Oleh: Masri Tanjung

ALLAH SWT menganjurkan supaya hamba-Nya yang beriman memuliakan jiran tetangganya.: hidup rukun saling mencintai, mengasihi dan menghormati otonomi rumah tangga masing-masing. Dalam kaitan ini Allah berfirman: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil.” (QS.An-Nasa’ 4:36).

Rasulullah SAW bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seseorang tidak Islam sehingga orang-orang selamat dari (gangguan) hati, lisan dsan tangannya, dan seseorang tidak beriman sehingga tetangganya aman dari gangguan-gangguannya.” Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah gangguan-gangguannya itu?” Beliau SAW bersabda: “Tipuan dan aniayanya.” (Al-Faqih).

Al-Faqih berkata: Abul Qosim Abdurrahman bin Muhammad menceritakan kepada kami dengan sanadnya dari Hasan Al-Bashri, ia berkata: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah hak tetangga atas tetangganya?

” Nabi SAW bersabda: “Apabila ia hendak berhutang kepadamu maka pinjamilah, apabila ia memanggilmu maka jawablah, apabila ia meminta tolong kepadamu maka tolonglah, apabila ia ditimpa musibah maka hiburlah, apabila ia mendapatkan kesenangan maka ucapkanlah selamat kepadanya, apabila ia mati maka antarkanlah jenazahnya, apabila ia pergi maka jagalah (rumah dan keluarganya), dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakanmu, kecuali ia diberi masakan itu.”

Di dalam hadits yang lain ada tambahan dari 9 hal tersebut, yaitu kesepuluh adalah: “Janganlah kamu meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, kecuali dengan adanya kerelaan darinya.”

Bila kita perhatikan pola kehidupan di era kini, hubungan kekeluargaan sesama jiran tetangga, kian waktu makin diliputi rasa kekurangpedulian. Juga semakin mengendur rasa kebersamaan, tenggang rasa serta rasa sesakit sepenanggungan .

Itu mungkin terkait karena masing-masing anggota keluarga sibuk dengan segala urusannya, sehingga tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Hidup cenderung nafsi-nafsian (individualistis). Sedangkan menurut syari’at—Islam tidak menghendaki ummatnya berlaku individualistis, melainkan sangat menganjurkan silaturrahmi atas dasar iman, sehingga ukhuwah Islamiyah menjadi kokoh sebagai persatuan dalam Islam.

Keluarga yang sangat dekat ialah tetangga di sebelah rumah. Karena mereka yang lebih dulu tau dan datang lebih dulu menjenguk memberi bantuan moral, waktu, tenaga, pikiran bahkan terkadang sampai kepada bantuan material saat kita butuh, baik dalam keadaan susah (sakit ditimpa musibah atau kemalangan).

Begitu juga dalam keadaan senang seperti dalam mengadakan perhelatan . Meski pertalian darah tidak ada , tapi tetangga dekat lebih dari saudara kandung.

Agar hubungan dengan tetangga terjalin baik, Islam menganjurkan supaya saling tenggang rasa dan menghormati kedaulatan rumah tangga masing-masing. Perbuatan intervensi sangat dilarang, karena dapat menimbulkan permusuhan. Orang mukmin yang satu dengan lainnya ibarat satu tubuh.

Perumpamaan ini Rasulullah jelaskan dalam haditsnya dari Nukman bin Basyir: “Perumpamaan orang mukmin dalam hal cinta kasih , keramahan dan kasih sayang adalah bagaikan tubuh. Apabila salah satunya sakit , maka seluruh tubuh akan turut merasakannya, bahkan sampai tidak bisa tidur.”

Inilah perumpamaan yang Rasulullah SAW kabarkan kepada ummatnya. Apa pun bentuk tubuh dan warna kulitnya. Kalau ia Muslim merupakan saudara kita. Persaudaraan dalam Islam tidak hanya diikat oleh pertalian darah, tapi diikat dengan buhul aqidah. Sesama Muslim saling tolong-menolong dalam kebaikan dan amar ma’ruf nahi munkar.

Berbuat Semau Gue

Belakangan ini semakin terasa pula kepiluan hati sepihak akibat ulah dan tindakan egois pihak lainnya yang secara semau gue “mencaplok” hak kepentingan umum untuki mendirikan bangunan tambahan sebagai fasilitas pendukung keindahan rumahnya. Padahal bangunan tambahan tersebut seperti teras, pagar pengaman dan garasi yang dibangun di atas beram jalan menyebabkan semakin sempitnya akses jalan keluar-masuk warga di lingkungan.

Salah Satu Contoh Bangunan Tambahan di Beram Jalan Selebes Gg. Al Falah I Kelurahan Belawan II

Akibat Pembiaran

Perlakuan secara semau gue dengan menambah bangunan di atas lahan (gang, lorong dan beram jalan) yang berfungsi sebagai kepentingan umum serta menutup parit pengendali banjir ini pun secara nyata telah melanggar Peraturan Daerah (Perda).

Seperti di jajaran Kota Medan ada Perwal 09 Tahun 2009 sebagai reinkarnasi dari Perda Pemko Medan No.31 Tahun 1983. Perda ini melarang: Mendirikan bangunan dan menumpuk barang-barang di atas parit, trotoar dan kaki lima.

Kenyataannya, Perda tersebut tidak mampu mencegah dan menghentikan pelanggaran tersebut di atas, bahkan eskalasinya makin meningkat setiap tahun dan setiap bulannya. Ini karena pihak Kecamatan dan Kelurahan tidak serius mengawal Peraturan Walikota (Perwal) Kota Medan ini.

Contohnya di Kecamatan Medan Belawan bangunan tambah yang mencederai sistem Tata Ruang ini mengkecambah di Kelurahan Belawan II.

Dampak buruk dari perlakuan semau gue pelanggaran hukum dan terbiarkan pula oleh pihak Kecamatan dan Kelurahan ini akhirnya terakumulasi sederet bencana: kumuh, sempit, pengap dan banyak nyamuk di Kelurahan Padat Kaum Miskin di ujung utara Kota Medan ini.

Intropeksi

Seiring perkembangan belakangan ini perlu kiranya kita intropeksi.Bila kehidupan ummat berjiran tetangga lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tidak lagi memperdulikan kehidupan tetangga sebagai saudara terdekat, maka ingatlah sebagaimana yang disabdakan Rasullah SAW tentang ancaman menyakiti jiran tetangga.

Peringatan Rasulullah SAW

Komitmen Islam dalam menggalang persatuan antar sesama Muslim bagaikan bangunan.Di anatara pilar yang satu dengan lainnya saling menyangga. Bukan saling menjatuhkan dengan berbagai cara. Sia-sia segala amal kebaikan seorang Muslim bila ia berbuat menyakiti tetangganya.

Tata cara persaudaraan atau persahabatan yang mengharuskan setiap orang tenggang rasa. Sebab, hampir semua hajat kehidupan tidak terlepas dari batuan orang lain.

“Barang siapa merasa pernah berbuat zhalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatan dirinya atas hal lain, maka segeralah minta ma’af kepadanya selagi masih hidup dunia sebelum datang waktu saat dinar dan dirham tidak berlaku lagi (hari kiamat).Sebab, Jika ia mempunyai amal shalih maka akian diambil untuk menebus kesalahannya terhadasp- manusia yang disakiti, dan dosa-dosa yang disakitinya akan diberikan kepadanya.” (Hadits dari Abu Hurairah diriwayatkan Imam Bukhari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *