Matahari di Atas Ka’bah

Waktunya Menyempurnakan Arah Kiblat

Gerak semu Matahari membuat Matahari akan tepat ada di atas Mekkah pada 28 Mei dan 16 Juli tengah hari. Inilah waktu terbaik menyempurnakan arah kiblat dengan mudah tapi akurat.

Kiblat adalah penjuru utama dalam banyak peribadatan umat Islam, terutama sholat. Kiblat mengacu pada Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Lurusnya kiblat jadi penyempurna ibadah.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang juga anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Thomas Djamaluddin, Senin (27/5/2019), saat dihubungi dari Jakarta, mengatakan penyempurnaan arah kiblat itu bukan berarti arah kiblat saat ini berubah.

Selama ini, beredar pandangan keliru di masyarakat yang menganggap penyempurnaan arah kiblat diperlukan karena adanya pergeseran lempeng atau gempa Bumi. Padahal, pelurusan itu diperlukan karena selama ini arah kiblat ditentukan melalui perkiraan kasar atau memakai kompas yang tidak akurat.

“Dengan menggunakan bayangan Matahari pada saat tertentu, arah kiblat lebih mudah dilakukan, namun lebih akurat hasilnya,” katanya.

Secara umum, posisi wilayah Indonesia ada di tenggara Mekkah. Dengan demikian, arah kiblatnya ke barat laut. Meski demikian, arah pasti kiblat itu berbeda untuk setiap daerah, tergantung posisinya terhadap Ka’bah. Arah kiblat wilayah selatan Indonesia akan lebih miring ke barat laut dibanding daerah yang ada di bagian utara Indonesia.

Perbandingan arah kiblat Jakarta dan Banda Aceh yang berbeda kemiringannya. Sebagai wilayah yang ada di tenggara Mekkah, arah kiblat di Indonesia adalah menghadap barat laut. Namun, setiap daerah memiliki arah kiblat yang bervariasi, tergantung posisinya terhadap Mekkah. (sumber: kompas.com)

Untuk meluruskan arah kiblat, masyarakat bisa memanfaatkan pengetahuan tentang posisi Matahari ketika ada di atas Ka’bah, Mekkah. Tiap tahun, Matahari tepat di atas Ka’bah sebanyak dua kali, yaitu 28 Mei pukul 12.18 waktu Mekkah atau 16.18 WIB dan 16 Juli pukul 12.27 waktu Mekkah atau 16.27 WIB.

Saat Matahari di atas Mekkah itu, seluruh bayangan benda di Bumi yang sedang siang hari akan menghadap ke Ka’bah. Arah bayangan ke arah barat laut itulah yang jadi patokan arah kiblat. Jika memakai tongkat, maka arah kiblatnya adalah dari ujung bayangan ke arah tongkat.

“Jika tahun yang sedang berjalan adalah tahun kabisat, posisi Matahari di atas Mekkah terjadi pada 27 Mei dan 15 Juli,” tambah dosen Astronomi dan Astrofisika, Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Judhistira Aria Utama.

Antipoda

Namun, penyempurnaan arah kiblat saat Matahari di atas Ka’bah itu hanya bisa dilakukan di wilayah yang sedang sama-sama mengalami siang hari. Cara itu tidak bisa dilakukan di wilayah Indonesia timur, Pasifik Barat dan Amerika karena wilayah tersebut sedang malam hari saat Matahari di atas Ka’bah.

Meski demikian, masyarakat yang tinggal di wilayah yang sedang malam hari saat Matahari di atas Ka’bah itu tetap bisa memakai bayangan Matahari untuk meluruskan kiblat. Namun, waktunya berbeda, yaitu saat Matahari ada di atas wilayah antipoda Mekkah.

Antipoda adalah dua wilayah yang posisinya saling berkebalikan pada bola Bumi. Jika Mekkah ada di belahan Bumi utara dan bujur timur, maka antipodanya ada di belahan Bumi selatan dan bujur barat.

Dengan posisi astronomis Mekkah yang terletak di 21 derajat 25 menit lintang utara dan 39 derajat 49 menit bujur timur, maka wilayah antipodanya terletak di 21 derajat 25 menit lintang selatan 140 derajat 11 menit bujur barat.

“Titik antipoda Mekkah itu ada di selatan Samudera Pasifik, sekitar wilayah Polinesia Perancis,” kata Judhistira.

Matahari tepat di atas wilayah antipoda Mekkah itu juga terjadi sebanyak dua kali setahun, yaitu 13 Januari pukul 12.30 waktu setempat atau 14 Februari pukul 6.30 WIT dan 28 November pukul 12.09 waktu setempat atau 29 November pukul 6.09 WIT.

Namun, arah kiblat yang ditentukan saat Matahari ada di antipoda Mekkah adalah arah sebaliknya bayangan. Jika memakai tongkat, maka arah kiblatnya dari tongkat ke ujung bayangan. Dengan demikian, arah kiblat wilayah Indonesia timur tetap ke arah barat laut.

Meski demikian, Thomas mengatakan penyempurnaan arah kiblat itu bisa dilakukan dalam rentang waktu tertentu. “Plus minus 2 hari dan plus minus 5 menit dari setiap waktu Matahari di atas Mekkah atau antipoda Mekkah masih memberikan hasil arah kiblat yang akurat,” katanya.

Pelurusan arah kiblat itu tidak hanya bisa dilakukan untuk masjid dan mushala, tetapi juga rumah karena banyak peribadatan dilakukan di rumah. Penentuan arah kiblat itu juga bisa dilakukan di lapangan yang akan digunakan Sholat Idul Fitri nanti.

Jaga persatuan

Wakil Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama yang juga anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Hendro Setyanto mengatakan jika ditemukan perbedaan arah kiblat pada masjid atau mushala yang ada dengan pengukuran memakai bayang-bayang Matahari, maka itu perlu disikapi secara bijak.

Temuan perbedaan itu harus diperbincangkan dengan pengurus masjid atau mushala. Jika sepakat menyempurnakan kiblat, tak perlu membongkar bangunan, cukup memperbaiki shaf sholat. Jika tak ingin meluruskan karena dianggap arah kiblat itu warisan pemuka agama terdahulu, maka kedamaian dan ketenteraman masyarakat harus diutamakan.

“Pengetahuan manusia tentang kiblat berkembang seiring waktu. Jangan sampai penyempurnaan arah kiblat itu justru memecah belah umat,” kata Hendro. ( h/sumber: kompas.com/Oleh M Zaid Wahyudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: