Galian C di Taput Dapat Menuai Bencana

Taput, PRESTASI REFORMASI.Com – Melihat maraknya usaha galian C seperti batu dan pasir yang diduga dominan illegal telah menimbulkan kekhawatiran masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).

Belakangan ini galian C itu bagaikan menjamur, baik di Aek Sigeaon yang membelah Tarutung sebagai ibu kota Taput maupun di Aek Situmandi yang mengalir di arah Timur.

Bahkan puluhan juga telah muncul di Sungai Batang Toru yang menjadi gabungan dua sungai tersebut hingga 60 km di Kecamatan Simangumban batas Tapanuli Selatan.

Akhir-akhir ini sejumlah masyarakat Taput berharap agar aparat terkait segera menertibkan tambang tersebut karena sudah tergolong merusak lingkungan yang suatu saat nanti akan menimbulkan bencana yang sangat merugikan semua pihak di daerah ini.

Untuk diketahui beberapa Galian C yang diduga illegal (tidak memiliki izin) yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batangtoru itu seperti Desa Pansurnapitu dan di Desa Siraja Hutagalung Kecamatan Siatas Barita, tambang pasir di DAS Aek Sigeaon Tarutung, tambang pasir di DAS Batangtoru Kecamatan Pahae Julu dan Pahae Jae, Simangumban dan Purba Tua.

Kemudian, Tambang batu padas di Desa Siarang-arang Kecamatan Tarutung, Sipoholon, tambang pasir gunung di daerah Ugan Desa Parbubu Dolok Kecamatan Tarutung, tambang pasir gunung di Desa Hutaraja Kecamatan Sipoholon.

Hutagalung dan P Lumban Goal, termasuk pemerhati pembangunan dan kemasyarakatan di Taput ungkapkan keprihatinan atas menjamurnya galian C dimaksud, patut diduga tidak ada memiliki izin, hal itu menurutnya karena dari hasil penelusuran di lapangan tidak ada papan nama yang menandakan galian C itu memiliki izin.

Karena tidak memiliki izin dari pemerintah, sehingga kontribusi untuk daerah atau wilayah tidak ada sama sekali dan terkesan tidak juga ada pengawasan instansi terkait. Aktifitas para pengusaha ini justru hanya menimbulkan kerusakan lingkungan sekitar.

“Kepolisian atau aparat terkait agar menertibkan galian C tersebut. Kita lihat sendiri, apakah galian C itu ada menguntungkan daerah atau masyarakat sekitar. Yang ada justru kerugian karena jalan umum, aliran sungai dan lahan pertanian masyarakat menjadi rusak,” ujar P Lumban Gaol.

Lebih lanjut dikatakannya, mengapa ada galian C (batu padas) di DAS Batangtoru ysitu di daerah Siarang-arang Kecamatan Tarutung, pengambilan batu ini persis dipinggiran sungai dan dekat dengan jembatan. Padahal menurut peraturan, menambang galian C di pinggir sungai tidak diperbolehkan karena rawan abrasi juga longsor.

Hal yang sama juga terjadi di DAS Batangtoru Desa Pansurnapitu dan Hutagalung Kecamatan Siatas Barita. Disini, penambang pasir secara terang-terangan menambang pasir dekat pemukiman warga dan jembatan yang umumnya pakai mesin penyedot.

Tambang Galian C ( batu padas) di Desa Siarang-arang Kecamatan Tarutung diduga tidak ada izin.

“Jadi janganlah Izin Lingkungan yang diberikan PMDPPT Taput kepada pihak pengusaha galian C pada suatu saat menuai bencana di daerah ini, mereka harus memonitor kegiatan para penambang secara rutin untuk menghindari hal yang tidak diinginkan” kata Hutagalung di Tarutung, Senin (17/6).

Sementara saat dikonfirmasi wartawan, Anas Siagian, Kepala Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Perizinan Terpadu (PMDPPT) Pemerintah Kabupaten Taput, melalui Kasi Informasi dan Data, Halimah Purba, Senin (17/6/2019) mengatakan, Pemkab Taput dalam hal perizinan galian C hanya memberikan izin lingkungan.

Dikatakannya, ada 11 pengusaha galian C pertambangan batu gunung yang mempunyai izin lingkungan, yaitu Perusda Pertambangan Dan Industri di Desa Parsaoran Nainggolan Kecamatan Pahae Jae, CV Tunas Karya di Jalan DR TB Simatupang Hutabaginda Kelurahan Hutatoruan VII Kecamatan Tarutung, PT Marlian Indah Karya di Desa Sipultak Kecamatan Pagaran.

Kemudian, CV Putra Sion di Dusun Aek Rau di Desa Simangumban Kecamatan Simangumban, CV Jaya Bersama di Dusun Aek Las Desa Simangumban Julu Kecamatan Simangumban, UD Elsa di Dusun Tano Perak Desa Manalu Dolok Kecamatan Parmonangan, Nurmaida Siregar di Desa Situmeang Habinsaran Kecamatan Sipoholon, CV Putra Sion di Desa Pardomuan Nainggolan Kecamatan Pahae Jae.

Lalu, CV Tunas Pahae Nauli di Sungai Batang Toru Desa Parsaoran Nainggolan Kecamatan Pahae Jae, CV Jamandes di Kecamatan Siborongborong dan PT Kartika Indah di Dusun Koje Hutatonga Desa Simangumban Julu Kecamatan Simangumban.

Menurut Halimah Purba, 11 pengusaha itu yang dikeluarkan rekomendasi dan izin lingkungan galian C dari Pemkab Taput. Selanjutnya, untuk Izin Usaha Produksi (IUP) adalah kewenangan Pemerintah Propivinsi Sumatera Utara.

“Jadi, untuk izin galian C dikeluarkan oleh Pemprovsu. Kalau ada diluar 11 pengusaha itu yang melakukan penambangan galian C, itu tanpa sepengetahuan kami. Namun dalam waktu dekat ini, kami akan turun ke lapangan untuk mendata galian C yang beroperasi di Taput dan akan direkomendasikan untuk ditertibkan,” ujar Halimah Purba. (Jas).

Tambang Pasir di Sungai Batangtoru Kec.Siatas Barita dengan mesin penyedot.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: