi itu tidak sesuai dengan apa yang diderita konsumen.

“YLKI mengusulkan pemberian kompensasi yang lebih proporsional sesuai kerugian yang diderita konsumen,” kata Sudaryatmo.

Plt Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani, mengatakan PLN berjanji memberikan kompensasi sebesar 35% dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen golongan tarif adjustment, dan sebesar 20% dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen yang masuk golongan Non Adjustment. Penerapan ini diberlakukan untuk rekening bulan berikutnya.Khusus untuk prabayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan untuk tarif listrik reguler dan diberikan pada saat pelanggan memberi token berikutnya.

‘Tamparan bagi semua pihak

Presiden Joko Widodo mendatangi kantor pusat PLN pada Senin (05/08) dan menegur pimpinan PLN terkait pemadaman listrik itu.

listrik

Meski belum ada kalkulasi nilai kerugian yang dialami para pebisnis akibat peristiwa mati listrik massal tersebut, asosiasi bisnis mengestimasi kerugian bisa mencapai ratusan miliar hingga triliunan Rupiah.

“Pertanyaan saya, bapak-ibu semua ini kan orang pintar-pintar, apalagi urusan listrik dan sudah bertahun-tahun, apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkulasi bahwa akan ada kejadian-kejadian, sehingga kita tahu,” kata Presiden.

“Tahu-tahu drop, artinya pekerjaan-pekerjaan yang ada tidak dihitung, tidak dikalkulasi,” katanya.

Jokowi juga mempertanyakan ketiadaan rencana cadangan PLN saat menghadapi gangguan.

Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani mengemukakan, penyebab mati listrik massal yang terjadi mulai pukul 11.48 WIB adalah akibat gangguan pada sistem transmisi saluran udara tegangan ekstra-tinggi (SUTET) 500 kilovolt (KV) Ungaran-Pemalang, Jawa Tengah.

“Kami mohon maaf Pak, prosesnya lambat,” kata Sripeni.

listrik

Permintaan genset meningkat setelah peristiwa mati listrik massal

Seharusnya, menurut Sripeni, proses perbaikan gangguan itu hanya memerlukan waktu empat jam. Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena semua pembangkit yang berfungsi sebagai pemasok dalam kondisi cold start.

Sripeni menjelaskan terdapat dua sistem kelistrikan di Jawa-Bali, yaitu sistem utara dan sistem selatan, dimana sistem transmisi ini masing-masing adalah dua sirkuit di utara dan dua di selatan.

“Ini yang kami tidak antisipasi adalah terjadinya gangguan dua sirkuit sekaligus. Memang ini yang secara teknologi nanti kami akan investigasi,” ungkap Sripeni.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai peristiwa matinya listrik sebagai tamparan bagi semua pihak.

Hal itu juga menunjukkan sudah saatnya Indonesia fokus mengembangkan sumber energi cadangan, khususnya dari energi terbarukan.

“Kalau perlu diperbanyak pembangkit micro-hydro, pembangkit tenaga sampah… Jadi kita tidak tergantung pada pembangkit-pembangkit besar,” kata Mamit. (h/sumber:bbcindonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: