LPBI NU- Pertamina Laksanakan Seminar Nasional

Medan, PRESTASI REFORMASI. Com – Dr.Ir.Hamzah Lubis,SH.,M.Si, Ketua Pimpinan Wilayah Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PW.LPBI NU) Sumatera Utara menjelaskan bahwa organisasinya bekerjasama dengan Pertamina Regional-1 dan pihak lainnya akan melaksanakan Seminar Nasional Ketahanan Pangan di Pusaran Kerusakan Lingkungan. Kegiatan ini akan dilaksanakan hari Rabu, 6 Juni 2018 di Aula PW Nahdlatul Ulama Sumatera Utara di Jl.Sei Batanghari No.25 Medan.

Seminar yang terbuka untuk umum ini, menampilkan Dr.Ir.Hj.Sabrina, M.Si / Staf Ahli Menteri bidang Pangan pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Dr.Khadijah El Ramija Lubis,S.Pi. M.P /Kepala Balai Pengembangan Teknologi Pangan Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP Balitbangtan) Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP/pakar konservasi juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara, Prof. KH. Dr .Saidurrahman,M.Ag / Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang juga Syuriyah PW NU Sumatera Utara dan Dr. Ir.Hamzah Lubis, M.Si aktifis lingkungan yang juga Ketua PW LPBI NU-SU.

Selain itu, PW LPBI NU-SU menerima makalah dari akademisi dan praktisi pangan dan lingkungan dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Utara.

Seminar nasional ini menurut Dr. Hamzah Lubis dalam upaya mengantisipasi penyempitan lahan pertanian akibat berbagai pembangunan di sektor lainnya serta akibat kerusakan lingkungan.

Ia memberi contoh meningkatnya pencemaran gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, berkorelasi dengan perubahan iklim, curah hujan, bajir, longsor, kenaikan permukaan laut, penyempitan lahan, meningkatnya savana, perubahan pola penyakit tanaman dan lainnya. Karena anggota Nahdlatul Ulama sebagian besar berada di pedesaan sebagai petani dan nelayan, maka seminar ini dilaksanakan sebagai antisipasi, tuturnya.

Padahal sebenarnya, Indonesia menurutnya adalah negara yang kaya raya, negara terkaya kedua megabiodeiversity setelah Brazil. Menurut data Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Indonesia memiliki 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu serta 40 jenis bahan minuman.

Salah satu tanaman lokal karbohidrat adalah sagu. Indonesia memeliki lahan sagu mendekati 6 juta hektar. Setiap 1 hektar bisa menghasilkan 20-40 ton tepung sagu kering. [Bandingkan dengan padi, untuk menghasilkan 30 juta ton padi dibutuhkan persawahan 12 juta hektar].

Oleh karena itu, bila satu juta hektar saja lahan sagu kita panen bisa memberi makan seluruh rakyat Indonesia setahun. Jadi, jika kebijakan pangan kita tidak berasisasi dan gandumisasi, tidak ada kekurangan pangan, termasuk di Papua. Bahkan Papua akan menjadi lumbung pangan nasional, tuturnya.

Program beranisasi, telah menyebabkan ketergantungan pangan pada beras. Ketika 10 tahun Indonesia merdeka (1954) porsi beras dalam memenuhi pangan pokok rnasyarakat hanya 53,5 persen, sisanya dipenuhi dari ubi kayu 22,26 persen, jagung 18,9 persen, dan umbi-umbian 4,99 persen.

Tahun 1981, pola konsumsi pangan pokok bergeser drastis. Beras menempati porsi 81,1 persen, ubi kayu 10,02 persen dan jagung 7,82 persen. Pada 1999, konsumsi ubi kayu tinggal 8,83 Persen dan jagung 3,1 persen.

Sedangkan 10 provinsi yang paling banyak mengkonsumsi umbi-umbian adalah: 1. Papua 30,39 persen, 2.Maluku 12,69 persen 3.Papua Barat 9,94 persen 4.Maluku Utara 9,23 persen 5. Sulawesi Tengah 5,10 persen 6.Sulawesi Tenggara 4,47 persen, 7. Nusa Tenggara Timur 3,00 persen 8. Sulawesi Utara 1,53 persen, 9.Jawa Timur 2,28 persen, 10.Lampung 2,27 persen. Inilah salahsatu permasalahan pangan kita, tuturnya  (Hl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *