Pelaku Kekerasan di Muara Sudah Inkrah Curhat di Medsos

Polres Taput Sebut Pelaku Curhat di FB Dinilai telah Ciderai Hukum

Tarutung, PRESTASI REFORMASI.Com – Akhirnya tiga orang yang diduga lakukan kekerasan terhadap anak di Kecamatan Muara Tapanuli Utara (Taput) Sumut, dijemput paksa aparat karena tidak mau memenuhi dua kali panggilan Polisi Sektor (Polsek) Muara.

Ketiga pelaku yang dijemput paksa ini adalah Kirib Bakkara (KB) 63 tahun, Nurhayati Sihombing (NS) 61 tahun dan Sabrina Bakkara (SB) 24 tahun masing-masing warga Desa Simatupang, Kecamatan Muara.

Peristiwa tindak kekerasan ini beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial, karena kasus tindak kekerasan ini terjadi pada anak inisial RMS berusia 14 tahun yang dituduh lakukan pencurian uang.

Karena peristiwa ini ada di wilayah kerjanya, maka Polsek Muara lakukan Pengusutan yang sedikit memakan waktu dan saat penanganan kasus ini ada pihak kurang koperatif.

Sehingga pihak Kepolisian lakukan upaya jemput paksa setelah dua kali surat panggilan tidak dipenuhi. Disebutkan, jemput paksa tersebut mau tidak mau harus dilakukan demi tegaknya hukum dan dalan pelaksanaannya juga dihadiri Kepala Desa dan camat setempat pada 5 Juni 2018 lalu.

Setelah melalui proses penyidikan, kemudian hasilnya diserahkan ke pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk disidangkan di Pengadilan Negeri Tarutung hingga ketiga terdakwa divonis pengadilan bersalah dan harus menjalani hukuman penjara selama 10 bulan.

Inilah mungkin penyebabnya sehingga SB yang ikut sebagai terdakwa dan turut dijemput paksa aparat merasa sakit hati, sehingga memposting curhatan di media sosial (facebook) belakangan ini dengan nama Sabrina Bakkara.

Dikatakab SB kalau penanganan hukum yang dialami mereka disebut-sebut melebihi penanganan tersangka teroris. Kemudian dia menulis pesan itu agar jadi perhatian serius Presiden RI Ir Joko Widodo dan Kapolri di Jakarta.

Untuk merespon cuitan SB inilah Polres Taput memberi keterangan pers, menyebut sudah melakukan pendekatan persuasif baik dari pihak Polsek Muara, Kepala Desa Simatupang Bontor Sianturi dan Camat Muara Richand Situmorang pada 5 Juni 2018 lalu, tiga terdakwa itu sama sekali tidak koperatif malah emosi dan melakukan perlawanan terhadap petugas.

Berbagai cara bujukan agar mengikuti proses hukum tidak dituruti, malah terdakwa NS menggigit tangan dan mencakar pinggang sebelah kanan Alinton Nainggolan dan menggigit tangan Peri Samosir dari anggota Polsek Muara.

“Dua personil Polsek Muara mengalami cidera luka karena gigitan dan cakaran oleh terdakwa NS di saat upaya jemput paksa itu. Jadi buat apa lagi diungkit di medsos,” tegas Kasubbag Polres Tsput Aiptu Sutomo M Simaremare SH kepada PRESTASI REFORMASI.Com di di Mapolres Taput, Kamis (14/2).

Ia menyebut, upaya jemput paksa tersebut sudah sesuai SOP dan telah diatur di dalam Pasal 112 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dengan pendampingan Kepala Desa setempat bahkan saat itu Camat Muara turut hadir.

“Di dalam pasal tersebut disebutkan bahwa, orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya,” jelas Sutomo.

Adapun kronologi penanganan kasus kekerasan anak itu, terang Aiptu Sutomo M Simaremare SH, bermula dari dugaan pencurian uang oleh RMS (14) seorang pelajar sekolah dasar pada tanggal 16 April 2018 lalu di Desa Simatupang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara.

Terdakwa menuduh korban RMS mencuri sejumlah uang dari rumah mereka dengan alasan NS saat itu ada melihat RMS berada di kolong rumah tersangka pada tanggal 16 April 2018 sekira pukul 16.00 WIB.

Namun berita kehilangan uang tersebut tidak segera dilaporkannya ke pihak berwajib, namun langsung mendatangi rumah korban RMS dan terjadilah penganiayaan disaksikan tiga orang warga HO, MLS dan JT sekira pukul 20.00 WIB.

“Saat itu korban RMS berada di rumahnya didatangi ketiga tersangka dan terjadi tanya jawab antara terdakwa SB dengan korban RMS. Tidak puas dengan jawaban korban RMS yang terus bertahan tidak ada melakukan pencurian uang, lantas ketiga terdakwa KB, SN dan SB secara bersama lakukan penganiayaan,”tutur Sutomo.

Kemudian sesuai hasil visum et revertum, korban mengalami luka bengkak dan memar di pinggang sebelah kiri, luka memar dan bengkak di pinggang sebelah kanan, luka memar dilengan sebelah kanan korban dan bibir korban bengkak akibat penganiayaan ketiga pelaku,” lanjut Sutomo.

AKP Hendro Sutarno SH Kasat Reskrim Polres Tapanuli Utara mengatakan curhatan Sabrina Bakkara di facebook atau sosial media  sudah menciderai proses hukum yang sudah inkrah.

“Maka demi menjaga nama baik institusi Polri dalam penanganan hukum atas kasus terdakwa Sabrina Bakkara, kicauan itu kami nyatakan berita hoaks dan bisa merugikan dirinya sendiri,” tegas Hendro Sutarno menjawab wartawan di Aula Mini Polres Taput. (Jas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: