PT Socfindo Dituntut Penjelasan Terkait Kolam Limbah Jebol

Aceh Singkil, PRESTASI REFORMASI.Com –  Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil memanggil pihak perusahaan PT Socfindo, untuk dimintai penjelasan terkait kolam penampung limbah yang jebol dan mencemari aliran Sungai Lae Cinendang.

Pertemuan dilaksanakan di kantor bupati Aceh Singkil bersama Wakil Bupati Sazali, Sekda Azmi dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nazri yang dihadiri oleh perwakilan perusahaan, di antaranya Teknik 1 PT Socfindo Samsul dan Asissten Kebun, Jumat (5/10/2018).

Dalam pertemuan itu, kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Nazri, yang dikonfirmasi wartawan menyebutkan, pihak perusahaan dipanggil dan dimintai keterangan terkait kolam penampung limbah pembuangan pabrik, mengapa bisa jebol.

Selanjutnya, mereka juga ingin melakukan klarifikasi dan akan membuat laporan beserta bukti-bukti foto dan sebagainya terkait kronologis jebolnya kolam penampung limbah perusahaan tersebut.

“Jadi mereka sudah dimintai penjelasan, mereka juga harus buat laporan dilengkapi foto-foto kondisi kolam yang jebol dan selanjutnya akan diserahkan ke Pemkab,” ucap Najri.

Kendati Najri tidak bisa memastikan jika limbah tersebut mengandung zat kimia berbahaya meski berada pada kolam nomor 2 yang jebol. Sebab katanya sampai ini empat jenis sampel yang diambil termasuk sebagai pembanding masih dilakukan pemeriksaan di Laboratorium terakreditasi yang tidak disebutkan lokasi Lab mana sampel tersebut diperiksa.

“Hasil uji sampel masih di periksa di laboratorium, yang jelas Lab mana harus kita rahasiakan, bupati juga tidak tau lab mana kita periksa,” ucap Najri.

Ada dua izin terkait pemeriksaan limbah, izin cair dibuang kebadan air, dan izin pembuangan lumpur di pembuangan tanah yang dibuang ke lahan masyarakat tersebut. Kita belum mengetahui apakah kadar limbah tersebut masih diatas ambang baku mutu atau memang sudah melebihi ambang baku dan berbahaya.

Begitupun Najri mengaku belum mengetahui sudah terjadi dampak gatal-gatal terhadap anak-anak yang tinggal di kawasan bantaran aliran sungai itu.

Menurut Najri, jika memang sudah ada dampak gatal-gatal itu merupakan ranah Dinas Kesehatan, bukan lagi Dinas Lingkungan Hidup.

Dinkes harus memastikan kandungan air sungai, mengapa bisa menyebabkan gatal-gatal, sebut Najri yang menyebutkan saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji Lab dari sampel limbah tersebut.(db)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: