Anak Belawan Rindu Hiburan Tempat Bermain Tinggal Impian

Teks foto: Taman Jawatan di era 60-70an itu kini telah menjelma indah di depan kantor Cabang Pelabuhan Belawan. Lokasi itu kini tak bisa lagi dikunjungi secara bebas seperti masa lalu.

H.Masken Pangaribuan

Belawan, PRESTASI REFROMASI,Com – PERNYATAAN miris mengawali ungkapan anak-anak Belawan tentang pentingnya sarana atau tempat hiburan. Mereka bagai orang kehausan di padang sahara. Rindu hiburan untuk “pembasuh lelah”, sedangkan tempat bermain hari ini tinggal impian.

“Tak ada taman hiburan buat kami. Cuma ini yang bisa kami nikmati, om,” kata seorang bocah yang tengah bermain di sebuah tempat hiburan anak-anak. Lokasi tersebut di lambung jalan protokol Raden Sulian kawasan Gudang Garam  berjarak sekitar 25 meter  dari depan pintu terminal penumpang Bandar Deli Belawan.

Di tengah deru mesin kenderaan yang hingar bingar berpadu hempasan debu jalan, mereka tampak asyik bermain dan bersenda gurau dengan sesamanya. Sambil berputar-putar di atas kereta api mini, sesekali terdengar lagu-lagu kecil menghibur mereka.

Sedih. Lahan tempat mereka bermain sekaligus bermanja  tergolong riskan. Tak ada jaminan keamanan terhadap kemungkinan kecelakaan lalu lintas di sana, namun mereka tetap bermain di tempat hiburan tersebut, karena hampir  tak  tersisa “sejengkal”  pun lahan tempat mereka bisa mendapatkan hiburan bermain.

Yudi, salah satu anak yang berhasil  penulis ajak ngobrol di suatu malam beberapa waktu lalu di tempat mereka bermain kereta api mini itu. Ia menuturkan, mereka tak punya pilihan lain. “Cuma di sini kami bisa bermain om.  Ndak ke Marelan uang te cukop. Dah naseb, maya ndak dibuat lagi,”ucap bocah kelas 5 SD itu dengan dialeg khas Melayu.

Katanya, kalau ke Medan atau ke Suzuya Marelan untuk mendapatkan hiburan dengan bermain sarana hiburan yang lebih nyaman mereka tak mampu, karena harus menambah biaya ongkos angkot. Dengan nada agak sedih Yudi menambahkan lagi, tempat hiburan sebagai “pembasuh lelah” kalangan anak-anak Belawan ini hanya satu-satunya di kawasan Gudang Garam  di depan Terminal Penumpang Bandar Deli Belawan.

“Andai saja  ada lapangan sepak bola yang bisa digunakan pada malam hari, kami lebih suka berlatih dan main bola saja daripada bermain seperti ini. Di Belawan mana ada lapangan sepak bola yang bisa digunakan pada malam hari. Kalaupun ada cuma lapangan Bhakti Belawan. Itu pun hanya sampai sore dan yang berlatih dan bermain di sana terbatas,” sebutnya.

Hilang satu persatu

Terkait keluhan anak Belawan tentang minim dan tak ada lagi lahan tempat bermain sebagai hiburan bagi masyarakat di kawasan Kota Maritim itu, H.Masken Pangaribuan selaku tokoh pemuda kelahiran Belawan tidak menampik komentar tersebut.

“Ya, kalau hari ini kita bicara tentang tempat bermain sekaligus sebagai lahan tempat hiburan masyarakat Belawan—apalagi khusus untuk anak-anak—itu memang hampir tak ada lagi. Memang sudah hilang satu persatu. Artinya, kalaupun masih ada bekas tempat hiburan dan tempat bermain masyarakat Belawan masa lalu, hari ini tempat-tempat indah itu sudah beralih fungsi,” sahut tokoh pemuda Sumatera Utara kelahiran Pondok Cungking Belawan itu.

Taman Jawatan

Ia menyontohkan di antara tempat-tempat hiburan dan tempat bermain masyarakat Belawan  sirna menjelang tahun 80-an. Tempat tersebut seperti Taman Jawatan. Di era tahun 60 sampai 70-an, di tempat ini ada taman air mancur sekligus taman bunga. Taman Jawatan itu terletak di depan Kantor Pelindo I Cabang Belawan.

“Di Tempat ini dulunya menjelang sore masyarakat sudah bisa “membasuh lelah” bermain bersama keluarga di sekitar taman air mancur berpadu taman bunga nan indah.   Bahkan tempat ini pernah dikunjungi dua Presiden RI, yakni  Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto saat keduanya berkunjung  ke Belawan di era tahun 60-an,” sahut H.Masken Pangaribuan.

Pantai Kasih dan Sabarati

Selain Taman Jawatan juga tak  kalah tersohor di zaman itu, Pantai Kasih dan Pantai Sabarati. Dua pantai di ujung utara Kota Medan ini kenang Masken bukan cuma sebagaoi tempat bermain dan hiburan masyarakat Belawan saja. Tapi masyarakat dari luar Belawan juga ramai bermain ke dua tempat ini. Terlebih lagi saat Hari Raya Idul Fitri.

“Pada suasana hari raya, bahkan sampai hari kelima umumnya masyarakat dari luar Medan seperti dari perkebunan beramai-ramai datang ke Belawan dengan mengendarai truk-truk perkebunan untuk bisa menikmati pemandangan laut Belawan. Bahkan tidak sedikit pula yang bermain sampai ke Pasir Putih. Untuk menuju lokasi wisata Pasir Putih ini masyarakat menggunakan jasa sampan atau boat,” ujar Masken.

“Yah, sekarang ini kita cuma bisa menceritakan ulang saja butir-butir kenangan manis Kota Maritim Belawan yang telah terserak di sana-sini. Kalau  bicara tentang harapan di masa dating untuk  kenangan manis Belawan itu dapat terulang kembali, agaknya jauh panggang dari api. Namun begitu kita lihatlah siapa tahu ada kebijakan dan perhatian Pemko Medan membenah kecamatan sebagai tempat lintasan devisa  ini. Mudah-mudahan,” ucapkan H.Masken Pangaribuan. (masri tanjung).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: