Orang Gila Meneror Para Tokoh Agama

PRi.Com – Trend Teror akhir-akhir ini mulai mengalami pergeseran, jika dulu pelaku teror selalu dikaitkan dengan ledakan bom yang menyasar banyak orang, kini semakin fokus membidik para tokoh agama. Anehnya, justeru pelakunya selalu dituding orang gila, dan bahasa paling lembut, pelaku adalah orang ‘gangguan jiwa’.

Inilah kasus teror mengerikan yang terjadi akhir-akhir ini, orang ‘gila’ membantai para tokoh agama semakin merajalela. Bahkan mereka semakin berani, tidak hanya imam masjid atau para ustad namun lebih jauh mereka masuk dalam lingkungan pesantren dan bahkan gereja.

Seperti diketahui, beberapa minggu terakhir terjadi dua kasus penganiayaan. Kasus pertama dialami Pimpinan Ponpes Al Hidayah KH Umar Basri (60) pada Sabtu (27/1/2018), di dalam masjid usai Salat Subuh. Akibat peristiwa itu ia mengalami luka di bagian kepala dan harus dirawat di rumah sakit.

Kiai Umar Basri dianiaya pelaku dengan kayu. Pelaku yang bernama Asep (50), diduga kuat mengalami gangguan jiwa.

Penganiayaan terhadap ulama terulang kembali di Bandung dan peristiwa ini menimpa Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persis HR Prawoto SE atau juga dikenal Ustaz Prawoto. Penganiyaan itu dikabarkan terjadi pada waktu subuh oleh orang tak dikenal, Kamis (1/2/2018).

Sedangkan peristiwa heboh terbaru yang terjadi Minggu pagi (11 Februari 2018) penganiayaan berupa pembacokan terhadap empat tokoh agama Kristen yang terjadi di Gereja St Lidwina, Jambon Trihanggo, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta..

Namun yang sangat menarik adalah pelaku penganiayaan terhadap ulama dan tokoh agama itu akhirnya dikategorikan orang gila. Apa iya, ‘orang gila’ bisa memilih sasaran hanya tokoh agama?

Soal ‘gila’ ini diungkapkan oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen M Iqbal yakin pelaku dua kasus yang benar-benar mengidap sakit jiwa. “Saat ini semua kita sudah menyerang tangkap. Dan yang terakhir ini adalah pelaku (berinisial) A definitif yang mengalami gangguan jiwa, “kata Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (2/2/2018).

Iqbal yakin dalam penentuan tersangka, polisi pasti menentukan pelaku berdasar alat bukti yang detil dan terbukti. Iqbal menuturkan, alat bukti yang harus dikompilasi itu merupakan alat bukti yang ilmiah dan tidak terbantahkan.

“Kalau misalnya polisi sudah menetapkan pelaku sedang mengalami gangguan jiwa, itu jelas ada bukti pendukung, pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Setelah diagnosa, memang (pelaku) mengalami depresi mental, dan ada track record-nya dia mengamuk, “papar Iqbal.

Namun pertanyaan yang paling menarik dari kasus ini adalah orang gila bisa tepat menyerang para musuhnya sehingga pertanyaan selanjutnya adalah ada apa dan siapa yang ada di balik kasus ini.

Untuk menjawab pertanyaan ini maka butuh analisa yang baik. Kita awali dari definisi apa yang dimaksud dengan gila, Kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yesmil Anwar menyebut perlu penyelidikan mendalam dari polisi guna mengungkap apakah kasus ini disengaja atau tidak.

“Mesti ada penelitian yang serius dari polisi, supaya jangan sampai masyarakat menjadi geger. Jangan sampai ada pikiran teman-teman kita di pesantren ulama diarah,” ucap Yesmil seperti dikutip dari detikcom via sambungan telepon, Rabu (7/2/2018).

“Kriteria orangnya gila atau tidak enggak bisa kita menentukan, yang bisa rumah sakit atau dokter jiwa. Supaya kita bisa tahu apakah kalau dia tidak gila apa motivasinya, kalau gila memperlakukannya seperti orang gila,” katanya.

Pengertian gila menurut istilah psikologi yang diambil buku “Psikologi Abnormal” karya Gerald C. Davison – John M. Neale – Ann M. Kring, 2010, disebutkan bahwa karakteristik dari beberapa bentuk abnormalitas adalah tekanan pribadi, yaitu perilaku dianggap abnormal jika menciptakan siksaan dan tekanan besar pada orang yang mengalaminya.

Distress pribadi jelas sesuai dengan banyak bentuk abnormalitas—orang–orang yang mengalami gangguan anxietas dan depresi benar-benar menderita. Namun, beberapa gangguan tidak selalu menyebabkan distress.

Psikopat, sebagai contoh, memperlakukan orang lain tanpa perasaan dan mungkin terus-menerus melanggar hukum tanpa sedikitpun merasa bersalah, menyesal, ataupun cemas. Dan tidak semua bentuk distress—sebagai contoh, kelaparan atau rasa sakit ketika melahirkan—menjadi bagian dari bidang ini.

Polisi segera mengolah tempat kejadian perkara dan membentangkan garis polisi usai penyerangan Gereja Katholik St. Lidwina, Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (11/2). (repro: google)

Menurut PPDGJ atau Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (yang mengacu pada The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), Seseorang dikatakan gila atau mengalami skizofrenia apabila memiliki 3 kriteria pemeriksaan sebagai berikut:

1. Characteristic symptoms 

Dua atau lebih dari kriteria berikut masing-masing muncul selama kurun waktu 1 bulan yakni: Delusi
Halusinasi
Pembicaraan yang tak terorganisir, yang menandakan gangguan pemikiran umum.
Perilaku yang secara nyata terlihat tak terorganisir. (seperti tak sesuai dalam berpakaian, sering menangis) atau perilaku katatonik.

2. Gejala-gejala negatif: Blunted effect (kurang atau menurunnya reaksi emosi), alogia ( kurang atau menurunnya percakapan), atau avolition (kurang atau menurunnya motivasi).

3. Social/occupational dysfunction

Untuk porsi waktu yang signifikan dari kemunculan gangguan, satu fungsi bagian atau lebih seperti bekerja, relasi interpersonal, merawat diri secara nyata terlihat ada dibawah standar sejak kemunculan awalnya.

4. Duration

Berlanjutnya tanda-tanda kelainan secara terus-menerus sedikitnya selama 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus mencakup setidaknya 1 bulan munculnya gejala-gejala (atau kurang dari itu, jika gejala yang muncul ditutup oleh perawatan).

Jadi pantas kalau kasus ini menjadi sorotan para elit politik karena banyak kejanggalan dilihat dari sisi pelaku penganiayaan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Surakarta menilai ada kejanggalan dalam kasus penyerangan terhadap ulama dan aktivis muslim oleh orang yang diduga gila. Betapa tidak, dari renetan kasus yang ada target yang dianiaya sama, ulama dan aktivis muslim.

“Katanya orang gila, tapi kok saya menilai ada kejanggalan. Orang gila kok bisa milih korban,” ujarnya usai pengukuhan pengurus MUI Solo tahun 2018-2022 di Balaikota Solo, Kamis (8/2/2018)

Menurutnya hal ini lebih tepat di sebut sebagai tindak terorisme terhadap umat islam, bukan penganiayaan biasa. Sebab dari rentetan peristiwa terbentuk pola serangan yang sama dan korban yang yang jadi target adalah dari kalangan umat islam, khusunya ulama.

Tokoh Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), Ustadz Ahmad Dahlan yakin, apakah penyerangan terhadap kyai dan aktivis Islam didalangi oleh kader kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia melihat pola gerakan yang sama dari sejarah berdarah yang di torehkan PKI.

“PKI memang begitu, sejak tahun 1926, 1948, 1965 dan sekarang 2018. Tahun ini dimulai dengan penyerangan Kyai Umar Basri di Bandung, untung masih bias terselamatkan,” kata Ketua Komisi Ukhuwah MUI Solo tersebut, Kamis (20/8/2018).

Ia meyakini kejadian berdarah yang terlupakan dari kebangkitan PKI. Sebab, jika menengok rentetan sejarah, sebelum bangkit PKI selalu menumpahkan darah. Jika tidak ada reaksi mereka merasa aman untuk bersama (kudeta). Oleh karena itu umat Islam harus waspada, apakah kebangkitan PKI sudah di depan mata.

“Saya korban di Tahun 1948, jadi tau betul. Ingat! Dahulu ulama-ulama di Jawa Timur ada ribuan yang dibantai, “pungkasnya.

Berikut ini ada sejumlah reaksi dan komentar nitizen di Sosmed terhadap peristiwa akhir-akhir ini:

2 Feb

MuhammadSyahroji MCA
@Pribumi_AntiPKI
Kalo Sudah ULAMA yg Dibunuh….saya bersumpah DEMI ALLAAH….
Saya akan BUNUH KEMBALI para Pelaku itu jika saya Menyaksikan Pembunuhan itu walau Pelakunya Orang Gila

Anti Rezim Reklamasi
@DivHumasPribumi
Nggak mungkin 2 orang “gila” di tempat berbeda dlm waktu berdekatan bisa akurat menyasar aniaya/bunuh Ulama!

Ini terencana!
Baca doktrin dajjal Komunis Gaya Baru berikut ini: pic.twitter.com/vj9loeVSzz

Kesimpulannya bahwa pernyataan pelaku penganiayaan terhadap para tokoh agama oleh orang gila masih perlu dikaji ulang berdasarkan kajian menurut tinjauan psikologis.

Yang berikutnya adalah tindakan penganiayaan terhadap Kyai dan tokoh agama ini merupakan bentuk teror yang dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa terganggu oleh keberadaan Islam itu sendiri.

Semua warga harus waspada karena bisa jadi ini ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu umat Islam harus melindungi para ulamanya. (hps:dari berbagai sumber)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *