LSM Foal Tapteng Ungkap Kasus Amoral Sejumlah Kepsek dan Guru di Tapteng

Diduga Disdik Tapteng ‘Tutup Mata” atas Kasus yang Melanggar PP No. 10 jo. 45 Tahun 1990 yang ancamannya pemberhentian tak hormat kepada PNS tersebut.

Tapteng, PRESTASI REFORMASI.Com — Di zaman sekarang ada beberapa guru yang  mengalami krisis etika dan moral. Kasus demi kasus banyak dijumpai baik di media massa dan elektronik. Seperti halnya temuan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) FOAL Independent dan LSM Masyarakat Untuk Anti Dan Lawan Korupsi (Mutilasi) tentang sejumlah Kepala Sekolah (Kepsek) dan guru di Tapanuli Tengah melanggar etika moral dan Peraturan Pemerintah.

Kasusnya dimulai dari kawin lagi padahal suaminya masih ada tanpa perceraian, hidup serumah dengan lelaki lain padahal suami sahnya masih hidup serta seorang guru yang melakukan pelecehan seksual kepada delapan siswanya.

Temuan kasus tersebut diungkapkan Ketua DPP LSM FOAL Independent Imran Steven Pasaribu yang berkoalisi dengan Koalisi LSM Mutilasi, kepada wartawan Surat Kabar Prestasi Reformasi dan PRESTASI REFORMASI.Com di Pandan Tapanuli Tengah, Senin (14/1/2019).

Imran Steven mengungkapkan temuan kasus ini kepada wartawan setelah sebelumnya melaporkan pelanggaran etika moral itu kepada Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tapanuli Tengah, namun pejabat pendidikan di daerah itu terkesan “tutup mata”, serta belum ada tindakan sanksi tegas kepada mereka yang terlibat kasus.

Temuan kasus yang telah dilaporkan dan diungkapkan LSM Foal dan LSM Mutilasi, , 1. Adanya seorang Kepala Sekolah di salah satu SD Negeri 156482 Aek Raso2 bernama Geranni Henriana Panggabean, diduga keras melanggar etika moral sebagai pendidik dan juga kepala sekolah. Ditandai dengan adanya beberapa bukti foto mesra bersama
suami orang sementara Dia pun masih sah Istri orang lain.

2. Adanya Guru Honorer di SMP Negeri 4 Sibabangun bernama Kortina Dolok Saribu yang tidak juga mengabaikan etika sebagai seorang tenaga pendidik, karena statusnya masih bersuami sah tetapi telah serumah dengan lelaki lain.

3. Seorang Guru Olah Raga (ASN) di SD N 153059 Muara Bolak 1 bernama Hiskia Bondar pada beberapa bulan lalu melakukan pelecehan seksual kepada delapan siswanya.

“Ironisnya, kasus temuan yang telah kami laporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah tidak ditindak lanjuti dan para tenaga pendidik yang terlibat juga terkesan didiamkan , sehingga berita ini kami lansir ke publik,” ujar Ketua DPP LSM FOAL Imran Steven Pasaribu SE.

Ia menyebutkan, bahkan ada juga kasus serupa terjadi beberapa kali di lingkup Dinas Pendidikan Tapteng, namun pejabat di instansi tersebut terkesan melindungi dan membiarkan kejadian tersebut.

“Padahal menurut kode Etik Guru harus : 1. Guru berbakti dalam membimbing anak didik guna membentuk generasi Indonesia yang berjiwa Pancasila. 2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.3. Guru berusaha mendapatkan informasi tentang anak didiknya sebagai alat untuk membina dan membimbing. 4. Guru menciptakan suasana sekolah dengan sebaik baiknya agar proses belajar mengajar bisa bisa berhasil.”

Ia melanjutkan, nomor 5. Guru menjaga hubungan baik dengan orang tua wali maupun dengan masyarakat untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab terhadap pendidikan.6. Guru secara pribadi dan bersama sama menjaga mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan martabat profesi.7.Guru bersama sama menjaga
meningkatkan kualitas organisasi PGRI sebagai wadah perjuangan dan pengabdian, 8. Guru menjalankan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. 9.Guru seharusnya menjadi suri tauladan bagi murid dan masyarakat.

Mempertimbangkan kasus ini sangat mencoreng arang bagi wajah dunia pendidikan di Tapanuli Tengah, kedua LSM ini berharap kepada Bupati Tapanuli Tengah Bahtiar Sibarani, untuk segera menyikapi adanya temuan kasus tersebut dan menerapkan sanksi tegas kepada mereka yang terbukti melanggar disiplin aoaratur sipil negara (ASN). (mp/nm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: