Gempa Banten Awal dari Gempa Besar? Ini Kata BMKG

Illustrasi foto: Inilah yang terjadi saat Gempa bumi berkekuatan 9,2 skala Richter dan disusul tsunami maha dahsyat meluluhlantahkan Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. ((Foto referensi pihak ketiga)

Jakarta, PRi.Com – Gempa yang mengguncang Banten dan dirasakan hingga Jakarta belumlah puncak. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono bahwa gempa bumi di Banten bermagnitudo 7,4 yang dimutakhirkan menjadi 6,9, masih berpotensi terjadi gempa yang lebih besa

Referensi pihak ketiga
Pusat gempa di bagian selatan Selat Sunda itu merupakan kawasan yang ditandai sebagai zona sepi gempa besar, sementara itu merupakan kawasan dengan subduksi aktif.

Daryono mengatakan ketidakadaan gempa selama ini dianggap sebagai proses akumulasi dari medan tegakan kerak bumi yang sedang berlangsung

“Di daerah Selat Sunda, catatan kami tidak ada gempa di atas magnitudo 7,0,” katanya seperti dikutip dari Antara, Sabtu (3/8/2019).

Menurut catatan BMKG, pernah terjadi di bagian selatan Banten gempa bumi dengan magnitudo 7,9 pada 1903, yang merupakan gempa terakhir.

Referensi pihak ketiga

Dia tidak dapat memperkirakan secara statistik proses berulang gempa bumi itu, karena proses akumulasi medan tegakan kulit bumi tidak bisa distatistikkan.

Daryono menyatakan sebuah kawasan subduksi aktif tetapi tidak pernah terjadi gempa, dapat diduga kawasan itu sedang terjadi proses akumulasi medan tegangan, di mana ada proses penumpukan energi yang terkandung dalam kulit bumi.

“Kalau melihat hasil hitungan potensi gempa, ini belum puncaknya, karena potensi maksimal dapat mencapai magnitudo 8,7. Potensi itu tidak bisa diperkirakan dan kapan saja bisa terjadi,” jelas dia.

Sebelumnya Daryono menjelaskan, BMKG mencatat ada sebanyak enam subduksi atau penujaman lempeng di Indonesia. keenam subduksi itu dapat dirinci kembali menjadi 16 segmen megatrust.

Megatrust ini, kata Daryono berpotensi untuk memicu gempa besar di atas 7 magnitudo. “Bisa memicu gempa besar di atas 7 magnitudo. Ini kenyataan kondisi tektonika Indonesia,” papar Daryono di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu 31 Juli 2019.

Referensi pihak ketiga
Selain itu, Indonesia juga memiliki bagian banyak sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat bergerak. Dari sekian banyak sesar aktif tersebut, sebagiannya berada di daratan.

Sesar aktif yang berbeda di daratan ini jika bergerak akan menimbulkan efek goncangan yang cukup signifikan. Bahkan cenderung bersifat destruktif atau merusak.

Kata Daryono sesar di Indonesia bersifat aktif dan juga kompleks. “Aktif artinya gempa terus terjadi, sedangkan kompleks karena memang banyak sekali sumber gempanya,” jelas Daryono.

Nah, sebagai wilayah yang terletak di zona rawan gempa, belajar dan mengerti potensi gempa dan cara meminimalisir resiko memang mutlak di butuhkan. Kita memang tidak bisa menghindarinya tapi kita bisa mempelajari dan selalu bersiap diri. (h/Lip6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: