Gempa Palu, Lumpur Seret dan Tenggelamkan Desa Sigi Jadi Ladang Jagung

Desa Jono Oge bergeser sejauh 3 km (foto:dtc)

Sigi, PRESTASI REFORMASI.Com — Bangunan, rumah-rumah warga, gereja, dan jalanan Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, seketika berganti dengan ladang jagung saat gempa dengan magnitudo 7,4 skala Richter mengguncang sebagian wilayah Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9).

“Pertama tanah terbuka, keluar lumpur dengan air sudah. Langsung begulung dia, berputar-putar, pokoknya kita dibawa sampai ke Kampung Bow,” tutur Syaiful, warga Desa Jono Oge yang berhasil menyelamatkan diri dari luapan lumpur yang menyertai guncangan gempa.

Kampung Bow, yang juga disebut Dusun Tiga, merupakan bagian dari Desa Langaleso, yang bersebelahan dengan Desa Jono Oge. “Saya rasa tidak lama, saya pikir tidak pindah dari rumah. Ternyata sudah jauh di sana, hanyut dua kilometer,” tutur Syaiful.

Dari tanah yang terbelah, menyembur lumpur, yang menggulung dan menghanyutkan satu desa dalam proses likuifaksi di mana tanah berubah menjadi lumpur karena sendimen yang kaya air terguncang hebat akibat gempa. Terpaan lumpur menghanyutkan semua yang semula berada di Desa Jono Oge ke arah barat hingga kandas di Desa Langaleso, tepatnya di Dusun Tiga.

Sementara, ladang jagung serta pohon-pohon kelapa yang berada di timur Desa Jono Oge bergeser ke posisi rumah-rumah dan bangunan lain di Jono Oge. Permukaan tanah tempat pijakan ladang jagung dan pohon-pohon kelapa itu seperti meluncur ke Jono Oge, masih dalam keadaan berderet rapi sebagaimana layaknya ladang petani yang tak kena bencana besar.

Syaiful yang sedang bersama istri serta bayinya, juga bapak dan ibunya, panik bukan kepalang ketika lumpur menyembur dan berputar-putar seketika. Dia melihat istrinya terjatuh, tenggelam di dalam lumpur bersama bayinya yang berusia sembilan bulan.

“Istri saya diselamatkan sama tetangga, ditarik dari dalam lumpur, anak saya dinaikkan di atas batako, berputar-putar, selamat,” kenang Syaiful.

Syaiful juga melihat orang tuanya tenggelam di dalam lumpur. “Bapakku tenggelam, lama saya tunggu-tunggu hilang di dalam lumpur, keluar lagi sudah,” kata Syaiful.

Alias Ririn, warga Desa Langaleso, juga panik saat gempa mengguncang. Lima menit setelah gempa, Alias mendengar suara gemuruh datang dari timur. Lalu dia lihat lumpur datang bergulung-gulung membawa reruntuhan rumah, mobil-mobil, dan yang lainnya.

Dia pun segera membawa istri dan anaknya yang berusia dua bulan naik sepeda motor menuju ke Kota Palu.

“Tapi di sana orang suruh balik, jangan ke Palu ada tsunami, ada tsunami. Bagaimana, di sana ada lumpur di sana tsunami, bertawakal saja sudah,” kata dia.

Setelah beberapa saat kepanikan mereda, dan hari mulai gelap, warga Desa Langaleso mendengar teriakan-teriakan orang minta tolong. Cahaya-cahaya lampu senter dari telepon seluler tampak dilambai-lambaikan oleh orang-orang yang terbenam dan meminta pertolongan.

“Begitu ada lampu, kita ke sana, tolong dia,” tutur Alias.

Warga Desa Langaleso berusaha menolong semua orang yang masih memungkinkan untuk ditolong. Dengan menggunakan kayu panjang atau tali tambang, atau berenang di lumpur mereka berusaha menolong orang-orang yang berada dalam luapan lumpur setinggi pinggang.

Menurut Alias, malam itu mengerikan. Banyak jeritan orang meminta tolong. Jeritannya tak henti-henti. Warga pun sebisa mungkin menolong mereka yang terjebak dalam lumpur hingga tengah malam. Namun, suara-suara orang minta tolong masih terus terdengar.

“Sudah pagi, sudah tidak ada lagi suara,” kata Alias.

Sementara Syaiful, yang bermalam dengan setengah tubuhnya terendam lumpur, berusaha menyelamatkan diri sendiri dan akhirnya bisa bebas dari rendaman lumpur pukul 10.00 WITA pada hari itu, Sabtu, 28 September. Hingga kini, enam hari pascabencana itu, Syaiful yang sampai lupa hari masih berusaha sendiri untuk bertahan hidup.

Dia mencari makanan dari kebun sayur milik kawannya, membawanya ke posko pengungsian, memasaknya untuk keluarga. Meski bencana sudah hampir sepekan berlalu, warga Desa Jono Oge dan Desa Langaleso belum juga menerima bantuan. Baru tim evakuasi yang datang mencari korban hilang.

Gempa bumi yang mengguncang Donggala dan Palu, Sulteng terbilang dasyat. Bagaimana tidak, gempa dan tsunami menelan ribuan korban jiwa dan meluluhlantakkan bangunan.

Kampung Petobo dan Perumahan Balaroa mengalami amblas dan bergerak atau likuifaksi bersamaan gempa bumi 7,4 magnitudo di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat 28 eptember 2018 lalu.

Bahkan, Kampung Jono Oge di Kabupaten Sigi, Sulteng, juga “hilang” dari tempat semula.

Seperti dikutip dari Detik.com, Kamis 4 Oktober 2018, desa ini kehilangan sebagian warganya saat gempa 7,4 magnitudo melanda. Sebagian daerahnya bergeser 3 km dan hilang, lalu berganti dengan perkebunan jagung.

Salah satu warga, Meri (42) tengah berada di dalam rumahnya dan suaminya tengah membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Pukul 17.00 WITA, bumi di wilayahnya berguncang.

Meri melarikan diri ke luar rumah, dan dinding kamar mandi rumahnya pun runtuh dan memperlihatkan suaminya setengah telanjang dan segera melarikan diri menyelamatkan diri.

Tidak cukup guncangan itu, tanah-tanah di sekitarnya terbelah dan mengeluarkan air besar dari dalam tanah. Air kemudian menggulung dataran yang di depannya, menggerakkan tanah dari dalam dan membawa kebun jagung yang dekatnya, bersama belasan pohon kelapa ke arah depan.

Di depan sana, berdiri gereja Padmos Indonesia, bengkel, kompleks-kompleks perumahan yang kemudian juga ikut bergerak.

Luapan air dari lama tanah itulah yang kemudian menggulung pemukiman padat penduduk itu dari atas dan kemudian ‘mengaduknya’ di dalam tanah.

“Semuanya bergerak dan saya hanya berupaya menyelamatkan diri bersama suami saya,” kata Meri, Rabu 3 Oktober 2018.

Warga lain Dahlan (50), menyebut sore itu adalah sore yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Saat berjalan kaki di jalan raya menuju ke rumahnya, secara tiba-tiba, jalan-jalan aspal itu terbelah dan jatuh ke bawah.

“Jalanan seperti bergelombang dan tanah saling bertabrakan. Jalanan Sigi yang tadinya bisa dilihat satu garis lurus sekarang berkelok-kelok dan bergelombang,” sebutnya.

“Ini pertama kali saya langsung mengingat dosa-dosa saya selama hidup. Mungkin ini mukjizat saya selamat, karena hari itu, baru pertama kali saya salat Jumat kembali,” tambahnya sambil tertawa kecil.

Pantauan di lapangan, sebagian desa Jono Oge yang terbawa lumpur itu telah berdiri tanaman jagung di atasnya. Tanaman jagung itu bahkan masih berbuah, bersama kembang kol yang ada di bagian pinggirnya. Pohon kelapa pun masih berdiri kokoh di sana.

Sementara, 3 km setelahnya, reruntuhan bangunan menyembul dari dalam lumpur yang mulai mengering. Kendaraan roda empat dan dua teronggok di atasnya, bersama peralatan rumah tangga dan dokumen-dokumen lainnya. (h/Sumber : dtc/Ant.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *