Catatan: Husor Parissan Sitompul

Setiap pesta pasti berakhir, dan itulah Asian Games ke-18 yang selama dua pekan digelar sejak 18 Agustus – 1 September 2018 di dua wilayah terpisah, pulau Jawa dan Sumatera (Palembang). Pada Minggu malam (2 September 2018), akhirnya ditutup dengan mengukir sejarah bagi Negara RI karena berada dalam peringkat ke-4 setelah Cina , Jepang dan Koresa Selatan

Perolehan 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu sehingga total 98 medali, adalah sejarah bagi Indonesia yang berpenduduk 262 juta jiwa atau negara berpenduduk terbesart keempat di Dunia. Meraih medali sebanyak 31 Emas, adalah suatu loncatan jumlah yang signifikan jika dibandingkan Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, hanya meraih 4 medali emas, 5 perak dan 11 perunggu.

Wajar saja jika terlontar berbagai pujian kepada para atlert dan official dengan perolehan Emas yang jumlahnya di luar perkiraan dan target, baik yang muncul dari para atelt dan masyarakat berbagai negara maupun rakyat Indonesia yang telah lama merindukan atlet kita mampu tegak berwibawa dengan senyum kebahagiaan atas prestasi membanggakan Indonesia.

Penampilan grup band Korea iKON pada Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu. (repro: wntertainment/kcm)

Dari mulai seremoni pembukaan hingga penutupan, juga membuktikan Indonesia profesional menyiapkan fasilitas dan menyuguhkan tontonan berkualitas, meskipun di sana- sini masih ada sejumlah sorotan-sorotan, termasuk soal penjualan tiket . Ini sebagai pertanda tekad Indonesia untuk menyelenggarakan Olimpiade 2032 dan dengan pujian “Sukses Bersejarah” dari Dewan Olimpiade Asia, OCA.

Pada saat penutupan Asian Games 2018, hujan lebat tak menyurutkan semangat banyak warga yang datang memenuhi Gelora Bung Karno untuk menyaksikan langsung.

 Langit ‘menangis’ karena kami sangat sedih meninggalkan Indonesia, kata presiden dewan Olimpiade Asia.

Presiden OCA Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah memberikan selamat kepada tuan rumah sebelum menyatakan Asian Games ditutup.

“Anda berhasil menyelenggarakannya. Anda membuat mimpi Asia, energi Asia menjadi kenyataan,” kata Sheikh Ahmad Al Fahad Al Sabah, Presiden Dewan Olimpiade Asia kepada massa yang memenuhi Gelora Bung Karno.

“Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, energi Asia, merupakan sukses bersejarah,” tambahnya.

“Terima kasih Jakarta, Terima kasih Palembang…Langit menangis karena kami sangat sedih hari ini karena kami harus meninggalkan negaramu yang indah,” kata Sheikh Ahmad.

“Kami pulang dengan banyak kenangan, kenangan indah dalam pesta olahraga hebat ini. Kami tak akan pernah melupakannya, kamu akan selalu ada di hati kami,” tambahnya.

Atlet Indonesia dalam upacara penutupan Asian Games. (repro:rtr)

Ribuan atlet memakai poncho di tengah hujan deras dalam pesta olahraga terbesar di dunia setelah Olimpiade ini. Paling tidak 17.000 atlet dari 45 negara ikut serta.

Upacara penutupan disemarakkan dengan penampilan musisi dan penari dari Indonesia, India dan Korea Selatan dengan kembang api mewarnai langit.

Sejumlah pengamat mengatakan sebagian besar masalah, termasuk masalah tiket, dianggap minor dan Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta maaf dalam upacara penutupan.

Presiden Joko Widodo mengumumkan Sabtu (02/09) Indonesia akan mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Olimpiade 2032.

Ketua Olimpiade Thomas Bach menyambut rencana ini namun memperingatkan Indonesia perlu menjaga energi positif yang ditimbulkan melalui penyelenggaraan Asian Games.

“Saya rasa penting bagi Indonesia untuk tetap menjaga momentum pesta olahraga ini,” kata Bach Minggu (02/09).

Indonesia menempati posisi keempat dalam perolehan medali Asian Games, dengan 31 medali emas, prestasi terbaik dalam sejarah. Pencak silat merebut medali terbanyak dengan 14 emas. Sebagai tuan rumah, Indonesia berhak mengajukan cabang olahraga yang dipertandingkan dan mencantumkan pencak silat.

Cina menduduki tempat teratas dalam tahun ke-10 berturut-turut sejak Asian Games di New Delhi pada 1982 dengan 132 emas. Jepang di tempat kedua dengan 75 emas, sementara Korea Selatan dengan 49 medali emas.

Indonesia, terima kasih banyak, Kami cinta kalian, kata Presiden OCA Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah.

Perenang Jepang Rikako Ikee, yang menjadi perempuan pertama yang meraih enam emas dalam pertandingan tunggal mendapat penghargaan atlet terbaik.

“Saya belum meraih gelar juara dunia, jadi itu tujuan saya berikutnya,” katanya Minggu (02/09).

Perenang berusia 18 tahun yang disebutkan akan menjadi wajah dalam Olimpiade Tokyo 2020, mencuri perhatian dari Olimpiade tiga kali asal Cina, Sun Yang dan juara bintang nomor kupu-kupu SIngapura Joseph Schooling.

Pemain sepakbola Liga Primer Inggris, Son Heung-min, membantu Korea Selatan meraih emas dengan mengalahkan Jepang di nomor final. Dengan meraih medali emas, ia dipastikan tak perlu ikut wajib militer di Korea Selatan.

Taipan Michael Bambang Hartono, salah satu orang terkaya di Indonesia menjadi peraih medali emas tertua pada usia 78 tahun dalam pertandingan kartu bridge. (hps/sumber: ccnindonesia dan berbagai sumber lainnya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *