Teroris Bantai Umat Islam Saat Sholat Jumat di Selandia Baru

‘Serangan teror’ di dua masjid Selandia Baru: ‘Dua WNI kena tembak’, 49 orang meninggal. Penembak di Masjid Selandia Baru Terpengaruh Ekstremisme

Chrisrchurh, PRESTASIREFORMASI.Com – Tindakan brutal dan sangat intoleran telah terjadi di Selandia Baru,  teroris menayangkan secara langsung jejaring sosial Facebook pembantaian umat Islam yang sedang sholat Jumat di dua mesjid di negara tersebut, Jumat (15/3/2019).

Teror yang menggemparkan dunia karena 49 orang tewas ini terjadi di Selandia Baru, sebuah negara kepulauan di barat daya Samudera Pasifik. Negara ini kira-kira 1.500 kilometer di tenggara Australia, di seberang Laut Tasman; dan kira-kira 1.000 kilometer di selatan negara-negara kepulauan Pasifik, yakni Kaledonia Baru, Fiji, dan Tonga.

Brenton Tarran adalah aktor paling menonjol sebagai pelaku penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru ini. Ia disebut telah termotivasi oleh supremasi kulit putih dan ekstremisme di Amerika Serikat (AS).

Brenton Tarran diketahui sebagai warga Australia  yang mendukung ideologi sayap kanan.

Perdana Menteri Australia Scott Morisson membenarkan bahwa pelaku penembakan adalah seorang teroris ekstremis yang mendukung ideologi sayap kanan dan kejam. Meski demikian, identitas tersangka belum dikonfirmasi hingga saat ini.

Sebelum melakukan seragan brutal, pelaku nampaknya mengunggah manifesto 74 halaman ke jejaring sosial Twitter serta forum online. Di dalam manifesto itu, Tarran menyatakan kebenciannya pada imigran Muslim di Eropa. Tak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa gerakan ekstremis AS sebagai idolanya.

Sebelum melakukan seragan brutal, pelaku nampaknya mengunggah manifesto 74 halaman ke jejaring sosial Twitter serta forum online.

Tarran juga mengklaim bahwa ia memberikan sumbangan kepada kelompok supremasi kulit putih, bahkan melafalkan 14 slogan yang populer dari kelompok tersebut. Salah satunya adalah slogan dari Faith Goldy yang mengatakan: “Kita harus mengamankan keberadaan rakyat kita untuk masa depan anak-anak kulit putih.”

Ia juga mengagumi penembak massal Amerika. Dalam sebuah gambar yang diunggah ke Twitter, Tarran memperlihatkan majalah dengan gambar senapan dan bertuliskan sejumlah nama. Termasuk di antaranya adalah Alexandre Bissonnette, yang menjalani hukuman seumur hidup karena menembak dan membunuh enam orang di sebuah masjid di Quebec, Kanada, pada 2017.

Selain itu, ada Luca Traini seorang ekstremis sayap kanan yang diduga menembak enam orang Afrika di Italia pada Februari 2018. Majalah-majalah itu juga merujuk beberapa pertempuran di mana Kekaisaran Ottoman dikalahkan.

Pelaku sebelumnya diketahui menyiarkan secara langsung aksi serangan melalui jejaring sosial Facebook. Sebuah unggahan di papan pesan anonim 8chan dan diduga dibuat oleh pelaku juga menuliskan link atau tautan untuk menonton siaran tersebut.

Penembakan massal selama ini hampir tak pernah terjadi di Selandia Baru. Terlebih, kejadian ini dipicu oleh kebencian dan terjadi di tempat ibadah. Karenanya, terdapat dugaan bahwa apa yang memotivasi pelaku salah satunya adalah politik Amerika.

Sejumlah anggota keluarga korban penembakan berada di luar masjid Christchurch. (sumber: rtr)

Dua WNI Terluka 

Sebanyak dua warga Indonesia mengalami luka tembak dalam aksi penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3), sebut juru bicara Kementerian Luar Negeri RI.

“Terdapat dua WNI, ayah dan anak, yang terkena tembak di masjid. Kondisi ayah saat ini di ICU dan anak dirawat di ruang biasa di rumah sakit yang sama, yaitu Christchurch Public Hospital.

“KBRI Wellington terus berkordinasi dengan otoritas setempat, kelompok WNI dan rumah sakit di Christchurch,” sebut Arrmanatha Nasir dalam keterangan tertulis.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, sebelumnya mengatakan sebanyak enam warga Indonesia berada di Masjid Al Noor ketika penembakan berlangsung.

“Ada enam WNI yang berada di masjid tersebut, tiga di antaranya sudah confirm menyelamatkan diri. Kita sedang mencari informasi 3 WNI lainnya,” kata Retno kepada wartawan di gedung Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat (15/3).

Dalam keterangan tertulis, Kemlu RI menyatakan Indonesia mengecam keras aksi penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru.

Berdasarkan data Kemlu RI, terdapat 331 WNI di Christchurch, termasuk 134 mahasiswa.

Komisaris Polisi Mike Bush mengatakan jumlah korban meninggal dunia akibat penembakan di dua masjid telah bertambah menjadi 49 orang.

Sebelumnya, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengungkap bahwa terdapat sedikitnya “40 orang telah tewas dibunuh”.

“Kejadian ini hanya bisa digambarkan sebagai serangan teror,” ujarnya dalam jumpa pers.

Dari 40 korban tewas itu, menurut Ardern, 30 di antara mereka meninggal dunia di masjid Al Noor di dekat Hagley Park, pusat Kota Christchurch. Adapun 10 lainnya tewas di Masjid Linwood, pinggiran kota.

Selain korban tewas, ada 20 orang mengalami cedera.

PM Ardern menekankan bahwa para tersangka pelaku yang ditahan aparat “tidak berada dalam daftar pengawasan” aparat.

“Ini bukan permasalahan seseorang lolos dari pemantauan radar.”

Belakangan, Komisaris Polisi, Mike Bush, menambahkan bahwa tidak ada lembaga di Selandia Baru yang punya informasi intelijen mengenai para tersangka pelaku. Bush menambahkan, pihak Australia juga tidak punya informasi.

Penembakan pertama terjadi di Masjid Al Noor di pusat Kota Christchurch, sedangkan penembakan kedua di Masjid Linwood di pinggiran kota.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan ini adalah kejadian “luar biasa, tak pernah terjadi sebelumnya, dan salah satu hari terkelam” negara tersebut.

Komisaris polisi, Mike Bush, menyebutkan sebanyak empat orang telah ditangkap. “Tiga pria, dan satu perempuan”.

“Kami belum mengetahui tahu ada orang lainnya (yang terlibat), namun kami tidak bisa berasumsi tidak ada lainnya yang berkeliaran…Jangan berasumsi bahwa bahaya telah lenyap.”

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengonfirmasi bahwa salah satu pelaku merupakan warga Australia. Menurutnya, pelaku adalah “teroris keji ekstrem kanan”.

Baca juga: DMI Berduka untuk Korban Penembakan Masjid Selandia Baru

Bom rakitan
Komisaris polisi, Mike Bush, mengamini aparat menemukan dua bom rakitan yang dipasang di kendaraa milik tersangka pelaku. “Barang-barang itu telah diamankan oleh aparat keamanan.”

Sebelumnya, Bush mengimbau agar warga mengurungkan niat ke semua masjid di Selandia Baru. “Tutup pintu Anda sampai Anda mendengar dari kami lagi.”

Seorang penyintas yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada TV New Zealand bahwa dia melihat pelaku bersenjata menembak seorang pria pada bagian dada. Dia memperkirakan penembakan berlangsung selama 20 menit dan sedikitnya 60 orang mungkin cedera.

Pelaku dilaporkan menyasar ruang salat bagian pria di masjid, kemudian beralih ke ruang perempuan.

“Yang saya lakukan pada dasarnya hanya menunggu dan berdoa, ‘Ya Tuhan, saya mohon agar orang ini kehabisan peluru’,” papar saksi tersebut.

“Dia datang ke bagian sini, dia menembak bagian sini. Dia lalu beranjak ke ruangan lain dan ke bagian perempuan kemudian menembak mereka. Saya mendengar salah seorang perempuan meninggal dunia.”

Sekolah ditutup
Seorang pelajar Indonesia yang kini berada di Christchurch mengatakan universitas tempatnya menempuh studi telah menghentikan aktivitas.

“Universitas dari jam 3 kasih update terus kalau ada lockdown. Semua ujian di ruang kelas hari ini dibatalkan,” kata Nadia Anindita, mahasiswi Universitas Canterbury.

“Ada teman yang di kampus disuruh langsung pulang ke rumah masing-masing,” tambahnya.

Namun, perintah penutupan sekolah dan universitas dicabut pada pukul 17.50 waktu setempat.

Beberapa saat setelah kejadian berlangsung, sejumlah saksi mata mengatakan kepada media setempat bahwa sejumlah orang tampak berdarah di tanah di luar gedung.

“Awalnya saya pikir ada bunyi listrik, tapi ada banyak orang berlarian. Teman saya masih ada di dalam.

“Saya sudah menghubungi teman-teman saya, tapi banyak yang belum memberi kabar. Saya khawatir akan nyawa teman-teman saya,” kata Mohan Ibrahim kepada New Zealand Herald.

Kepolisian kemudian memperingatkan agar warga menjauhi area tersebut.

Laporan media setempat menyebutkan sejumlah polisi bersenjata menyisir gedung-gedung di area itu.

Para polisi dilaporkan juga sempat meminta semua orang menjauhi Cathedral Square, tempat akan diadakannya pawai anak-anak untuk mendesak aksi mengatasi perubahan iklim.

Seorang reporter yang mengikuti tim kriket Bangladesh yang tengah berada di Selandia Baru mencuit bahwa mereka telah “melarikan diri dari sebuah masjid dekat Hagley Park tempat adanya penembak aktif”. (h/rol/bbcindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: