Harry Moekti Meninggal Dunia, Ini Kisah Teladan Rocker Hijrah Menjadi Ustadz

Jakarta, PRESTASI REFORMASI.Com — “Kullu nafsin dzaiqotul maut”, setiap yang punya jiwa pasti akan mengalami kematian”, itulah peristiwa dialami mantan rocker Harry Moekti yang terakhir hidupnya menjadi Da’i. Ia meninggal dunia, Minggu (24/6/2018) malam. Kabar duka tersebut disampaikan Moekti Chandra, adik dari Harry Moekti.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Telah meninggal dunia jam 20.49 hari ini (Ahad, 24 Juni 2018), kakak tercinta, sahabat pejuang, pendakwah pemberani Hariyadi Wibowo atau Ustadz HARI MOEKTI. Doanya, semoga arwah kakanda pejuang diterima disisi Allah SWT,” tulisnya dalam pesan jejaring Whatsapp.

Harry telah meninggalkan dunia fana ini, namun dengan amalan dan dakwahnya, dia telah menorehkan pencerahan dan goresan tinta emas mengenai seorang keteladanan penyanyi rock yang tenar dan glamour berhijrah meninggalkan dunia hiburan hingar bingar menjadi seorang Islam yang kaffah berprofesi sebagai da’i.

Mengenang Sepak Terjang Harry Moekti 

 “Ada kamu di dalam bingungku, pada kamu ada sesuatu, walau kamu tak meletus bagai GunungMerapi yang ada di tivi”. syair lagu ini tentu tak asing bagi para remaja di tahun 1990 an ( antara 1988-1994 ). Lagu tersebut sangat populer pada masa itu

Itulah lagu Hari Moekti yang berjudul “ Ada Kamu” itu telah melambungkan namanya di belantika musik tanah air era 1988-1994 an, dan berhasil terjual ratusan ribu kopi kaset di seluruh Indonesia.

Pria kelahiran Cimahi yang bernama asli Hariadi Wibowo, memulai karir keartisannya sebagai penyanyi Rock (Rocker) tahun 1987. Walaupun Hari Moekti sebenarnya tidak berkeinginan menjadi artis atau penyanyi, namun pada suatu hari dia bertemu seorang produser rekaman yang mendengarnya bernyanyi lalu menawarinya rekaman kepada Hari Mukti.

Saat itulah kehidupan Hari Moekti berubah, dari seorang remaja biasa menjadi artis yang tenar, dan terkenal di seluruh penjuru tanah air. Saat itu tidak ada seorang remaja pun di Indonesia yang tidak tahu nama Hari Mukti, rocker terkenal sekaligus idola mereka.

Semua gaya pakaian dan penampilannya ditiru habis-habisan oleh para remaja, seperti gaya celana jean sobek. Jadi saat itu jika ada remaja yang pakai celana jean kok gak sobek, berarti gak gaul.

Harry Moekti dan istrinya

Hijrah dari Kehidupan Maksiat ke Islam yang Kaffah
Yah memang kehidupan menjadi artis itu penuh kekayaan, gelamor, mewah. Namun Hari Moekti pelantun lagu “hanya satu kata “ tidak merasa bahagia sedikitpun, seluruh harta kekayaannya tidak membuatnya hidup tenang, walaupun dia sudah menyekolahkan banyak anak yatim, menyumbangkan hartanya bagi panti asuhan, namun tetaplah dia tidak bahagia.

Tanggal 31 Desember 1994 dia diundang untuk konser tahun baru di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Dia saat itu dibayar Rp.50.000.000, . Wow……jumnlah yang tak sedikit masa itu bukan? Namun apa yang terjadi setelah dia tahu kalau Anggun C Sasmi yang juga diundang di acara tersebut ternyata dibayar Rp 65.000.000,

Harry dalam hatinya marah, dia merasa disepelekan. Ketika Indra Lesmana membeli mobil baru dan dipamerkan kepadanya dan ternyata mobil Indra lebih mahal daripada mobilnya, dia pun iri. Itulah yang terjadi pada Hari Mukti, dia hanya hidup dalam kemarahan, dan kedengkian.

Ustadz Hari Moekti mengisi hari-harinya sebagai seorang da’i dan mendapat undangan dari berbagai daerah untuk memberikan ceramaah agama.

Menemukan Pencerahan

Di tahun 1995 dia bertemu dengan seorang Ustad dan berdiskusi tetang agama dengannya, dia terkagum-kagum dengan argumen Ustad itu yang cerdas, berwawasan, dan sangat masuk akal. Dia pun akhirnya mengaji dengan sang ustad.

Akhir tahun 1995 dia memutuskan untuk keluar dari dunia keartisan, dan fokus berdakwah. Bagi Harry Mukti dunia artis saat itu dan saat ini adalah dunia yang menyebarkan kemaksiatan, artis adalah sarana dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi mudanya.

Ketika si penyanyi ( Artis ) melantunkan lagu, maka akan menimbulkan suatu gairah bagi pendengarnya, nah kalau Cuma sebatas gairah itu wajar, namun gairah inilah yang kemudian diisi kemaksiatan.

“Sebagai contoh, cinta adalah pacaran, pacaran adalah cinta dan tidak ada cinta tanpa pacaran, itulah maksiatnya,”kata Harry.

Pengalaman paling mengharukan adalah ketika istrinya akan melahirkan anak pertamanya, ternyata harus caesar yang biayanya saja Rp15.000.000,. Saat itu dia hanya mempunyai uang tunai Rp 3000.000, dia bingung, lalu berdoa: “Ya Allah tolonglah hamba-Mu ini, jika engkau menganggap hambamu ini adalah seorang pendakwah (Mubaligh) di Jalan-Mu, maka jangan biarkan hamba-Mu ini dipermalukan gara-gara tidak mampu membayar biaya persalinan istrinya di Rumah Sakit.”

Selang beberapa lama, temannya menelpon menanyakan nomor rekeningnya, dia sanggup memberi bantuan Rp 5000.000,lalu berturut-turut hampir semua teman-teman sesama ustad memberi bantuan, mulai dari Rp.1 jt, Rp. 2 jt, Rp. 3jt, sampai akhirnya terkumpul biaya persalinan dan administrasi.

Bahkan ada temannya yang marah-marah karena tidak memberi tahunya bahwa istrinya sedang melahirkan, dia sebenarnya sanggup membantu seluruh biaya persalinan itu.

Hari Mukti mengkritisi kehidupan sekuler saat ini, di mana pacaran merajalela di kalangan remaja dan pemuda, perzinaan juga merajalela, mereka menumpuk dosa namun mereka justru bangga.

Hari Mukti seperti halnya pejuang Syariat yang lain selalu mengajak umat Islam untuk memperjuangkan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyah, yang akan melaksanakan Syariat Islam secara kaffah.

Saat bertauziah dengan pengungsi merapi tanggal 16 November 2010, Ustad Hari Mukti berkata, “Bikin kaset tidak apa-apa. Naik panggung juga tidak apa-apa. Tapi kalau karena kontrak, saya sepanggung dengan orang yang berperilaku dan berdandan tidak sesuai ajaran agama, itu dosa. Saya tidak mau,” tekannya.

Pernah seorang Ibu-ibu menelponnya yang mengatakan bahwa akhirnya suaminya mengijinkan ia berjilbab gara-gara ikut pengajian Ustadz Hari Mukti. Dia pun merasakan seakan dunia milik dia semua, kebahagiaan yang tak terkira, serta kenikmatan sejati seorang ustadz.

Baginya harta sudah bukan lagi segala-galanya, di akhir hidupnya  dia sudah menikmati hidup bahagia, bersama seorang istri yang anggun dengan balutan jilbab hitamnya, serta dikaruniai 4 anak. Selamat jalan ustadz Harry Moekti, semoga khusnul khotimah, keluarga dan umat Islam di negeri ini mendapat kesabaran dan ikti’bar atas kepergianmu. (hps/berbagai sumber)

Suasana kesedihan menyelimuti rumah duka 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: