Tuntut Kesejahteraaan, Warga Demo PT Socfindo di Aceh Singkil

Aceh singkil, PRESTASI REFORMASI.Com – Puluhan pemuda dari Kecamatan Gunung Meriah, yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Menggugat (APM) menggelar aksi unjuk rasa, baru-baru ini. Aksi ini menuntut janji PT Perkebunan Socfindo Lae Butar terkait kesejahteraan masyarakat.

Koordinator APM Suandi Tumangger bersama orator lainnya Jirin Capah, Sadam, Wajir Antoro di pagar pintu masuk Kantor PT Socfindo menyampaikan ada empat poin yang mereka tuntut. Diantaranya, soal lowongan lapangan kerja atau memperkerjakan putra daerah. Janji ini, katanya telah tertulis dalam kesepakatan MoU beberapa tahun yang lalu.

Dalam orasinya, Suandi juga meminta PT Socfindo melepaskan lahan HGU 100 meter dari badan jalan untuk tata pengembangan kelola ruang dan wilayah Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil.

“Kemudian kita meminta PT Socfindo agar dapat menerima Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit masyarakat. Ini mengacu kepada peraturan Undang-Undang Nomor 39 tahun 2014 tentang perkebunan,” katanya.

Mereka juga mendesak agar perusahaan merelokasi Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) milik PT Socfindo Lae butar ke wilayah yang jauh dari pemukiman penduduk

“Hal ini karena tidak layak untuk beroperasi di kawasan pemukiman padat penduduk perkotaan, yang banyak mengganggu kenyamanan, kesehatan masyarakat sekitar yang berdekatan langsung dengan perusahaan,” katanya.

Setelah sekira 1 jam berorasi, aksi sempat memanas setelah para pengunjuk rasa menggoyang pintu pagar kantor lantaran Adm Perusahaan PT Socfindo, Erikson Ginting tidak bersedia keluar menanggapi tuntutan massa.

“Erikson Ginting merupakan sumber permasalahan di perusahaan ini, keluar kau Erikson. PT Perkebunan Socfindo ini sudah belasan kali di demo tapi aspirasi masyarakat selalu diingkari,” seru para pengunjuk rasa.

Selain empat tuntutan tersebut, aliansi pemuda juga mendesak ketua PUK-Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) untuk bertanggung jawab dan membela aspirasi karyawan.

“Jangan terkesan menjadi penjilat di perusahaan. Yang parahnya, istri karyawan melahirkan di becak, dan perusahaan tidak menyediakan ambulan, akhirnya menyebabkan anak pertama saya meninggal dunia karena tidak ada mobil ambulan,” ujar seorang warga.

Sekira satu jam berorasi, Adm didampingi pihak Group PT Socfindo menemui para pengunjuk rasa. Adu argumen pun berlangsung dan sempat memanas antara pengunjuk rasa dan Group PT Socfindo Ismali Andrian.

Lantaran tudingan yang dilontarkan terkait istri karyawan yang melahirkan di becak, tidak disediakan ambulan. Kemudian tindakan pemecatan sepihak terhadap Darman.

Suasana pun kembali mendingin setelah pihak perusahaan meminta dilakukan mediasi di kantor perusahaan bersama tujuh perwakilan pemuda.(db)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: